Gus Tf Sakai (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Gus tf Sakai dikelompokkan sebagai Sastrawan  Angkatan 1980 – 1990 an.

Sastrawan kreatif Minangkabau ini dilahirkan pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh, Sumatra Barat,  dengan nama asli Gustrafizal.

Riwayat pendidikan beliau yaitu mulai dari SD, kemudian SMP, dan SMA semuanya dilalui dan ditamatkan di Payakumbuh.

Untuk jenjang perguruan tinggi beliau melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan lulus 1994.

Gus tf Sakai mungkin adalah sastrawan Indonesia yang sensasional jika kita bertanya tentang biografinya.

Maka akan kita dapatkan beliau akan balik bertanya terlebih dahulu: “Sebagai penulis puisi atau prosa?”

Karena begitulah kenyataannya, beliau sering menulis dengan dua nama: Gus tf dipakai untuk karya puisi, dan Gus tf Sakai dipakai untuk karya prosa.

Sepintas bagi kita terlihat sama, tapi setelah bertanya langsung pada orangnya, maka kita akan tahu bahwa bagi beliau secara pribadi adalah berbeda.

Mengenai dua nama tersebut, dalam sebuah wawancara di The Jakarta Post beliau berkata pendek, “Untuk sugesti, biar keduanya serius pada masing-masingnya.”

Sesaat kemudian beliau akan memberikan biodata terpisah untuk setiap nama, tapi sangat pendek dan padat.

Ayahnya bernama Bustamam dan ibunya Ranjuna. Ayahnya yang petani meninggal ketika sastrawan ini masih kanak-kanak dan bersama sembilan saudaranya ia kemudian dibesarkan oleh ibunya yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional.

Jiwa seni dan bakat kreatif beliau berkembang sejak kanak-kanak, seiring dengan kegemaran berolahraga (di antaranya sepak bola dan bela diri),

yang dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian.

Karya pertamanya berupa cerita pendek yang berhasil memenangkan Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979.

Kemudian sejak kemenangan itu, beliau jadi tahu bahwa menulis dapat mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya).

Setelah itu beliau selalu dan terus menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai.

Berdasarkan informasi yang beliau berikan bahwa sampai tahun 2003 ada sekitar 50 sayembara menulis yang berhasil beliau menangkan,

tetapi yang terdokumentasi dan dapat dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan.

Setelah memublikasikan karya dengan berbagai nama samaran sampai tamat SMA tahun 1985,

ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis.

Mulai dari saat itu, beliau menggunakan dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, kini terbukti keputusannya tidak keliru.

Walaupun tidak dapat dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya.

Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.

Agak aneh bahwa hampir tidak ditemukan perbincangan atau kajian terhadap karya Gus tf Sakai sehingga khazanah sastra Indonesia tidak begitu tahu bagaimana (keunggulan) karyanya.

Namun, dalam berkas yang dikirimkan Panitia Indonesia, Pusat Bahasa, kepada Panitia The SEA Write Award 2004 di Bangkok, pada kolom isian Tentang diri sendiri (Awardees to write about himsef), Gus tf Sakai menulis:

“… Sampai kini berusia 38 tahun ini, kadang saya merasa masih seperti 25 tahun lalu ketika pertama mulai menulis: kecil, gugup, berasal dari keluarga miskin, yang karena keterbatasan finansial dalam ketakterbatasan impian kanak-kanak jadi tumbuh dalam dunia yang paradoks dan banyak ketakmungkinan.

Masih seperti itulah saya kini, barangkali. Tegangan antara keterbatasan dan ketakterbatasan telah menjelmakan saya jadi seorang pengarang kecil yang gagap, terus terobsesi untuk keluar – melintasi apa pun. Suku, agama, ras, bahkan antara yang nyata dan tak nyata.”

Melalui pernyataan beliau tersebut, maka kita dapat menelusuri, kekhasan, motivasi, dan keunggulan karya-karya Gus tf Sakai.

Karya-karya Gus tf Sakai:

a. Novel

  1. Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, Gramedia, 1990)
  2. Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)
  3. Ben (novel remaja, Gramedia, 1992)
  4. Tambo (Sebuah Pertemuan) (Grasindo, 2000). Novel itu sedang diterjemahan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Metafor Publishing.
  5. Tiga Cinta, Ibu (Gramedia, 2002)
  6. Ular Keempat (Kompas, 2005)

b. Kumpulan Cerpen

  1. Istana Ketirisan ( Balai Pustaka, 1996). Kumpulan cerpen itu berisikan 7 cerpen.
  2. Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen yang dikelompokkan dalam 4 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk “Gadisku” terdiri atas 4 cerpen, bagian kedua bertajuk “Rumah Masa Lalu” terdiri atas 3 cerpen, bagian ketiga bertajuk “Sendiri” terdiri atas 3 cerpen, dan bagian keempat bertajuk “Apatah Bisu” terdiri atas 4 cerpen. Kumpulan cerpen itu, setelah memperoleh Hadiah Sastra Lontar tahun 2001, diterbitkan oleh The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002).
  3. Laba-Laba (Gramedia, 2003). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen.

c. Kumpulan Puisi

  1. Sangkar Daging (Grasindo, 1997). Kumpulan puisi itu berisi 60 puisi terpilih yang ditulis Gus tf sepanjang tahun 1980-1995 yang dikelompokkan dalam 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk “Langkah Batu” terdiri atas 33 puisi dan bagian kedua yang bertajuk “Luka Metamorfosa” terdiri atas 27 puisi.
  2. Daging Akar (Kompas, 2005). Kumpulan puisi itu terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk “Daging” yang memuat 19 puisi dan bagian kedua bertajuk “Akar” yang juga memuat 19 puisi.

Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman.

Atas kreatifitasnya itu, Gus tf Sakai banyak memenangkan hadiah dan mendapatkan berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Penghargaan dan Hadiah:

Hadiah yang dimenangkan

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir