Legenda: “Banta Seudang” (Cerita Rakyat Aceh)

Dia pun berkata: “Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!”

Setelah itu Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika.

Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya.

Sang ayah merangkul Banta dan berkata: “Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu.

Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula”

Banta pun berkata: “Seharusnya, Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu”

Beberapa saat sesudahnya Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari.

Karena sudah bisa melihat, sang Ayah pun berniat untuk merebut kembali kekuasaannya dari tangan adiknya.

Ayah lalu menyampaikan: “Ketahuilah, Anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini.

Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu.

Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita”

Alangkah terperanjatnya setelah Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya. Ia baru mengerti bahwa ternyata ayahnya adalah seorang raja.

Selama ini ia mengira bahwa pakciknya adalah seorang raja yang baik, karena telah memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tapi ternyata pakciknya adalah seorang raja yang licik dan serakah.

Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bangka Seudang pun berniat untuk membantu ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada ayahnya.

Begitu juga denngan Mak Toyo dan Jin Pari, setelah mendengar cerita ayah Banta Seudang, mereka pun siap untuk membantu.

Lalu pada esok hari, mereka pun berangkat ke istana. Ayah dan ibu Banta Seudang terbang bersama Jin Pari dengan menggunakan baju terbang.

Sedangkan Banta Seudang dan Mak Toyo menunggang gajah putih.

Ketika sampai di istana, betapa terkejutnya sang Raja saat melihat kedatangan sang Kakak bersama rombongannya.

Apalagi setelah mengetahui kedua mata kakaknya dapat melihat kembali.

Kakaknya berkata: “Hai, Adik! Engkau memang Adikku yang tidak tahu diri.

Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi Engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun.

Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!”

Adik ayah Banta yang sekarang Raja kemudian tertawa terbahak-bahak:

“Ha… ha… ha…! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja.

Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!”

Sementara itu Mak Toyo dan Jin Pari yang juga hadir di tempat itu sangat geram melihat keangkuhan sang Raja.

Sekarang mereka sudah tahu permasalahan yang sebenarnya, maka tanpa diperintah ayah Banta Seudang, mereka langsung menyerang sang Raja.

Hanya dengan satu pukulan saja, sang Raja pun jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di depan singgasananya.

Sedangkan para pengawal raja yang juga melihat peristiwa ini, tak seorang pun yang mau membantu sang Raja, karena mereka juga mengetahui keadaan sebenarnya.

Raja yang merupakan adik Ayah Banta pun pingsan karena kena pukulan. Tak lama kemudian dia pun sadar.

Tapi setelah itu dia diusir dari istana, termasuk keluarganya.

Setelah peristiwa tersebut, Ayah Banta Seudang pun segera kembali menjadi raja menggantikan adiknya yang serakah dan angkuh itu.

Sekarang Banta Seudang bersama keluarganya kembali tinggal di istana. Di samping itu Banta pun sudah bisa sekolah.

Di lain pihak, ternyata Mak Toyo dan Jin Pari tidak kembali lagi ke tempat mereka semula,

karena Banta Seudang dan Ayahnya memberi kepercayaan kepada mereka untuk menjadi pengawal istana.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 3 | 4 | Akhir