Legenda: “Timun Mas” (Cerita Rakyat Jawa Tengah)

Berikut adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Jawa Tengah yaitu legenda “Timun Mas” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Alkisah, dahulu pada suatu masa. Di sebuah desa yang dekat dengan hutan terdapatlah sepasang suami istri yang hidup sebagai petani.

Walau hidup sederhana, tapi mereka memiliki hidup yang tentram dan sejahtera. Setiap hari dilalui dengan kebersamaan dan saling mengisi.

Tapi ada satu hal yang mengganjal di hati suami dan istri tersebut. Sampai saat ini mereka belum dikaruniai keturunan atau anak.

Namun mereka tetap tidak pernah menyerah, dan selalu berusaha maksimal. Juga setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa.

Mereka berdoa agar segera diberikan seorang anak.

Tanpa disadari, pada suatu ketika, kebetulan ada seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa ini memiliki kepandaian dan keahlian yang bagus.

Tiba-tiba raksasa itu berjalan pelan, dan raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Sejenak raksasa terdiam, dia pun merenung dalam hati dan juga berfikir.

Dengan ramahnya sang raksasa mengetuk pintu dan mulai berbicara dengan suami istri tadi. Tak ada rasa takut sedikit pun pada sang raksasa.

Tidak berapa lama kemudian, sang raksasa tersebut lalu memutuskan untuk memberi biji mentimun kepada sepasang suami istri tersebut.

Kemudian sang raksasa bicara dengan nada bersahaja dan bersahabat: “Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan”

Dengan wajah gembira dan penuh harap, suami istri tersebut lalu menjawab: “Terima kasih, Raksasa,”

“Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa.

Setelah mendengar kata-kata raksasa, mereka terdiam sejenak. Karena suami istri itu sangat merindukan seorang anak.

Lalu tanpa banyak kata-kata akhirnya mereka menyetujui syarat tersebut.

Dengan segera lalu suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu.

Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin.

Setelah sekian bulan, kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan. Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat.

Sampailah waktunya buah itu masak, mereka kemudian memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu.

Ada hal yang ajaib terjadi. Alangkah terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik.

Mendapati hal itu, Suami istri itu merasa sangat bahagia. Lalu mereka menggendong sang bayi dengan penuh kasih sayang.

Masih terlihat aura bahagia pada raut wajah mereka. Maka tak lama kemudian, mereka memberikan nama yang cocok buat sang bayi, yaitu Timun Mas.

Lalu mereka merawat dan mengasuh sang bayi. Bulan demi bulan dilalui dengan indah. Sekarang hidup mereka menjadi sangat bahagia.

Tanpa terasa sudah beberapa tahun sudah dilewati. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya.

Namun di dalam hati, mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali.

Pada suatu hari ketika Timun mas sudah berusia 17 tahun, akhirnya datanglah sang raksasa ke rumah mereka.

Tidak ada wajah yang seram terlihat dari raut muka raksasa. Walau pun akan menagih janji yaitu menjemput Timun Mas.

Suami petani ini pun menjawab dengan tenang: “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya”

Kemudian setelah itu sang ayah pun segera menemui anaknya dan berkata dengan sungguh-sungguh: “Anakkku, ambillah ini,”

Sang ayah lalu menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya.

Sesaat sesudah ini, dengan segera, maka Timun Mas pun segera pergi melarikan diri.

Sebagai anak yang baik, sebelum berangkat dia mohon ijin pamit pada orang tuanya.

Akhirnya mereka hanya bisa memandang anaknya berangkat menjauh. Dalam hati, sepasang suami istri petani ini merasa sangat sedih setelah kepergian Timun Mas.

Mereka serba salah dan dilema. Di satu sisi tidak mau melepas kepergian anak.

Di sisi lain mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa.

Sementara itu raksasa sudah menunggu cukup lama.

Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu.

Beberapa saat kemudian raksasa lalu menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir