Acep Zam Zam Noor (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Acep Zam Zam Noor dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan tahun 2000.

Sastrawan ini lahir tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Riwayat pendidikan Acep dimulai dari Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Kemudian melanjutkan ke SMP.

Masa kecil Acep sampai remaja dilalui dengan indah di pondok pesantren.

Kepenyairannya lahir di Cipasung, tepatnya di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Karena dilahirkan dan dibesarkan di pondok pesantren,  nuansa keislaman dalam karyanya sangat terasa.

“Cipasung” adalah sebuah puisi yang ditulisnya. Puisi itu menggambarkan keadaan desa yang tenang dan damai dengan nuansa islami yang kental.

Selain nuansa keislaman, nuansa Jawa Barat juga sangat terasa. Beberapa puisinya ada yang ditulis dengan menggunakan bahasa Sunda.

Di Pondok Pesantren Cipasung pula, Acep mendirikan komunitas sastra, yaitu Sanggar Sastra Tasik dan Komunitas Azan, yang bergerak dalam pembinaan dan pemasyarakatan sastra, khususnya, dan kesenian serta kebudayaan, pada umumnya.

Meskipun ayah Acep Zam Zam Noor seorang ulama Nahdlatul Ulama yang terkenal di Pondok Pesantren Cipasung,  Acep tidak mengikuti jejak ayahnya.

Dia lebih memilih jalur kesenian sebagai jalan hidupnya.

Waktu masih sebagai pelajar SMP, bakat menulis Acep kian tampak. Pada awalnya, dia menulis puisi dengan menggunakan bahasa Sunda.

Disamping itu ia menulis puisi dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Puisi pertama yang ditulis kemudian dimuat dalam media massa yang terbit di Bandung dan Jakarta. Bakat menulisnya terus berkembang.

Kemudian setelah menamatkan bangku SMA di Pondok Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta, Acep melanjutkan sekolah di Bandung.

Acep yang mengenyam kuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB kian bersemangat untuk menulis.

Acep tidak hanya menulis puisi, tetapi juga melukis dan ikut aktif terlibat dalam klub diskusi kesenian.

Setelah menamatkan kuliah di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (1980—1987), Acep tetap berkesenian.

Tahun 1991—1993, Acep mendapat bea siswa dari pemerintah Italia untuk belajar di Universitas Stranieri, Perugia, Italia.

Antara melukis dan menulis puisi bagi Acep merupakan satu kesatuan dalam kehidupan yang tidak dapat dipisahkan.

Di sela-sela kesibukan menulis puisi dan mengikuti pameran di beberapa tempat, Acep juga sibuk membimbing penulis muda untuk terus menulis di sanggarnya di Cipasung, Tasikmalaya.

Kegiatan lainnya, selain menulis puisi dan mengikuti beberapa pameran, Acep juga menjadi pendamping delegasi Indonesia dalam Bengkel Puisi Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Jakarta tahun 1977.

Lalu pada tahun 2001 mengikuti Festival Puisi Internasional Winternachten Overzee di Teater Utan Kayu, Jakarta,

dan mengikuti  acara Southeast Asian Writers Meet di Kulala Lumpur tahun 2002,  mengikuti Festival Puisi Internasional di Makassar,

dan mengikuti kegiatan di Den Haag, Belanda, tahun 2004.

Karya-karya Acep Zam Zam Noor:

  1. Tamparlah Muka (1982)
  2. Aku Kini Doa (1986)
  3. Kasidah Sunyi (1989)
  4. Dayeuh Matapoe (puisi Sunda, 1993)
  5. Dari Kota Hujan (1996)
  6. Di Luar Kota (1996)
  7. Di Atas Umbria (1999)
  8. Dongeng dari Negeri Sembako (2001)
  9. Jalan Menuju Rumahku (2004)

Selain kumpulan puisi yang telah diterbitkan, karya puisi Acep juga ada yang pernah dimuat dalam majalah sastra dan jurnal, seperti majalah Horison,

Kalam, Ulumul Qur’an, Jurnal Puisi, Dewan Sastra Jurnal Puisi Melayu (Malaysia), dan Perisa.

Beberapa karya puisinya juga telah dimuat dalam beberapa antologi, seperti:

  1.  Antologi Puisi Indonesia Modern Tonggak IV (Gramedia, 1987)
  2. Dari Negeri Poci II (Tiara, 1994)
  3. Ketika Kata Ketika Warna (Yayasan Ananda, 1995)
  4. Takbir Para Penyair (Festival Istiqal, 1995)
  5. Negeri Bayang-Bayang (Festival Surabaya, 1996)
  6. Cermin Alam (Taman Budaya Jabar, 1996)
  7. Utan Kayu: Tafsir dalam Permainan (Kalam, 1998)
  8. Angkatan 2000 (Gramedia, 2001)
  9. Dari Fansuri ke Handayani (Horison, 2001)
  10. Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002)
  11. Napas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004)

Selain karya puisi yang ditulisnya bertema religius dan sosial, Acep Zam Zam Noor juga menulis puisi cinta yang romantis.

Antologi puisinya yang berjudul Menjadi Penyair Lagi (Penerbit Pustala Azan, 2007) mewakili tren “puisi romantis”.

Antologi ini dibagi dalam dua kelompok. Kelompok 1 berisis puisi lama (1978—1989) yang menurut  Acep “sempat tercecer dan terlupakan” selama ini.

Sebagian lagi berisi puisi barunya (1990—2006).

Puisinya juga  telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yang dimuat dalam The Poets Chant (Jakarta, 1995), In Words in Colour (Jakarta, 1995),

A Bonsai’s Morning (Bali, 1996), serta diterjemahkan oleh Harry Aveling untuk Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1996—1998 (Ohio University Press, 2001)

dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda serta dimuat dalam Toekomstdromen (Amsterdam, 2004).

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir