Godi Suwarna (Sastrawan dan Pujangga)

Godi Suwarna dikelompokkan sebagai sastrawan Angkatan Tahun 1980 -1990.

Riwayat Hidup

Sastrawan nyentrik Urang Sunda ini lahir pada tanggal 23 Mei 1956 di Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat.

Beliau menikmati masa kanak-kanaknya di kampung Cirikip, Tasikmalaya.

Godi Suwarna sangat mendalami tembang cianjuran yang sering beliau dengarkan di radio bersama keluarganya.

Saat ini sang pujangga tinggal di Ciamis Provinsi Jawa Barat. Beliau ini tentram damai bersama istrinya yang bernama Rahmayanti Nilakusumah yang berprofesi sebagai penari.

Melalui indahnya perkawinan perkawinan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak.

Yang pertama bernama Denisha, lalu ada Rengganis, Galia Matadewa, dan Welas Wulanari.

Pendidikan yang ditempuh

Pendidikan beliau diawali dengan sekolah di SD Neglasari Tasikmalaya dan tamat pada tahun 1969.

Lalu melanjutkan pendidikan ke SMP Panawangan di Ciamis dan lulus pada tahun 1972.

Beliau kemudian meneruskan pendidikan ke SMA Pasundan yang terletak di Tasikmalaya dan tamat pada tahun 1975.

Selepas tamat SMA beliau pun hijrah ke Kota Bandung dan melanjutkan ke perguruan tinggi di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia IKIP Bandung dan tamat pada tahun 1979.

Rekam Karir di Bidang Sastra

Jiwanya yang indah diselubungi sastra sudah melekat sejak lama.

Godi sejak mudah sering menelaah dan mendalami berbagai karya sastra baik dalam maupun luar negeri.

Beliau mengawali menulis puisi sejak tahun 1976 hingga terlahir beberapa kumpulan puisi.

Disamping itu beliau juga menulis cerpen, novel, dan naskah drama.

Aktivitasnya sebagai peminat drama telah memperkaya kepiawaiannya dalam dunia seni.

Godi Suwarna dikenal sebagai sastrawan multitalenta. Beliau mahir menulis puisi, drama, novel, cerpen, dan fiksi mini.

Selain piawai dalam menulis karya sastra beragam genre, Godi Suwarna juga dikenal sebagai aktor andal.

Beliau pernah bergabung dan menyemarakkan Studiklub Teater Bandung (STB) yang dikoordinatori oleh Suyatna Anirun.

Sebuah drama yang dibintanginya adalah drama berjudul King Lear, Sang Naga, dan Impian di Tengah Musim.

Disamping menjadi aktor, Godi juga sangat hebat sebagai sutradara.

Contohnya adalah dalam pergelaran puisi Konglomerat Kéré Lauk di Universitas Wollongong, Australia yang diadakan pada tahun 1997.

Sastrawan sunda ini mempunyai karakter yang unik dalam berekspresi di dunia sastra dan seni.

Aspek eksentrik sangat kuat melekat pada diri Godi, tidak hanya dalam penampilan keseharian, tetapi juga dalam penampilan di atas panggung.

Oleh karenanya Sastrawan W.S Rendra sangat mengagumi keunikan yang kental dalam setiap penampilan Godi Suwarna.

Kekaguman Rendra tersebut diejawantahkan dengan cara mendaulat Godi Suwarna sebagai aset dalam khazanah sastra Nusantara.

Selain dalam penampilan, karya yang ditulis Godi sarat dengan kekhasan yang hanya dimiliki olehnya.

Hal itu yang membedakan karya Godi dengan karya sastrawan Sunda lainnya.

Berbagai karya sastra yang diciptakan oleh Godi disampaikan dengan bahasa Sunda yang mengalir ibarat arus sungai deras.

Kepiawaian Godi terhadap bahasa ibu (Sunda) dan wawasan tentang kesundaan sangat luar biasa.

Terkadang isi karya sastra yang ditulisnya dihiasi dengan kosakata arkaik.

Sering kali pembaca dibuat ketar-ketir dalam menyibak tabir makna di balik karya Godi.

Imajinasinya yang luas, kaya, dan cenderung liar melahirkan karya yang tidak kalah eksentriknya dengan karakter penulisnya.

Kepiawaiannya dalam cerita pewayangan, seperti Ramayana dan Mahabarata, dipadu dengan kejelian Godi terhadap situasi negeri saat itu mampu menjungkirbalikkan peranan tokoh pewayangan dari tempat dan posisi seharusnya.

Sebagai sastrawan, Godi menginginkan Sunda dalam sastra yang peka terhadap perkembangan zaman dengan berbagai kompleksitasnya.

Wajar saja jika salah satu cerpennya yang bertemakan dunia politik, “Murang-Maring”,

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir