Pantun Melayu Deli (Bagian 1)

Suku Melayu Deli sebagian besar berada di Provinsi Sumatera Utara dan mempunyai kebudayaan dan sastra sendiri.

Mereka mempunyai kebiasaan dan adat yang dijaga turun temurun. Salah satunya adalah Pantun Melayu Deli.

Orang Melayu Deli banyak berada di Kabupaten Deli Serdang, kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Sumatera Utara, serta di sepanjang pantai timur pulau sumatera.

Berikut adalah kumpulan beberapa Pantun Melayu Deli, yang dilantunkan dalam bahasa Melayu Deli:

Tuailah padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intailah kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan

Sirih berlipat sirih pinang
Sirih dari Pulau Mutiara
Pemanis kata selamat datang
Awal Bismillah pembuka bicara

Selat melaka lautnya tenang
Disitu lah banyak berlabuh perahu bugis
Orang yang jauh jangan dikenang
Kalau dikenang, menangis, tentu menangis

Tetak buluh panjang suluh
Mari jolok sarang penyengat
Angkat doa jari sepuluh
Doa minta biar selamat

salnya kapas menjadi benang
Benang ditenun hai kain menjadi kain
Orang dilepas jangan dikenang
Sudah menjadi hai lain, si orang lain

Sayang musalmah memakai sanggul
Turun ke sawah menanam padi
Emas sekoyan dapat kupikul
Aku tak sanggup menanggung budi

Hendak dulang diberi dulang
Dulang berisi sagu mentah
Hendak pulang ku beri pulang
Tinggalkan pantun barang sepatah

Turun ke sawah menanam padi
Hendak dijual ke pekan lama
Jangan selalu menanggung budi
Keraplah kali menjadi bencana

Ayam hutan terbang ke hutan
Tali tersangkut pagar berduri
Adik bukan saudara bukan
Hati tersangkut kerana budi

Ayam rintik di pinggir hutan
Nampak dari tepi telaga
Nama yang baik jadi ingatan
Seribu tahun terkenang juga

Bila memandang ke muka laut
Nampak sampan mudik ke hulu
Bila terkenang mulut menyebut
Budi yang baik ingat selalu

Burung Serindit terbang melayang
Mari hinggap di ranting mati
Bukan ringgit dipandang orang
Budi bahasa rangkaian hati

Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon kayu
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah adat pusaka Melayu

Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di rumpun buluh
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah menyusun jari sepuluh

Laksamana berempat di atas pentas
Cukup berlima dengan gurunya
Bagaikan dakwat dengan kertas
Sudah berjumpa dengan jodohnya

Membeli papan di tengah pekan
Papan kecil dibuat tangkal
Mengapa umpan ikan tak makan
Adakah kail panjang sejengkal

Lancang kuning lancang pusaka
Nampak dari Tanjung Puan
Kalau kering laut Melaka
Barulah saya lupakan tuan

Rumah limas anjung Selatan
Bunga kemuning tumbuh di laman
Tangkainya emas bunganya intan
Bolehkah ranting hamba patahkan

Asam kandis mari dihiris
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Lebih manis hati budinya