Penetapan Hari Sastra Indonesia (HSI)

Untuk menggiatkan pesona sastra, menyebarluaskan apresiasi, dan memasyarakatkan pendidikan sastra, maka ditetapkanlah Hari Sastra Indonesia (HSI).

HSI ditetapkan untuk diperingati pada setiap tanggal 3 Juli. Ternyata ada proses dibalik penetapan tanggal tersebut.

Tanggal lahir pujangga dan sastrawan Abdoel Moeis pada 3 Juli 1883 ditetapkan sebagai Hari Sastra Indonesia (HSI).

Dalam acara Maklumat Hari Sastra Indonesia, di aula SMAN 2, Kota Bukittinggi Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 24 Maret lalu, dilakukan penetapan Hari Sastra Indonesia.

Penetapan Hari Sastra tersebut dilakukan Wakil Menteri Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti.

Terlihat pula ada puluhan sastrawan terkemuka Indonesia yang hadir dalam acara penetapan Hari Sastra Indonesia tersebut.

Untuk itu, ada baiknya ketika meninjau kembali tentang perjalanan hidup Bapak Abdoel Moeis yang tanggal kelahirannya dijadikan sebagai Hari Sastra Indonesia.

Abdoel Moeis lahir pada tanggal 3 Juli 1883 di Kota Bukittinggi Provinsi Sumatra Barat.

Tanggal lahir beliau dipilih sebagai hari sastra Indonesia karena beliau juga merupakan Pahlawan Kemerdekaan Nasional pertama dianugerahi Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

“Mulanya kami mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Namun tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai HSI,” kata tim penetapan.

Ide penetapan HSI berasal oleh sastrawan terkemuka Indonesia, seperti Ati Taufiq Ismail yang bertindak sebagai koordinator, Raudha Thaib, Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Rusli Marzuki Saria dan Taufiq Ismail.

Dalam penetapan hari kelahiran Abdoel Moeis, adalah sangat tepat, seperti diungkapkan oleh sastrawan senior Indonesia yaitu Taufiq Ismail:

“Abdoel Moeis dinilai paling aktif dalam pergerakan nasional pada berbagai bidang di zaman penjajahan Belanda”

Taufiq Ismail juga menyampaikan bahwa Abdoel Moeis memiliki banyak karya yang luar biasa seperti novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950) dan sejumlah terjemahan novel sastra dunia.

Di samping itu, dipilihnya SMA 2 Bukittinggi sebagai lokasi penetapan HSI karena merupakan sekolah yang sangat bersejarah, serta tempat bersemainya sastra modern Indonesia.

“Di tempat ini, SMA 2 juga merupakan tempat lahirnya sastrawan-sastrawan pujangga baru di Indonesia. Dahulu, SMA 2 disebut sekolah Radja atau Kweekscholl” demikian ditambahkan oleh sastrawan senior ini.