Edwar Jamaris (Sastrawan dan Pujangga)

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”. Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Edwar Jamaris dikelompokkan sebagai sastrawan angkatan 1970 an.

Sastrawan kaya ilmu Minangkabau ini lahir pada tanggal 4 Juli 1941 di Cingkariang yaitu sebuah daerah di Bukittinggi Provinsi Sumatra Barat.

Beliau memiliki seorang kakak dan seorang adik, beliau adalah anak kedua dari orang tuanya.

Setelah dewasa Edwar Djamaris menikah dengan Derwita. Mereka pun telah dikaruniai 4 orang anak, yaitu 2 laki-laki dan 2 perempuan.

  • ~

Beliau juga sudah mempunyai 6 orang cucu.

Pendidikan yang ditempuh

Saat ini nama dan gelar beliau adalah Dr. Edwar Djamaris. Awal pendidikan beliau adalah bersekolah di Sekolah Rakyat Negeri Cingkariang tamat tahun 1955.

Setelah itu melanjutkan ke SMPN V tamat tahun 1958 di Bukittinggi.

Lalu melanjutkan ke SMA Teladan bagian A tamat tahun 1961 yang masih berada di Bukittinggi.

Selepas SMA beliau pun meninggalkan Kota Bukittinggi untuk menuju ke Yogyakarta dan kuliah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beliau pun tamat pada bulan Januari 1969.

Pengalaman kerja

Awal karir Edwar Jamaris adalah bekerja sebagai pegawai honorer di Lembaga Bahasa Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan, dimulai sejak bulan April tahun 1969,

Setelah beberapa tahun menjadi pegawai honorer,

maka pada tahun 1971 ia diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil dan pada tahun 1972 resmi diangkat sebagai pegawai negeri sipil dengan pangkat penata muda, golongan III/a.

Lalu pada tahun 1973 beliau mengikuti penataran Filologi-Sejarah yang diselenggarakan oleh Konsorsium Sastra dan Filsafat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bekerja sama dengan Universitas Leiden, Belanda.

Karena beliau memiliki ketekunan dan semangatnya yang tinggi, maka setelah melalui seleksi beliau dipilih menjadi peserta pendidikan lanjutan di Universitas Leiden, Belanda, mulai bulan November 1974 sampai bulan Oktober 1975.

Bersama beliau ada juga lima orang dosen lainnya, yaitu yang berasal dari UI sebanyak 1 orang, UGM sebanyak 2 orang, dan Unpad sebanyak 2 orang.

Kemudian pada bulan Juni—Mei 1979, beliau mendapat kesempatan lagi mengikuti pendidikan dan penulisan persiapan disertasi di bawah bimbingan Dr. R. Roolvink di Universitas Leiden atas beasiswa dari UNESCO Belanda.

Setelah lulus dari negeri Belanda untuk kedua kalinya, ia diberi tugas menjadi kepala Subbidang Sastra Lama, Bidang Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Bahasa.

Selain itu beliau pun sering melakukan penelitian serta menulis buku, kritik, dan esai sastra Indonesia lama dan sastra Minangkabau.

Karena banyaknya karya tulis yang beliau hasilkan, maka penulisan disertasi menjadi tertunda.

Seiring dengan bertambahnya ilmu sastra, khususnya filologi yang diperolehnya dari Belanda, ia menulis sebuah makalah yang berisi petunjuk penelitian filologi.

Makalah itu kemudian terbit dalam majalah Bahasa dan Sastra (1977) dengan judul “Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi”.

Berdasarkan petunjuk penelitian filologi itu, ia bersama staf Bidang Sastra, Pusat Bahasa, melakukan penelitian naskah lama di Museum Nasional (sekarang naskah itu tersimpan di Perpustakaan Nasional, Jakarta)

dalam rangka melestarikan dan menambah khazanah sastra Indonesia lama dan sastra daerah.

Di samping itu ada beberapa buku berhasil ditulisnya, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis utama, dan beberapa di antaranya sudah diterbitkan.

Beriringan dengan itu, beliau juga mengarahkan penelitian sastra rakyat Nusantara untuk tujuan mengungkapkan nilai budaya dalam sastra rakyat Nusantara.

Beliau menyalurkan gagasan tersebut dalam Seminar Hubungan Sastra dan Budaya, di Pusat Bahasa, 14—17 Maret 1990,

dalam makalahnya yang berjudul, “Nilai Budaya dalam Sastra Minangkabau: Kaba Rambun Pamenan.”

Makalah itu dinilai dalam seminar tersebut sebagai contoh yang baik untuk penelitian nilai budaya dalam sastra rakyat Nusantara.

Ia mulai memperkenalkan penelitian nilai budaya dalam penataran sastra yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa dengan judul mata sajian “Menggali Nilai Budaya dalam Sastra Nusantara”. (1990).

Dari beberapa karya lainnya, salah satu makalah nilai budaya yang ditulisnya adalah “Nilai Budaya dalam Kaba Kaba Magek Manandin” Simposium Ilmu Humaniora, Fakultas Sastra, UGM, Maret 1991.

Kemudian setelah itu, beliau juga memimpin penelitian nilai budaya dalam sastra rakyat Nusantara.

Ia beserta staf peneliti Bidang Sastra menulis naskah penelitian nilai budaya dalam sastra rakyat Nusantara dengan bantuan dana dari Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Pusat Bahasa, sebanyak 13 naskah dan 5 sudah diterbitkan tahun 1993 dan 1996.

Lalu pada tahun 1985 ia diberi kesempatan lagi melanjutkan penelitian penulisan disertasi atas dorongan dari Prof. Anton M. Moeliono, Kepala Pusat Bahasa.

Kesempatan itu tidak disia-siakannya dan ia berhasil menyelesaikan disertasinya dan memperoleh gelar doktor dalam ilmu-ilmu sastra dari Universitas Indonesia, Jakarta, dengan predikat sangat memuaskan pada bulan Juni 1989.

Belia adalah orang pertama di Pusat Bahasa yang memperoleh gelar doktor dari sepuluh calon doktor yang direncanakan oleh Pusat Bahasa.

Kemudian pada tahun 1985 di Pusat Bahasa dibuka kesempatan untuk menduduki jabatan fungsional tenaga peneliti.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir