Legenda: “Banta Seudang” (Cerita Rakyat Aceh)

Lalu Banta melewati berbagai rintangan seorang diri menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, menaiki gunung, dan menuruni lembah-lembah.

Dia terus berusaha sampai berbulan-bulan lamanya. Hingga akhirnya sampai di sebuah hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar.

Akhirnya dia menemukan sebuah balai. Dan setelahnya memutuskan untuk melepas lelah di balai itu.

Ketika sedang merebahkan tubuhnya, tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.

‘Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati.

Dugaan Banta pun terbukti. Sebelum waktu Ashar tiba, ada beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu.

Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah.

Banta masih penasaran, dia hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut.

Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya.

Ternyata, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah.

Kemudian Banta dapat ide, dia kemudian berpikir akan mendekati imamnya ketika para Wali tersebut melaksanakan shalat.

Dia berkata: “Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang”

Kembali Banta menunggu kedatangan para Wali di Balai tersebut. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat.

Dengan sigapnya, Segera Banta Seudang duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya.

“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.

Banta menjawab: ‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.

“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.

“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.

“Lalu engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.

“Saya adalah Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,”

‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.

“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.

“Karena engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja.

Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.

Alangkah senang hati Banta Seudang mendapat petunjuk dari Wali itu.

Tidak berapa lama ia menunggu, tiba-tiba datanglah seekor gajah putih ke balai itu.

Sesaat kemudian Banta mendapat isyarat dari gajah itu, dia pun segera naik ke atas punggung gajah.

Sang gajah berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke sebuah lembah di mana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih airnya.

Di sana tepatnya pinggir sungai terdapat sebuah pohon besar yang dihuni oleh Jin Pari yang memiliki baju terbang.

Melihat kedatangan Banta bersama gajah putih itu, Jin Pari pun segera menyambut mereka.

“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.

Banta kemudian mengangguk dan menjawab iya.

“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.

Karena bingung, banta pun bertanya: “Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?”

Kemudian Jin Pari pun bercerita kepada Banta Seudang bahwa setiap jumat ada tujuh putri raja dari negeri lain datang ke sungai itu untuk mandi-mandi.

Untuk menjaga sungai itu, raja negeri lain menugaskan seorang perempuan tua bernama Mak Toyo.

Mak Toyo tinggal di sekitar sungai itu. Setiap kali ketujuh putri raja selesai mandi di sungai itu, Mak Toyo turun ke sungai untuk menepuk air tiga kali.

Setelah itu bunga ajaib ‘bangkawali’ akan muncul di atas permukaan air.

Kesimpulannya, bunga bangkawali hanya bisa terlihat pada setiap hari jumat sesuai Mak Toyo menepuk air tiga kali.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 2 | 3 | ... | Lanjutannya → | Akhir