Legenda: “Si Parkit Raja Parakeet” (Cerita Rakyat Aceh)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu Legenda “Si Parkit Raja Parakeet” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering juga dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Masyarakat Aceh mempunyai daerah bermukim yang indah. Salah satunya adalah hutan yang sangat kaya kandungan isinya.

Berdasarkan cerita rakyat, pada sebuah hutan terdapat banyak burung parakeet yang hidup bersama.

Mereka sangat berbahagia menikmati kekayaan alam dan kebebasan sebagai mahluk hidup.

Sebagai burung yang selalu senang, mereka sering bernyanyi dengan suara merdu. Mereka juga suka bergotong royong dan saling asah, asih, dan asuh.

Karena hubungan mereka sangat erat, bisa dikatakan mereka memiliki sebuah kerajaan burung parakeet. Raja mereka bernama si Parkit.

Suatu ketika, tanpa diduga kebahagiaan mereka terusik oleh kedatangan seorang Pemburu.

Dia berniat menangkap dan menjual burung parakeet tersebut.

Kemudian si Pemburu itu mendekati kawanan burung parakeet itu, lalu memasang perekat di sekitar sarang-sarangnya.

Supaya ketika keluar sarang, para burung akan terperangkap.

Dia pun bergumam bahwa dia akan kaya seandainya bisa menangkan dan menjual kawanan burung parakeet yang banyak tersebut.

Ketika bergumam, ternyata didengar oleh sebagian burung parakeet, sehingga mereka menjadi ketakutan.

Kemudian kelompok burung tersebut berkicau-kicau untuk mengingatkan antara sesama burung yang merupakan saudara mereka sendiri.

Mereka pun tahu bahwa ada bahaya yang mengancam, dan tidak berani untuk keluar sarang.

Tapi karena terpaksa harus mencari makan, burung-burung parakeet itu pun keluar dari sarangnya.

Sayang sekali, ternyata yang ditakutkan burung-burung parakeet itu pun terjadi. Musibah pun terjadi burung-burung parakeet itu terjabak pada perekat si Pemburu.

Burung-burung tersebut meronta-ronta untuk melepaskan diri dari perekat, tapi usaha mereka sia-sia, karena mereka tidak bisa lepas dari perekat tersebut.

Kemudian semua burung parakeet tersebut menjadi panik dan bingung, tapi tidak demikian dengan sang pemimpin yaitu Raja burung parakeet yang bernama si Parkit.

Dengan bijaksananya, Parkit pun berbicara dengan lantang dan meminta semua rakyatnya untuk tenang.

Sang raja pun menyampaikan bahwa jebakan ini adalah berupa perekat yang dipasang si Pemburu. Artinya pemburu ingin menangkap burung hidup-hidup.

Kesimpulannya, seandainya semua burung mati, maka pemburu itu tidak akan mengambil bangkai burung yang mati.

Lalu si Parkit memerintahkan supaya semua burung yang terjebak untuk pura-pura mati. Sang Raja menginstruksikan:

“Besok, setelah si Pemburu melepaskan kita dari perekat yang dipasangnya, dia akan memeriksa kita satu per satu.

Bila dilihatnya kita telah mati, maka dia akan meninggalkan kita di sini.

Tunggu sampai hitunganku yang ke seratus agar kita dapat terbang secara bersama-sama!”

Besok harinya, si Pemburu pun datang. Dengan sangat hati-hati, si Pemburu melepaskan burung parakeet tersebut satu persatu dari perekatnya.

Ia sangat kecewa, karena tak satu pun burung parakeet yang bergerak.

Dia menyangka burung parakeet tersebut telah mati semua, lalu dia membiarkannya.

Dengan rasa kesal, si Pemburu berjalan seenaknya, tiba-tiba ia jatuh terpeleset.

Kemudian kawanan burung parakeet yang berpura-pura mati di sekitarnya pun kaget dan terbang dengan seketika tanpa menunggu hitungan dari si Parkit.

Setelah itu sang Pemburu pun berdiri kaget, karena ia merasa telah ditipu oleh kawanan burung parakeet itu.

Tapi dia masih bisa tersenyum, karena melihat ada seekor burung parakeet yang masih melekat pada perekatnya.

Kemudian pemburu menghampiri burung parakeet tersebut, yang tidak lain adalah si Parkit.

“Kamu akan kubunuh!”, bentak si Pemburu dengan marah.

Si Parkit menjadi ketakutan mendengar bentakan si Pemburu.

Tidak mau kehilangan akal, Si Parkit yang cerdik segera berpikir untuk menyelematkan diri, karena ia tidak mau dibunuh oleh si Pemburu itu.

“Ampuni hamba, Tuan! Jangan bunuh hamba! Lepaskan hamba, Tuan!” pinta si Parkit.

“Enak saja! Kamu dan teman-temanmu telah me­nipuku.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | ... | Lanjutannya → | Akhir