Jusuf Sjarif Badudu (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Jusuf Sjarif Badudu  dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966-1970 an.

Sastrawan ini lahir pada tanggal 19 Maret 1926 di Gorontalo. Beliau lebih dikenal dengan nama J. S. Badudu

  • ~

Riwayat pendidikan beliau dimulai dengan menamatkan Sekolah Rakyat di Ampana, Sulawesi Tenggara dalam usia tiga belas tahun yaitu pada tahun 1939.

Kemudian, ia mengikuti kursus Volksonderwijser/CVO di Luwuk, Sulawesi Tenggara (1941).

Lalu tahun 1949 ia menyelesaikan pendidikan Normaal School di Tertena, Sulawesi Tenggara.

Ia melanjutkan sekolah di KweekschooI/SGA, Makassar, Sulawesi Selatan dan tamat pada tahun 1951.

Kemudian pada tahun 1955 ia menyelesaikan pendidikan B.1 Bahasa Indonesia di Bandung dan menyelesaikan pendidikan S1-nya di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung (1963).

Tahun 1971—1973 Badudu melanjutkan pendidikan pada Postgraduate Linguistics di Leidse Rijksuniversiteit Leiden, Belanda.

Tahun 1975 ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta, melalui disertasi yang berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.

J. S. Badudu dan didampingi istri  yang bernama Eva Henriette Alma Badudu—Koroh.

Mereka menikah pada tanggal 9 Mei 1953. Buah perkawinan mereka menghasilkan 9 putra-putri, yaitu Dharmayanti Francisca,

Erwin Suryawan, Chandramulia Satriawan, Chitra Meilani, Armand Edwin, Rizal Indrayana,

Sari Rezeki Adrianita, Mutia Indrakemala, dan Jussar Laksmikusala.

Profesor bahasa ini tinggal di Jalan Bukit Dago Selatan 27 Bandung Telepon dan Faksimile: 022—2501362

Pengalaman kerja beliau dilalui dengan mengisi hari sebagai orang yang sangat peduli terhadap dunia pendidikan,

khususnya pendidikan bahasa Indonesia, Badudu telah mengabdikan diri sebagai guru sejak usia 15 tahun 5 bulan.

Ia menjadi guru sekolah dasar di Ampana, Sulawesi Tengah hingga tahun 1951. Pada tahun 1951—1955 ia menjadi guru SMP di Poso, Sulawesi Tengah,

dan pada tahun 1955—1964 menjadi guru SMA di Bandung.

Pernah juga menyumbangkan tenaga sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1965 –1991.

Mulai dari tahun 1982 hingga sekarang, Badudu menjadi guru besar linguistik pada Program Pascasarjana (S2 dan S3) Universitas Padjadjaran Bandung dan Universitas Pendidikan Bandung (dulu IKIP Bandung).

Disamping itu juga menjadi guru besar di Universitas Pakuan Bogor pada tahun 1991—sekarang dan di Universitas Nasional Jakarta pada tahun 1994—sekarang (tidak aktif memberikan kuliah, tugas diserahkan kepada asisten).

Selama tiga tahun juga pernah menatar guru-guru sekolah dasar di enam provinsi (Sumatra Barat, D. I. Aceh, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan D.I. Yogyakarta)

dalam proyek PEQIP (Prelimenary Education Quality Improvement Project), sebuah lembaga bantuan Jerman yang bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional).

Tahun 1995—1997, ia mengunjungi setiap provinsi itu 2 kali dalam setahun.

Pada masa pengabdian sebagai dosen dan guru besar, Badudu membimbing penulisan tesis mahasiswa S2 dan disertasi mahasiswa S3.

Tujuh orang di antaranya sekarang telah menjadi guru besar (profesor) dan tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia,

seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Bandung, Universitas Hasanuddin (Makassar), STKIP Gorontalo,

Universitas Sumatra Utara, dan Universitas Lambung Mangkurat (Samarinda).

Tokoh bahasa ini juga dikenal sebagai pembawa acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Pusat Jakarta (1977—1979)

dan sebagai penatar bahasa Indonesia untuk berbagai lapisan masyarakat, seperti mahasiswa, dosen, guru, wartawan, pegawai pemerintah, dan polisi.

Ia juga sering menyajikan makalah di luar negeri, seperti Belanda, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Jepang.

Karya-karya J. S. Badudu:

Dalam usia 76 tahun saat ini Badudu tidak hanya aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia, tetapi juga aktif sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah.

Sejak tahun 1977 hingga sekarang, ia menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta.

Keaktifan Badudu menulis buku-buku yang berisi tuntunan tentang penggunaan bahasa Indonesia untuk pelajar, mahasiswa, dan umum, dapat dibaca melalui karyanya:

  1. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia;
  2. Membina Bahasa Indonesia Baku (2 jilid);
  3. Bahasa Indonesia: Anda bertanya? Inilah jawabnya;
  4. Ejaan Bahasa Indonesia;
  5. Sari Kesusasteraan Indonesia untuk SMA (2 jilid);
  6. Buku dan Pengarang;
  7. Belajar memahami Peribahasa (6 jiIid);
  8. Peribahasa;
  9. Mari Membina Bahasa Indonesia Seragam (3 jilid); dan
  10. Penuntun Ujian Bahasa Indonesia untuk SMP (Catatan: Buku no. 7 s.d. 10 tidak diterbitkan lagi).

Badudu juga pernah melakukan penelitian bahasa, antara lain:

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir