Anak Agung Pandji Tisna (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Anak Agung Pandji Tisna dikelompokkan sebagai sastrawan angkatan Pujangga Baru.

Sastrawan ini lahir pada tanggal 11 Februari 1908 di Buleleng, Bali, dalam lingkungna keluarga kerajaan.

Nama aslinya adalah I Gusti Njoman Pandji Tisna.

Namun sejak tahun 1938 namanya diganti jadi Anak Agung Pandji Tisna.

Beliau adalah keturunan ke-11 dari dinasti raja Buleleng di Bali Utara, Anglurah Pandji Sakti.

Orangtuanya adalah AA Putu Djelantik dengan istrinya Jero Mekele Rengga.

Ia sendiri pernah mempunyai empat orang istri, yaitu Anak Agung Istri Manik, Ni Ketut Mayas (Jero Mekele Seroja), Luh Sayang (Mekele Sadpada), dan Jro Mekele Resmi. Memiliki 13 anak

Ketika dia lahir, Buleleng berada di bawah pemerintahan Belanda sejak 1872.

Walau ayahnya hanya diangkat sebagai administratur oleh Pemerintah Belanda, namun Anak Agung Putu Djelantik adalah pewaris tahta kerajaan.

Pandji Tisna lahir dalam budaya dan kepercayaan Hindu-Bali, serta tumbuh di istana kerajaan Singaraja, di mana ia mengalami dan menyaksikan sendiri kekayaan artistik istana.

Pandji Tisna belajar di sekolah menengah Belanda, mula-mula di Singaraja, kemudian dilanjutkan di Batavia (Jakarta).

Sekolahnya tidak dilanjutkan, lalu ia kembali ke Singaraja, bekerja membantu ayahnya sebagai sekretaris pribadi.

Pada tahun 1929, Pandji Tisna dikirim ayahnya ke Lombok, sebuah pulau di dekat Bali, di mana ia tinggal di sana sampai 1934, mengurus bisnis transportasi ayahnya.

Kemudian dia kembali lagi ke Singaraja, Pandji Tisna pindah ke desa kecil di luar kota Singaraja dan mengelola perkebunan kelapa serta usaha ekspor kopra.

Tampaknya kehidupan pedesaan lebih disukainya daripada kehidupan istana.

Selain bahasa Bali, Ia belajar bahasa Belanda saat bersekolah. Bahasa Melayu atau bahasa Indonesia adalah bahasa ketiga yang dipelajarinya di sekolah sebagai bahasa “asing” ketika ia berumur 12 tahun.

Walaupun dia mencintai adat dan tradisi Bali, Pandji Tisna banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam penulisan karyanya.

Kemudian sejak tahun 1935, ia bertekad menjadi penulis yang menghasilkan novel dalam bahasa Indonesia, yakni Ni Rawit, Ceti Penjual Orang,

dilanjutkan dengan Sukreni Gadis Bali, ”I Swasta: Setahun di Bedahulu”, dan ”Dewi Karuna: Salah Satu Jalan Pengembara Dunia”.

Karya-karya Pandji Tisna yang menampilkan budaya dan tradisi Bali ini memberikan warna baru bagi khazanah kesusasteraan Indonesia pada masa itu yang lebih didominasi kesusasteraan Sumatera.

Pada 1942, Jepang menyerang dan mengambil alih hampir semua bekas jajahan Belanda di Hindia, termasuk Bali.

Pada saat itu, Pandji Tisna hidup tenang di pedesaan Singaraja hingga tahun 1944, ketika dia ditangkap oleh militer Jepang karena dicurigai melakukan kegiatan anti-Jepang.

Tidak lama kemudian ia dibebaskan, namun Jepang telah menghancurkan perpustakaannya yang memiliki banyak koleksi buku berbahasa asing.

Menjelang takluknya Jepang, ayah Pandji Tisna meninggal, yaitu pada tahun 1945.

Sebagai putra sulung, ia mewarisi takhtanya dari ayahnya, Anak Agung Putu Djelantik, pemimpin Buleleng, wilayah di bagian utara Bali pada 1944.

Melalui buku karangannya sendiri yang berjudul I Made Widiadi, pada halaman terakhir disebutkan bahwa ia sejak semula tidak mau diangkat raja.

Karena tentara pendudukan Jepang memerlukan, maka dengan dipaksa ia diangkat sebagai “syucho”.

Setelah Jepang menyerah, yaitu menjelang akhir tahun 1945, Pandji Tisna menjadi Ketua Dewan Raja-raja se-Bali (Paruman Agung),

yang beranggotakan delapan pemimpin wilayah Bali, dan menjadi pemimpin Bali pada saat itu yang setara dengan jabatan gubernur.

Tapi sayang, pada awal tahun 1946, pada usia 38 tahun, Anak Agung Pandji Tisna berpindah agama, dari beragama Hindu menjadi beragama Kristen,

sebuah tindakan yang berbeda di tengah masyarakat Bali yang umumnya beragama Hindu dan memandang agama sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan etnisitas.

Karena itu, ia sendiri menulis bahwa karena ia beragama Kristen sementara masyarakatnya beragama Hindu, ia tidak cocok menjadi raja Buleleng.

Setelah takhta kerajaan berpindah. Kedudukan raja dilanjutkan oleh adiknya Anak Agung Ngurah Ketut Djelantik atau I Gusti Ketut Djelantik

yang dikenal dengan nama Meester Djelantik sampai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949 dan Anak Agung Ketut Djelantik menjadi raja Buleleng terakhir.

Anak Agung Pandji Tisna meninggal dunia 2 Juni 1978 dan dikuburkan di tanah pekuburan pribadinya di atas sebuah bukit di desa Seraya – Kaliasem.

Karya-karya Anak Agung Pandji Tisna:

  1. I Made Widiadi (Kembali Kepada Tuhan) (1955)
  2. I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
  3. Sukreni Gadis Bali (1936) (pertama-tama terbit dalam bahasa Bali, kini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa lain) yaitu: “Bali Taruniyan Dedenekuge Kathawa”, edisi bahasa Sinhala terj. Dr. P. G. Punchihewa. Serta dengan judul “The Rape of Sukreni”, edisi bahasa Inggris, terj. George Quinn
  4. Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
  5. “Panglajar djadi tjoelik”, (1940) terjemahan bahasa Sunda oleh Soerjana

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir