Sastra Sebagai Sarana Dakwah yang Indah

Menurut Islam ciri utama umat beragama adalah akhlak yang mulia. Islam banyak sekali mengajarkan tentang keindahan dan sopan santun. Termasuk keindahan dalam bertutur kata.

Beberapa keindahan dalam bertutur kata tersebut dimiliki oleh para pujangga, sastrawan dan pencinta sastra. Beliau-beliau ini diberikan anugerah oleh Allah kemampuan dan keahlian untuk merangkai kata-kata menjadi indah dan berisi.

Karya para pujangga dan sastrawan itu akan selalu dikenang. Meskipun mereka telah wafat berpuluh-puluh tahun lalu. Salah satu contoh adalah karya Raja Ali Haji, lewat “Gurindam Dua Belas”.

Karya tersebut diciptakan pada 23 Rajab 1263 Hijriyah atau 1847 Masehi. Lebih satu abad yang lalu. Tapi karya tersebut sampai kini masih dikenang oleh masyarakat Indonesia.

Raja Ali Haji hanya merupakan salah satu dari sekian sastrawan dan pujangga yang dimiliki Indonesia. Masih banyak pujangga lain yang karya-karyanya begitu abadi dan dikenang hingga kini.

Melalui karya tulis, sastrawan telah menebar kebaikan dan dakwah kepada umat. Mereka tak ubahnya seperti dai, ulama, atau penceramah yang menyampaikan nilai-nilai agama lewat pidato dan ceramah-ceramah.

Hanya saja medium yang digunakan beda, yaitu karya sastra. Karya yang semacam ini sering disebut sebagai sastra Islam atau Islami. Sampai sekarang memang belum ada definisi baku tentang sastra Islam.

Ada pendapat dari seorang pengamat sastra bernama Liaw Yock Fang. Dia menyatakan bahwa belum jelas makna sastra Islam itu, apakah sastra yang mendukung nilai Islam ataukah sastra yang mengacu pada Alquran dan hadis.

Tapi Liaw memaknai sastra Islam secara sederhana, yakni sastra mengenai Muslimin dan segala amal saleh. Ia mengutip pendapat Roolvinck yang membagi sastra Islam menjadi lima jenis, yakni cerita Alquran, cerita Nabi Muhammad, cerita sahabat Rasulullah, cerita pahlawan Muslim, dan sastra kitab.

Di lain pihak ada Helvy Tiana Rosa yaitu pendiri Forum Lingkar Pena (FLP), menegaskan perbedaan antara sastra Islam dan Islami. Baginya, sastra Islam itu luas maknanya dan jangan disempitkan.

Waktu membawa kebaikan universal, itu sudah bernuansa Islam. Tapi, jangan salah membedakan antara sastra Islam dan Islami.

Kalau Sastra Islami merupakan yang bersifat Islam. Ada sebuah contoh, Kahlil gibran. Dia orang Kristen dari Lebanon, tapi puisinya bersifat Islami. Maka, karya-karyanya bisa disebut sastra Islami.

Helvy melanjutkan bahwa kalau sastra Islam, harus dikawal, perlu wawasan keislaman untuk menulisnya. Kalau sekadar Islami, sifat-sifat Islami itu universal.

Contoh sederhana adalah menepati janji, tepat waktu, ramah kepada orang lain, juga ajaran Islam. Namun, terlepas dari perbedaan definisi dan istilah.

Yang penting sastra merupakan medium dakwah yang cukup efektif. Jika dimanfaatkan, karya sastra bisa membawa pencerahan dan jalan hidayah bagi banyak orang.

Baru-baru ini niat kaum muda untuk menekuni dakwah lewat sastra ternyata sangat besar. Karena banyak munculnya banyak karya sastra, baik puisi, cerita pendek (cerpen), dan novel yang lahir dalam beberapa tahun terakhir.

Berikut adalah sedikit contoh dari karya sastra islami yaitu seorang sastrawan pujangga yang bernama Habiburrahman El-Shirazy.

Beliau adalah sastrawan muda Indonesia lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, itu berhasil meraih penghargaan terbaik di tingkat Asia Tenggara untuk beberapa karyanya seperti: Ayat-Ayat Cinta (AAC), Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 dan 2, Dalam Mihrab Cinta (DMC), Bumi Cinta, dan Cinta Suci Zahrana (CSZ).

Ada prestasi lain yang diraih oleh Habiburrahman, yaitu karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa lain. Tidak hanya dinikmati di Indonesia saja, tapi juga di Asia Tenggara dan Timur Tengah.