Goenawan Mohamad (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Goenawan Mohamad dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966 – 1970-an.

Sastrawan dan wartawan ini lahir pada tanggal  29 Juli 1941 di di Batang, Jawa Tengah. Dia biasa dipanggil Goen.

Pendidikan pertama beliau adalah Sekolah Dasar, sejak masih SD sudah menyenangi acara puisi siaran RRI.

Minat sastranya juga kelihatan karena dia sejak kecil suka membaca majalah Kisah.

Dia juga juga belajar psikologi di Universitas Indonesia, ilmu politik di Belgia, dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat.

Sejak berusia 17 tahun ia sudah banyak menulis, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson.

Pengalaman kerja Goenawan Mohamad yang paling menonjol adalah sebagai pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo.

Pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair.

Disamping itu, dia adalah salah seorang yang menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Jurnalis ini juga mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia.

Ia juga turut mendirikan Institusi Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia.

Waktu Majalah Tempo kembali terbit setelah Soeharto diturunkan pada tahun 1998, banyak perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya.

Beberapa waktu kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Karya-karya Goenawan Mohamad:

  1. Parikesit (kumpulan puisi, 1969)
  2. Interlude (kumpulan puisi,1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis.
  3. Asmaradana (kumpulan puisi, 1992),
  4. Misalkan Kita di Sarajevo (kumpulan puisi, 1998),
  5. Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (kumpulan puisi, 2001).
  6. Terjemahan sajak-sajak pilihannya ke dalam bahasa Inggris, oleh Laksmi Pamuntjak, terbit dengan judul Goenawan Mohamad: Selected Poems (2004).
  7. Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Malin Kundang (Kumpulan esai, 1972),
  8. Seks, Sastra, Kita (Kumpulan esai, 1980),
  9. Kesusastraan dan Kekuasaan (Kumpulan esai, 1993),
  10. Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (Kumpulan esai, 2001),
  11. Kata, Waktu (Kumpulan esai, 2001),
  12. Eksotopi (Kumpulan esai, 2002).
  13. Catatan Pinggir, sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang dari Majalah Tempo. Konsep dari Catatan Pinggir adalah sekedar sebagai sebuah komentar ataupun kritik terhadap batang tubuh yang utama. Artinya, Catatan Pinggir mengambil posisi di tepi, bukan posisi sentral. Sejak kemunculannya pada akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot.
  14. Catatan Pinggir, esei pendeknya tiap minggu untuk Majalah Tempo, (kini terbit jilid ke-6 dan ke-7) di antaranya terbit dalam terjemahan Inggris oleh Jennifer Lindsay, dalam Sidelines (Lontar Foundation, 1994) dan Conversations with Difference (19….). .
  15. Sajaknya, “dengan raung yang tak terserap karang”

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.