Armijn Pane (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Armijn Pane dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan Pujangga Baru. Kalau menurut Prof. Dr. Teeuw, Armijn Pane adalah pelopor Angkatan 45.

Sastrawan ini dilahirkan tanggal 18 Agustus 1908 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

Riwayat pendidikan Armijn Pane diawali dengan sekolah di Hollandsislandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjung Balai.

Setelah itu beliau masuk Europese Lagere School (ELS), yaitu pendidikan untuk anak Belanda di Sibolga dan Bukittinggi.

Lalu pada tahun 1923 beliau menjadi studen stovia (sekolah kedokteran) di Jakarta. Tapi beliau tidak melanjutkannya.

Hingga pada tahun 1927 ia pindah ke Nederlands-Indische Artsenschool (Nias) ‘sekolah kedokteran’ (Nias) yang didirikan tahun 1913 di Surabaya.

Jiwa seninya tidak dapat dikendalikan sehingga ia masuk ke AMS bagian AI Jurusan Bahasa dan Kesusastraan di Surakarta (Solo) hingga tamat tahun 1931.

Selama belajar di Kota Surakarta, beliau ikut aktif dengan organisasi pemuda nasional yakni Indonesia Muda, tapi bidang politik tampaknya kurang menarik minatnya daripada kesusasteraan.

Beliau juga pernah menjadi guru bahasa dan sejarah di perguruan Taman Siswa di Kediri dan di Jakarta.

Oleh karena itu, salah seorang tokoh Taman Siswa, Pak Said, atas nama seluruh warga Taman Siswa menyampaikan penghargaan atas jasa almarhum dalam upacara pemakamannya.

Berdasar pada pengalamannya sebagai studen kedokteran (Stovia) di Jakarta dan Surabaya melatarbelakangi ciptaannya yang tokohnya seorang dokter, seperti dr. Sukartono, dalam novel Belenggu dan dr. Abidin dalam drama Antara Bumi dan Langit.

Dalam kedua cerita itu tidak tampak hal-hal yang mendasar ilmu kedokteran yang dimiliki tokoh karena yang ditonjolkan perilaku tokoh dokter.

Hal itu mungkin disebabkan ia pernah bersekolah di kedokteran, tetapi tidak tamat, sehingga beliau tidak  menghayati segala hal yang berhubungan dengan ilmu kedokteran.

Armijn Pane tidak tertarik oleh dunia kedokteran, tetapi tertarik dunia seni.

Untuk itu, beliau mampu menamatkan pendidikannya di AMS AI (Jurusan Kebudayaan Timur) di Surakarta (Solo).

Hingga pada tahun 1949 Armijn Pane kembali ke Jakarta dari pengungsiannya di Yogyakarta.

Setibanya Armijn Pane di Jakarta, beliau masuk di bidang penerbitan.

Armijn Pane mengasuh majalah Indonesia yang berisi 124 halaman sejak Februari 1955 bersama Mr. St. Moh. Syah dan Boeyoeng Saleh.

Armijn menulis Produksi Film Cerita di Indonesia setebal 112 halaman dalam majalah itu.

Selain itu beliau juga memimpin majalah Kebudayaan Timur yang dikeluarkan oleh kantor Pendidikan Kebudayaan.

Di dalam dunia sandiwara, ia merupakan anggota terkemuka gabungan usaha sandiwara Jawa, di samping sebagai Ketua Muda Angkatan Baru, perkumpulan seniman di kantor kebudayaan itu.

Beliau mengawali kariernya sebagai pengarang dan sastrawan ketika ia menjadi wartawan dan sebagai guru di Pendidikan Taman Siswa.

Ia pernah mengajar bahasa dan sejarah di Sekolah Taman Siswa di Kendiri, kemudian di Jakarta.

Kariernya dalam bidang penerbitan dirintis di Balai Pustaka, sebagai pegawai. Tahun 1936 Armijn diangkat menjadi redaktur.

Pada zaman Jepang ia menjabat Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Jakarta.

Selain itu pada tahun 1938 beliau menjadi Sekretaris Kongres Bahasa Indonesia.

Beliau juga merupakan penganjur Balai Bahasa Indonesia dan di zaman Jepang ia menjadi anggota komisi istilah.

Dalam dunia organisasi kebudayaan/kesastraan, Armijn Pane juga aktif dan menjadi Sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI).

Kemudian beliau menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) setelah tahun 1950.

Dalam penerbitan, Armijn Pane tidak hanya berkecimpung dalam majalah Pujangga Baru, tetapi juga menjadi anggota dewan redaksi majalah Indonesia.

Dalam dunia film, Armijn aktif sebagai anggota sensor film (1950—1955). Atas jasanya dalam bidang seni (sastra), maka beliau memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah tahun 1969.

Dalam menjalani tugasnya, baik di zaman Belanda, zaman Jepang, maupun zaman republik, Armijn sering menyaksikan hal yang tidak beres yang menusuk hati nuraninya.

Ketika menjadi Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan, atasannya yang merupakan orang Jepang, menunjukkan majalah yang bersisi berita tentang dilancarkannya armada Jepang oleh armada Sekutu di sekitar Morotai. Jepang meminta Armijn agar membuat beritanya.

Karena Armijn seorang yang polos, jujur, dan tidak pernah mengubah fakta, maka dibuatnya laporan.

Tapi akibatnya, beliau harus berhadapan dengan kempetai sehingga menderita lahir dan batin akibat perlakukan kasar kempetai yang kemungkinan ingin menguji keberpihakan  Armijn.

Hal itu  merupakan salah satu pengalaman pahitnya yang menyebabkan dirinya terkena pukulan batin terus-menerus dalam pekerjaannya.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | ... | Lanjutannya → | Akhir