Muhammad Balfas (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Muhammad Balfas dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966.

Sastrawan ini lahir pada tanggal 25 Desember 1922 di Krukut, Jakarta. Dia terlahir dalam lingkungan sosial budaya Betawi.

Riwayat pendidikan Muhammad Balfas tergolong agak susah diketahui, Mengenai kapan dan di mana ia bersekolah di pendidikan dasar dan lanjutan pertamanya tidak diketahui secara pasti.

Berdasarkan data yang dapat dipercaya, beliau menamatkan MULO (setingkat SLTA) pada tahun 1940.

Menurut penelususan, ia tidak melanjutkan sekolah, tetapi langsung bekerja.

Terlahir sebagai anak Betawi, ia merasa kecewa karena harus kehilangan corak asli kehidupan masyarakatnya.

Dia berpendapat bahwa masyarakat Jakarta sudah jauh berbeda dengan masyarakat Betawi yang dikenalnya sewaktu kecil dulu.

“Inilah masyarakat modern, masyarakat manusia merdeka.”

Celaka! Aku kehilangan kemerdekaanku sekarang dan perasaanku yang begitu banyak bersifat diriku dikalahkan oleh kesadaran ideologi yang membikin aku kembali jadi manusia budak.

Seperti lingkaran puyuh: dari daerah kampungan ke alam yang lebih besar dan dari sini aku buat lagi kampungku yang kecil bermerek ideologi, ‘ akunya (Balfas, 1955).

Pengakuan itu, tentu saja dapat lebih meyakinkan orang bahwa Muhammad Balfas sangat akrab dengan kehidupan Jakarta, kampung kelahirannya.

Menurut Jassin (1954) dan Rosidi (1969), hampir semua ketragisan yang tertukis dalam cerita-cerita Balfas sebenarnya merupakan gambaran dirinya.

Artinya, dalam menulis, Balfas selalu mengidentifikasi dirinya ke dalam diri tokoh-tokoh ciptaannya.

Jika pendapat itu benar, dapatlah disimpulkan bahwa Balfas di masa kecilnya hidup di lingkungan masyarakat yang terhimpit.

M. Balfas pertama kali bekerja sebagai pegawai pada Ekonomishe Zaken. Pekerjaan itu dijalaninya selama tiga tahun (1940-4943).

Pada tahun 1946–1947 Ia menjadi kepala redaksi majalah Masyarakat.

Pengalamannya sebagai wartawan ini banyak mewarnai karya pertamanya, Lingkaran-lingkaran Retak.

Pada tahun 1953, bersama dengan Sudjati S.A., M. Balfas mendirikan majalah Kisah, sebuah majalah yag khusus menerbitkan cerita pendek.

Pada majalah tersebut, M. Balfas (bersama dengan H.B. Jassin dan Idrus) menjadi redaktur selama empat tahun, yakni hingga majalah tersebut berhenti terbit pada tahun 1956.

Pada tahun 1961, bersama dengan H.B. Jassin, M. Balfas menerbitkan majalah baru, yang diberi nama Sastra.

Majalah ini memiliki garis kebijakan yang persis sama dengan Kisah.

Namun, pekerjaan sebagai redaktur itu pun ia tinggalkan karena M. Balfas merantau ke Kuala Lumpur, untuk bekerja.

Karena tidak betah hagi tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia, ia hiijrah ke Australia.

“Aku sudah muak di sini karena harus merendahkan diri saja.” , demikian akunya kepada H.B. Jassin (dalam surat pribadinya kepada Jassin yang ditulisnya di Kuala Lumpur pada tanggal 19 September 1966).

Di Australia ia mendapat pekerjaan, mengajar di Universitas Sydney. Statusnya sebagai dosen tersebut dijalaninya sejak tahun 1967 hingga akhir hayatnya.

Dalam sejarah sastra Indonesia, M. Balfas digolongkan sebagai salah seorang pengarang prosa tahap kedua dalam Angkatan ‘45, selain Barus Siregar, Rusman Sutiasumanga, dan Aoh Karta Hadimadja (Teeuw, 1980).

Cerpen-cerpennya, sebelum dikumpulkan dalam Lingkaran-Lingkaran Retak, pernah dimuat dalam berbagai majalah.

Dua dia antaranya, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan dimuat dalam majalah Orientatie (Jassin, 1954).

Dalam karya-karyanya, Balfas banyak bercerita tentang keadaan di sekitarnya, sebuah dunia yang benar-benar diakrabinya.

Dalam cerpen “Anak Revolusi”, “, misalnya, ia secara berterus terang mengakui bahwa tokoh Ama adalah teman bermainnya waktu kecil dulu: salah seorang anak yang sudah harus membantu orang tuanya mencari nafkah sehingga menjadi anak yang “matang” sebelum waktunya.

Begitu pula dalam “Rumah di Sebelah”. Balfas pun secara terang-terangan melukiskan sifat-sifat dan keadaan kampung halamannya sewaktu ia masih kecil dulu, yaitu kampung Krukut.

Semasa hidupnya Balfas pernah tinggal di Kualalumpur, Malaysia. Karena merasa tidak mendapatkan tempat, ia meninggalkan Malaysia dan hijrah ke Australia.

Pada tahun 1975, saat berkunjung ke Jakarta, penyakit asma yang dideritanya kambuh.

Setelah dirawat beberapa lama. akhirnya pada tanggal 5 Juni 1975 ia meninggal dunia.

Karya-karya Muhammad Balfas:

a. Cerita Pendek

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir