Djenar Maesa Ayu (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Djenar Maesa Ayu dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 2000 an.

Sastrawati ini lahir pada tanggal 14 Januari 1973 di Jakarta, ia  akrab disapa Nai adalah penulis yang berbakat. Nai juga  berasal dari keluarga seniman.

Ayahnya bernama Syuman Djaya, adalah sutradara film. Serta ibunya yang bernama Tuti Kirana, adalah aktris terkenal  tahun 1970-an.

Djenar memiliki dua orang anak, yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani.

Djenar Maesa Ayu menyelami dunia menulis dengan menemui sejumlah sastrawan yang dijadikannya sebagai guru.

Mereka itu adalah Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri.

Karya Nai banyak mendapat kritik dan pujian karena kontroversi. Namun, baginya, hal itu tidak memengaruhi kreativitasnya.

Ia tetap menulis apa yang ingin diekspresikannya.

Tema utama karya Nai adalah dunia perempuan dan seksualitas.

Karya pertamanya adalah cerpen “Lintah” (2002) yang bertema feminisme dan dimuat di Kompas.

Banyak karyanya yang dimuat di media massa Indonesia, seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan  Lampung Post.

Buku pertama Nai berupa kumpulan cerpen yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! (2004).

Buku itu telah dicetak ulang delapan kali dan masuk dalam sepuluh buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003. Buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Kumpulan cerpen  Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) juga mendapat penghargaan lima besar Khatulistiwa Literary Award 2004.

Cerpennya “Waktu Nayla” mendapat predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas.

Cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh ke dalam bahasa Inggris

dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris khusus edisi karya terbaik.

Disamping menulis karya sastra, Djenar juga menggeluti bidang perfilman, yaitu sebagai pemain dan sutradara.

Ia membintangi film Boneka dari Indiana (1990), Koper (2006), Anak-Anak Borobudur (2007),

Cinta Setaman (2008), Dikejar Setan (2009), Melodi (2010), dan Purple Love (2011) dan  menjadi sutradara film Mereka Bilang, Saya Monyet,

SAIA (2009) serta sutradara TV  dalam acara “Fenomena” (TransTV, 2006) dan “Silat Lidah” (AnTV, 2007).

Ia mendapat Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!

Karya-karya Djenar Maesa Ayu:

a. Novel
Nayla (2005)

b. Kumpulan Cerita Pendek

  1. Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002)
  2. Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004)
  3. Cerita Pendek tentang Cerita Pendek (2006)
  4. 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki (2011)

c. Sutradara/Penulis/Skenario

  1. “Fenomena” (TransTV, 2006)
  2. “Silat Lidah” (AnTV, 2007)
  3. SAIA (2009)
  4. Mereka Bilang, Saya Monyet

d. Film yang Dibintangi

  1. Boneka dari Indiana (1990)
  2. Koper (2006)
  3. Anak-Anak Borobudur (2007)
  4. Cinta Setaman (2008)
  5. Dikejar Setan (2009)
  6. Melodi (2010)
  7. Purple Love (2011)

Penghargaan

  1. Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
  2. Sepuluh besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003  untuk bukunya Mereka Bilang, Saya Monyet!
  3. Cerpen Tetrbaik Kompas 2003 untuk cerpennya “ Waktu Nayla”
  4. Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan untuk cerpennya “Menyusu Ayah”
  5. Lima besar buku terbaik  Khatulistiwa Literary Award 2004  untuk  kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan