Pesan, Petuah, dan Kisah Sastrawan Taufiq Ismail

Pada tanggal 18 Juni lalu, di depan pelajar sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah, penyair dan sastrawan Taufik Ismail menyampaikan cara sukses menulis puisi dan karya sastra.

Dilihat dari perjalanan hidupnya, Taufik Ismail pernah dibesarkan di Kota Pekalongan Provinsi Jawa Tengah.

Beliau menyampaikan bahwa untuk menjadi sastrawan dan seniman terkenal tidaklah segampang dan seindah gambaran masyarakat secara umum.

Beliau menceritakan bahwa ketertarikan dirinya pada dunia sastra karena karya sastra bisa menjadi media menyampaikan aspirasi atau wadah guna mengungkapkan isi hatinya.

“Dulu waktu merintis karir menjadi seorang penulis ternyata tidak mudah hingga akhirnya diakuinya eksistensi dalam dunianya. Kami semenjak SMA sudah mulai menyenangi membaca karya sastra penyair kondang pada masanya,” katanya.

Beliau juga menambahkan, bahwa di samping itu semua, dengan media sastra menjadikan dirinya bebas berekspresi dalam bentuk tulisan.

“Waktu masih menjadi siswa SMA, kami juga mengirimkan tulisan pada media massa meski terkadang karyanya belum langsung dimuat.

“Bahkan tak jarang pula kami bahkan tidak jarang mendapat surat dari media cetak bahwa tulisannya belum bisa dimuat” beliau menambahkan.

Namun beliau mengaku dirinya tidak pernah putus asa saat karya tulisannya tidak dimuat pada media massa.

“Walau kami sudah sering dan berulangkali mengirim karya sastra ke media cetak, dan kenyataannya banyak yang tidak dimuat. Tapi kami tidak putus asa dan berusaha keras terus berkarya hingga akhirnya dapat dimuat sedangkan hasil karya yang dimuat tentunya disebarluaskan pada teman sekolah” beliau mengisahkan.

“Dulu kami mesti berjuang dengan tidak mengenal lelah supaya karya sastra dapat dimuat di media cetak dan akhirnya setelah dua tahun ternyata karya mulai dimuat.

“Oleh karena itu Kami bangga dengan dimuatnya karya sastra karena guru sekolah juga memberikan dorongan supaya terus berkarya agar membawa nama baik sekolah,” katanya.

Beliau mengisahkan dengan serius bahwa sebenarnya kemampuan untuk menulis sudah ada sejak dirinya menempuh jenjang pendidikan di SMP tetapi keberanian mengirim karya sastra baru dimulai saat duduk SMA.