Asrul Sani (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Asrul Sani dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1945.

Sastrawan pintar Minangkabau ini lahir pada tanggal 10 Juni 1926 di Rao, suatu daerah di sebelah utara Sumatera Barat.

Riwayat pendidikan Asrul Sani dimulai dari pendidikan formalnya di Holland Inlandsche School (HIS), Bukittinggi, pada tahun 1936.

Kemudian, beliau masuk  SMP Taman Siswa, Jakarta (1942).

Kemudian Setelah tamat pendidikan tersebut di atas beliau meneruskan ke Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor.

Namun karena minatnya akan Sastra sempat mengalihkan perhatiannya dari kuliah kedokteran hewan sehingga Asrul sempat pindah ke Fakultas Sastra UI.

Melalui beasiswa Lembaga Kebudayaan Indonesia – Belanda, beliau mengikuti pertukaran ke Akademi Seni Drama, Amsterdam pada 1952.

Tapi akhirnya kembali melanjutkan kuliah kedokteran hewan hingga memperoleh gelar dokter hewan pada 1955.

Walaupun beliau adalah seorang dokter hewan. Akan tetapi, ia tetap memberikan perhatian pada dunia seni (sastra, teater, dan film).

Berdasarkan itu, di sela-sela kuliahnya, beliau masih sempat belajar drama di akademi seni drama di Amsterdam (bea siswa dari Lembaga Kebudayaan Indonesia-Belanda, 1952).

Asrul Sani berasal dari keluarga yang terpandang. Ayahnya adalah seorang raja yang bergelar Sultan Marah Sani Syair Alamsyah yang Dipertuan Sakti Rao Mapat.

Meskipun membenci Belanda, ayahnya sangat menggemari musik klasik (aliran musik bergengsi dari Eropa yang tidak biasa didengar oleh penduduk pribumi pada saat itu, apalagi di daerah terbelakang seperti Rao).

Oleh karena itu, Asrul patut berbangga hati karena sebelum bersekolah, ia sudah mendengar karya terkenal dari Schubert.

Ibunya adalah seorang wanita yang sederhana, tetapi sangat memperhatikan pendidikannya.

Sejak kecil, ia dimanjakan oleh ibunya dengan buku cerita karya pengarang ternama.

Ibunya selalu membacakan buku tersebut untuknya. Oleh karena itu, sebelum pandai membaca, ia sudah mendengar cerita “Surat Kepada Raja” karya Tagore.

Dalam perjalanan hidupnya, Asrul pernah menikah dua kali. Yang pertama ia menikahi Siti Nuraini, temannya sesama wartawan, pada tanggal 29 Maret 1951, di Bogor (dan bercerai pada tahun 1961).

Yang kedua ia menikahi Mutiara Sarumpaet, 22 tahun lebih muda darinya, pada tanggal 29 Desember 1972.

Dari pernikahannya yang pertama, Asrul dikaruniai tiga anak perempuan dan dari pernikahannya yang kedua Asrul dikaruniai tiga anak laki-laki.

Pada masa akhir hidupnya, istrinya, Mutiara Sarumpaet, tetap setia mendampinginya.

Asrul yang mulai renta dan duduk di kursi roda tidak menghalanginya untuk tampil bersama Asrul Sani di depan umum dengan mesra.

Ketika menghadiri acara pelantikan Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D. (adik kandung Mutiara) menjadi guru besar di Universitas Indonesia (3 September 2003), Mutiara dengan mesra menyuapi Asrul di atas kursi rodanya.

Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan Asrul Sani semasa hidupnya.

Ia pernah menjadi Laskar Rakyat (pada masa proklamasi), redaktur majalah (Pujangga Baru, Gema Suasana, Siasat, dan Zenith).

Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1977—1987), Ketua Lembaga Seniman Kebudayaan Muslim (Lesbumi),

Anggota Badan Sensor Film, Pengurus Pusat Nahdatul Ulama,  dan anggota DPR/MPR (1966—1983).

Di dalam dunia sastra Asrul Sani dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45.

Kariernya sebagai sastrawan mulai menanjak ketika ia bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul Tiga Menguak Takdir.

Kumpulan puisi itu  banyak mendapat tanggapan, terutama judulnya karena mendatangkan beberapa tafsir.

Setelah itu, mereka juga menggeberak dunia sastra dengan memproklamasikan “Surat Kepercayaan Gelanggang” sebagai manifestasi sikap budaya mereka. Gebrakan itu memopulerkan mereka.

Sebagai sastrawan, Asrul Sani tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tetapi juga penulis cerpen dan drama.

Cerpennya yang berjudul “Sahabat Saya Cordiaz” dimasukkan oleh Teeuw ke dalam “Moderne Indonesische Verhalen” dan dramanya, “Mahkamah”, mendapat pujian dari para kritikus.

Di samping itu, ia juga dikenal sebagai penulis esai, bahkan penulis esai terbaik tahun 1950-an.

Salah satu karya esainya yang terkenal adalah “Surat atas Kertas Merah Jambu” (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda).

Sejak tahun 1950-an Asrul lebih banyak berteater dan mulai mengarahkan langkahnya ke dunia film.

Ia mementaskan “Pintu Tertutup” karya Jean-Paul Sartre dan “Burung Camar” karya Anton P. Cheko.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir