Marah Rusli (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Marah Rusli  dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan Balai Pustaka.

Sastrawan berpendirian teguh Minangkabau ini lahir pada tanggal 7 Agustus 1889 di Padang, Sumatra Barat.

Sang sastrawan itu bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ayahnya Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran.

Dalam keseharian, Ayah dari Marah Rusli bekerja sebagai seorang demang.

Riwayat pendidikan beliau dimulai dari masuk sekolah dasar di Padang yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar.

Kemudian melanjutkan ke sekolah Raja (Kweekschool) di Bukit Tinggi dan lulus tahun 1910.

Setelah itu melanjutkan sekolahnya ke Vee Arstsen School (sekolah Dokter Hewan) di Bogor dan lulus tahun 1915.

Setelah tamat, ia di tempatkan di Sumbawa Besar sebagai Ajung Dokter Hewan. Tahun 1916 ia menjadi Kepala Peternakan.

Hingga pada Tahun 1920, Marah Rusli diangkat sebagai asisten dosen Dokter Hewan Wittkamp di Bogor.

Karena berselisih dengan atasannya, orang Belanda, ia diskors selama setahun.

Selama menjalani skorsing itulah ia menulis novel Siti Nurbaya pada tahun 1921.

Karirnya sebagai dokter hewan membawanya berpindah-pindah ke berbagai daerah.

Tahun 1921-1924 ia bertugas di Jakarta, kemudian di Balige antara tahun 1925-1929 dan Semarang antara tahun 1929-1945.

Tahun 1945, Marah Rusli bergabung dengan Angkatan Laut di Tegal dengan pangkat terakhir Mayor.

Ia mengajar di Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten tahun 1948 dan sejak tahun 1951 ia menjalani masa pensiun di Bogor.

Novelnya, Siti Nurbaya tahun 1922, mendapat hadiah dari pemerintah RI tahun 1969.

Karyanya yang lain novel La Hami di tahun 1952, novel Anak dan Kemenakan tahun 1956, dan otobiografi Memang Jodoh.

Ia juga menerjemahkan novel karya Charles Dickens yang berjudul Gadis Yang Malang di tahun 1922.

Meski lebih terkenal sebagai sastrawan, Marah Rusli sebenarnya adalah dokter hewan.

Berbeda dengan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang memang benar-benar meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan karena memilih menjadi penyair,

Marah Rusli tetap menekuni profesinya sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala.

Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan.

Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, ia tetap mempertahankan perkawinannya.

Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman.

Di antara deret nama sastrawan Balai Pustaka, nama Marah Rusli adalah nama yang cukup terkenal, kalau belum dapat dikatakan paling terkenal.

Keterkenalannya karena karyanya Siti Nurbaya (sebuah roman) yang diterbitkan pada tahun 1920 sangat banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini.

Siti Nurbaya telah melegenda, wanita yang dipaksa kawin oleh orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya.

Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai “Bapak Roman Modern Indonesia”.

Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.

Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil.

Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng (di Sumatera Barat) yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra.

Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.

Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya.

Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.

Dalam Siti Nurbaya telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita.

Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir