Hamka (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Buya Hamka  dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan Pujangga Baru.

HAMKA (1908-1981), adalah akronim dari nama asli Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah.

Sastrawan mashur dan melegenda Minangkabau ini lahir pada tanggal 16 Februari 1908, di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat.

Ayahnya adalah Dr. Haji Abdul karim Amrullah, seorang ulama Islam yang sangat terkenal di Sumatera  dan pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sedangkan ibunya  adalah  Siti Shafiyah Tanjung.

Perceraian orang tuanya menyebabkan Hamka sudah harus berpisah dengan ibunya pada saat usianya baru menginjak enam tahun.

Pendidikan Hamka dimulai pada usia tujuh tahun di sekolah dasar di Padang Panjang.

Berdasarkan cerita, karena Hamka sangat nakal, beliau tidak tamat dari sekolah itu.

Walaupun demikian, ia mendapat pelajaran agama dan mengaji. Selama tujuh tahun (1916—1923) Hamka berhasil menamatkan pendidikan agamanya dari dua tempat, yaitu Diniyah School dan Sumatera Thawalib (milik ayahnya).

Pada sekolah yang didirikan oleh ayah Hamka tersebut menerapkan metode belajar-mengajar  seperti metode yang digunakan di sekolah-sekolah agama di Mesir.

Terlebih lagi, buku-buku dan kurikulumnya pun disesuaikan dengan buku-buku dan kurikulum yang digunakan di sekolah Al-Azhar, Mesir.

Gelar doktor ayahnya memang berasal dari sekolah Al-Azhar, Mesir.

Disamping rajin membaca buku-buku agama, Hamka juga suka membaca buku-buku sastra, seperti kaba, pantun, petatah-petitih, dan cerita rakyat Minangkabau.

Pengalamannya membaca buku-buku sastra itulah sebagai cikal-bakal yang kelak menjadikannya sebagai sastrawan besar.

Karena ingin  meningkatkan pengetahuannya, pada tahun 1924 Hamka merantau ke Pulau Jawa. Mula-mula ia ke Yogyakarta, Surabaya, lalu Pekalongan.

Hamka mengamati dan mempelajari pergerakan Islam yang pada waktu itu sedang bergelora.

Selama di Pulau Jawa, Hamka mendapat pengetahuan tentang pergerakan Islam dari H.O.S. Cokroaminoto, H. Fachruddin, R.M. Suryopranoto, Dan St. Mansyur.

Tapi beliau hanya setahun tinggal di Pulau Jawa. Pada tahun 1925 ia kembali ke Padang Panjang dan mulai mencoba menjadi seorang pengarang.

Hasilnya lahir setahun kemudian, sebuah novel berbahasa Minangkabau yang berjudul Si Sabariah (1926).

Pada tahun 1927 Hamka berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia tinggal selama enam bulan di kota itu.

Dalam waktu enam bulan tersebut, Hamka berkesempatan mengasah kemampuannya berbahasa Arab juga mendapatkan pengalaman yang menjadi inspirasi yang sangat kuat baginya

dalam menciptakan novel pertamanya (dalam bahasa Indonesia) yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Saat berada di Mekkah itu, ia berstatus sebagai koresponden harian Pelita Andalas.

Di samping sebagai sastrawan, ia juga dikenal sebagai  ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.

Dalam dunia kepengarangan, Hamka juga kadang-kadang menggunakan nama samaran, yaitu A.S. Hamid, Indra Maha, dan Abu Zaki.

Hamka menikah dengan Siti Raham binti Endah Sutan pada tanggal 5 April 1929 . Siti Raham adalah anak dari salah seorang saudara laki-laki ibunya.

Pernikahan tersebut dikaruniai sebelas orang anak, yaitu Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib.

Setelah istrinya meninggal dunia, ia menikah lagi dengan seorang wanita yang bernama Hj. Siti Khadijah.

Banyak sekali pekerjaan yang sudah dilakoni Hamka di sepanjang hidupnya, dan dalam berbagai bidang pula.

Pengalaman kerja Hamka yaitu sudah menjadi seorang wartawan sejak tahun 1920-an dari beberapa surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah.

Hamka juga bekerja sebagai guru agama di Padang Panjang (1927), kemudian mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuainya (1928).

Pada tahun 1928 itu juga ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammadiyah sebagai mubalig ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Di tempat tersebut, Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal dan menjadi peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari.

Disamping itu, ia juga menerbitkan majalah al-Mahdi di sana. Pada tahun 1934, bersama dengan M. Yunan Nasution di Medan, ia memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat.

Pada majalah itulah untuk pertama kalinya ia memperkenalkan nama Hamka.

Pada tahun 1945 Hamka kembali ke Padang Panjang dan dipercayakan untuk memimpin Kulliyatul Muballighin.

Kesempatan itu digunakannya untuk menyalurkan kemampuannya menulis dan lahirlah beberapa tulisannya, antara lain, Negara Islam,

Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi, dan Dari Lembah Cita-Cita.

Pada tahun 1949 Hamka memutuskan untuk meninggalkan Padang Panjang menuju Jakarta.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir