Legenda: “Tujuh Anak Lelaki” (Cerita Rakyat Aceh)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu Legenda “Tujuh Anak Lelaki” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Pada suatu zaman di negeri Aceh ada sebuah kampung.

Disana terdapat sepasang suami-istri yang mempunyai anak sangat banyak yaitu tujuh orang anak laki-laki yang masih kecil.

Usia mereka cukup rapat, yang sulung paling tua berumur sepuluh tahun, sedangkan yang paling bungsu berumur dua tahun.

  • Atas AsliMinang

    ~~~~~~~
    Sastrawan Hebat Banyak Berasal dari Minangkabau Sumatera Barat, begini generasi mereka kini
    ~~~~~
  • ~

Mereka bekerja setiap hari untuk kebutuhan hidup mereka, sepasang suami-istri tersebut bercocok tanamsayur-sayuran untuk dimakan sehari-hari dan sisanya dijual ke pasar.

Walau hidup sangatlah sederhana, tapi mereka merasa bahagia karena setiap hari selalu rukun, damai, dan tenteram.

Kedamaian mereka pun terusik. Karena tanpa diduga kampung mereka dilanda musim kemarau yang sangat panjang.

Akibatnya segala tumbuhan mati karena kekeringan.

Kebanyakan warga juga mulai kekurangan makanan.

Lalu persediaan makanan mereka semakin hari semakin menipis, sementara musim kemarau tidak juga berhenti.

Hingga kemudian semua penduduk kampung mengalami musibah kelaparan, termasuk keluarga sepasang suami-istri bersama tujuh orang anaknya itu.

Karena situasi yang sangat susah, sepasang suami-istri tersebut menjadi panik.

Tanaman sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka tidak lagi tumbuh.

Mereka pun sadar karena tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali menanam sayur-sayuran di kebun.

Mereka sudah berpikir keras mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut, tapi tidak menemukan jalan keluarnya.

Lalu kemudian, dengan berat hati, mereka berniat untuk membuang ketujuh anak mereka ke sebuah hutan yang letaknya jauh dari perkampungan.

Hingga pada suatu malam, ketika ketujuh anaknya sedang tertidur pulas, keduanya bermusyawarah untuk mencari cara membuang ketujuh anak mereka.

Mereka pun mencari cara supaya tidak tahu oleh anak-anak bahwa mereka akan dibuang.

Sang suami pun berkata: “Besok pagi anak-anak kita ajak pergi mencari kayu bakar ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh.

Pada saat mereka beristirahat makan siang, kita berpura-pura mencari air minum di sungai”.

Ternyata, tanpa mereka sadari, rupanya anak ketiga mereka yang pada waktu itu belum tidur mendengar semua pembicaraan mereka.

Lalu pada esok hari, berangktlah sepasang suami-istri itu dan mengajak ketujuh putranya ke hutan untuk mencari kayu bakar.

Ketika sampai di hutan yang terdekat, sang Ayah pun berucap: “Anak-anakku semua!

Sebaiknya kita cari hutan yang luas dan banyak pohonnya, supaya kita bisa mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak lagi.

Ketujuh anak dengan kompak mengiyakan kata-kata sang ayah. Mereka menjawab dengan serentak.

Mereka pun kemudian berjalan cukup jauh, lalu sampailah mereka di sebuah hutan yang amat luas.

Alangkah gembiranya mereka, karena di hutan itu terdapat banyak kayu bakar.

Lalu mereka segera mengumpulkan kayu bakar yang banyak berserakan.

Ketika hari menjelang siang, sang Ibu pun mengajak ketujuh anaknya untuk beristirahat melepas lelah setelah hampir setengah hari bekerja.

Di waktu itu pun, sepasang suami istri itu ingin mulai menjalankan recananya yaitu meninggalkan ketujuh anak mereka di tengah hutan itu.

Sang ayah pun berkata: “Wahai anak-anakku! Kalian semua beristirahatlah di sini dulu.

Aku dan ibu kalian ingin mencari sungai di sekitar hutan ini, karena persediaan air minum kita sudah habis.

Kembali ketujuh anak dengan kompak mengiyakan kata-kata sang ayah. Mereka menjawab dengan serentak.

Sesaat setelah itu, tiba-tiba si bungsu berkata supaya Ayah Ibunya jangan pergi lama-lama.

Sang Ayah dan Ibu pun menjawab dengan mengiyakan bahwa mereka tidak akan pergi lama.

Waktu pun berlalu, sudah sekian lama menunggu dan kedua orangtua mereka belum juga kembali, ketujuh anak itu mulai gelisah.

Semuanya cemas dan khawatir jika kedua orangtua mereka mendapat musibah.

Hingga kemudian si sulung pun mengajak keenam adiknya untuk pergi menyusul kedua orangtua mereka.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | ... | Lanjutannya → | Akhir