Amir Hamzah (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Amir Hamzah dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan Pujangga Baru.

Sastrawan hebat ini dilahirkan pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara.

Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah, tetapi biasa dipanggil Amir Hamzah.

Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam.

Riwayat pendidikan beliau diawali dengan menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916.

Kemudian pada tahun 1924 beliau masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan.

Setahun kemudian ia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertama pada tahun 1927.

Kemudian beliau melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat.

Setelah itu beliau kembali lagi ke Jakarta dan masuk sekolah hakim tinggi hingga meraih sarjana muda hukum.

Amir Hamzah memiliki paman yang bernama Machmud yaitu Sultan Langkat yang berkedudukan di ibu kota Tanjung Pura, yang memerintah tahun 1927-1941.

Ayahnya, Tengku Muhammad Adil (yang tidak lain adalah saudara Sultan Machmud sendiri), menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur.

Lalu pada tanggal 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai.

Ketika itu Amir sebagai juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai.

Waktu Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang.

Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia.

Kemudian Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung.

Kemudian hari, terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revuolusi sosial.

Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.

Amir Hamzah tidak dapat dipisahkan dari kesastraan Melayu. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam dirinya mengalir bakat kepenyairan yang kuat.

Buah Rindu adalah kumpulan puisi pertamanya yang menandai awal kariernya sebagai penyair.

Puncak kematangannya sebagai penyair terlihat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur.

Selain menulis puisi, Amir Hamzah juga menerjemahkan buku Bagawat Gita.

Karya-karya Amir Hamzah:

  1. Sastra Melajoe Lama dan Radja-Rajdanja . Medan: Tjerdas. 1942
  2. Njanji Sunji (antologi puisi). Jakarta: Poedjangga Baroe. 1937.
  3. Buah Rindu (antologi puisi). Jakarta: Poedjangga Baroe. 1939.
  4. Setanggi Timur (antologi puisi). Jakarta: Poedjangga Baroe. 1939.

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan