Nasjah Djamin (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Nasjah Djamin dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966.

Sastrawan Minangkabau ini dilahirkan pada tanggal 24 September 1924 di Perbaungan, Sumatra Utara.

  • Atas AsliMinang

    ~~~~~~~
    Sastrawan Hebat Banyak Berasal dari Minangkabau Sumatera Barat, begini generasi mereka kini
    ~~~~~
  • ~

Ia anak ketujuh dari delapan bersaudara. Nasjah Djamin mempunyai nama asli Noeralamsyah.

Riwayat pendidikan Nasjah Djamin yaitu menamatkan sekolah HIS (Hollandas Inlandse School). Setelah itu berhasil melanjutkan sekolah Mulo tahun 1941.

Setelah keluar dari Mulo, Nasjah Djamin memutuskan bekerja. Ia mengawali bekerja sebagai kuli kasar di lapangan terbang Pulonia, Medan.

Kedua orang tuanya berasal dari Minangkabau, Padang Sumatra Barat. Ayahnya bernama Haji Djamin dan ibunya bernama Siti Sini.

Di antara delapan bersaudara Djamin, Nasjah Djamin memiliki bakat seni yang menonjol. Bakat seni yang pertama muncul adalah  melukis.

Orang tua Nasjah Djamin adalah pegawai rendah. Namun, hal itu tidak menjadikan Nasjah Djamin untuk berdiam diri.

Karena dia sangat berbakat di bidang seni terutama kepandaian melukis, kemudian Nasjah Djamin bekerja di kantor Bukaka, kantor propaganda Jepang.

Selain bekerja, di tempat bekerjanya itu, Nasjah Djamin juga belajar melukis.

Kemudian pada tahun 1947 Nasjah Djamin ke Jakarta dan bergabung dengan para seniman di Jalan Garuda yang dipimpin oleh Pak Said.

Kalangan pelukis yang hadir adalah Affandi dan Basuki Rosobowo, sedangkan kalangan sastrawan yang hadir adalah Chairil Anwar, H.B. Jassin, Rivai Apin, dan Sitor Situmorang.

Pada kesempatan itu, kemudian Nasjah Djamin berkenalan dengan para sastrawan dan mulai tertarik dalam tulis-menulis.

Hingga pada tahun 1949 Nasjah Djamin bekerja di Balai Pustaka sebagai ilustrator.

Di kantor itu Nasjah Djamin sering mendengar diskusi antarpengarang, seperti Idrus dan Chairil Anwar.

Situasi dan suasana itu membuat Nasjah tertarik pada kesastraan. Hal itu dibuktikan dengan tulisan yang diciptakannya selama ia bekerja di Balai Pustaka, seperti puisinya yang berjudul “Pengungsi”.

Lalu H.B. Jassin memuat puisi itu ke dalam Gema Tanah Air. Karya lain yang diciptakan adalah cerita bergambar bagi anak-anak, yaitu Hang Tuah (1952) dan Si Pai Bengal (1952), dan telah diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Kemudian Nasjah Djamin berhenti bekerja di Balai Pustaka, setelah itu beliau kembali ke Yogyakarta.

Pada tahun 1952 Nasjah Djamin bekerja sebagai pegawai rendah pada Bagian Kesenian, Jawatan Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.

Lalu beliau bekerja di bagian seni rupa. Di samping itu, ia juga menjadi anggota redaksi majalah Budaya (1953).

Karya yang ditulisnya selama bekerja di majalah itu, antara lain, “Titik-Titik Hitam” (1956), “Sekelumit Nyanyian Sunda” (1957), dan “Jembatan Gondolayu” (1957). Ketiganya merupakan drama.

Judul drama “Sekelumit Nyanyian Sunda:” memenangkan juara kedua sayembara menulis drama yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1956.

Hingga pada tahun 1953 Nasjah Djamin bersama-sama dengan Kirjomulyo mendirikan Teater Indonesia.

Pada tahun 1961—1964, atas biaya kantor tempat ia bekerja, Nasjah Djamin dikirim ke Jepang untuk memperdalam dekorasi panggung, dekorasi TV, pemroduksian TV cerita, dan pertunjukan.

Karya-karya Nasjah Djamin:

Nasjah Djamin memulai menulis novel tahun 1950. Novel yang dihasilkan pertama adalah Hilanglah Si Anak Hilang.

Karya itu telah diterjemahkan oleh Farida Soemargono Labrousse ke dalam bahasa Prancis dengan judul Le Depart de L”Enfant Proddigue (1979).

Tempat kegiatan menulis selain di majalah Budaya, Nasjah melakukannya di majalah Minggu Pagi dan surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Salah satu novelnya Gairah untuk Hidup dan untuk Mati yang merupakan cerita bersambung dalam majalah Minggu Pagi nomor 1—24 tahun 1967 berhasil memperoleh Anugerah Seni dari pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970.

Anugerah lain yang diterima Nasjah berasal dari Yayasan Buku Utama atas karya Ombak Parangtritis (1983) yang dinyatakan sebagai buku fiksi remaja terbaik tahun 1983 dan dari Dewan Kesenian Jakarta mendapatkan hadiah sastra atas novelnya Bukit Harapan (1984).

a. Novel

  1. Hilanglah Si Anak Hilang (1963)
  2. Helai-Helai Sakura Gugur (1965)
  3. Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
  4. Malam Kuala Lumpur (1968)
  5. Yang Ketemu Jalan (1979)
  6. Dan Senja pun Turun (1981)
  7. Ombak Parangtritis (1983)
  8. Tresna Atas Tresna (1983)
  9. Bukit Harapan (1984)
  10. Tiga Puntung Rokok (1985)
  11. 11. Ombak dan Pasir (1988)

b. Kumpulan Cerita Pendek

  1. Sekelumit Nyanyian Sunda (1962)
  2. Sebuah Perkawinan (1974)
  3. Di Bawah Kaki Pak Dirman (1986)

c. Novelet

  1. “Di Sebuah Pondokan” (dalam majalah Sarinah, 1987)
  2. Biografi Chairil Anwar yang berjudul Hari-Hari Akhir Si Penyair (1982)
  3. Biografi Affandi dalam bukunya Affandi Pelukis (1977)

d. Puisi

  1. “Berat” (dalam majalah Seniman, 1947)
  2. “Bunga” dan “Pengungsi” (dalam majalah Seniman, 1948)
  3. “Yati Kecil” (dalam majalah Budaya, 1954)

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan