Nh. Dini

Demi menghargai hak cipta dan jasa sastrawan pujangga, indoSastra menyarankan membeli buku sastra di Toko Buku Online Terpercaya

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Nh. Dini dikelompokkan sebagai Sastrawan 1980 – 1990 an.

Sastrawati ini dilahirkan pada tanggal 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah.

Nama Nh. Dini merupakan singkatan dari nama aslinya yaitu: Nurhayati Srihardini.

Riwayat pendidikan Nh. Dini dimulai dari Sekolah Dasar. Pada waktu dia masih SMP ayahnya meninggal dunia. Pendidikan paling tinggi yang diraih adalah sampai sekolah menengah atas jurusan sastra. Kemudian mengikuti kursus B1 jurusan sejarah (1957).

Sebenarnya Dini bercita-cita menjadi dokter hewan. Tapi tidak dapat mewujudkan cita-cita itu karena orang tuanya tidak mampu membiayainya.

Ia adalah anak kelima (bungsu) dari empat bersaudara. Ayahnya, Salyowijoyo, seorang pegawai perusahaan kereta api. Ibunya bernama Kusaminah.

Kepiawaian menulis dapat diketahui sejak berusia sembilan tahun ketika dia menulis karangan yang berjudul “Merdeka dan Merah Putih”.

Karya tersebut dianggap membahayakan Belanda sehingga ayahnya harus berurusan dengan Belanda. Namun, setelah mengetahui penulisnya anak-anak, Belanda mengalah.

Lalu pada tahun 1960 Dini menikah dengan seorang diplomat Prancis yang bernama Yves Coffin. Ia mengikuti tugas suaminya di Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat.

Setelah menikah dengan suami yang berwarganegara Prancis pada tahun 1960, Dini beralih warga negaranya menjadi warga negara Prancis. Dari perkawinannya itu, Dini mempunyai dua orang anak, yaitu Marie Claire Lintang dan Louis Padang.

Kepada kedua anaknya itu, Dini memeberi kebebasan budaya yang akan dianut dan bahasa yang akan dipelajari.

Demi mengajarkan budaya Indonesia, Dini menyuruh anaknya mendengarkan musik Indonesia, terutama gamelan Jawa, Bali, dan Sunda serta melatihnya menari.

Kemudian pada tahun 1984 Dini bercerai dengan suaminya. Pada tahun 1985 kembali ke Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia.

Lalu memutuskan kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan menulis serta mendirikan taman bacaan anak-anak yang bernama Pondok Baca.

N.H. Dini tinggal di Perumahan Beringin Indah, Jalan Angsana No. 9, Blok A-V Ngalian, Semarang 50159, Jawa Tengah.

Berbekal pengalaman menjadi istri diplomat memperkaya pengetahuannya sehingga banyak memengaruhi karyanya, seperti karyanya yang berlatar kehidupan Jepang, Eropa, dan Amerika.

Selain itu, ia menambah pengetahuan bidang lain, yaitu menari Jawa dan memainkan gamelan. Meskipun demikian, ia lebih berkonsentrasi pada kegiatan menulis.

Karya sastranya yang berupa puisi dan cerpen dimuat dalam majalah Budaya dan Gadjah Mada di Yogyakarta (1952), majalah Mimbar Indonesia, dan lembar kebudayaan Siasat. Pada tahun 1955 ia memenangkan sayembara penulisan naskah sandiwara radio dalam Festival Sandiwara Radio di seluruh Jawa Tengah.

Aktivitas lain yang dilakukannya ialah mendirikan perkumpulan seni Kuncup Mekar bersama kakaknya.Kegiatannya ialah karawitan dan sandiwara. Nh. Dini juga bekerja, yaitu di RRI Semarang, tetapi tidak lama. Kemudian, ia bekerja di Jakarta sebagai pramugari GIA (1957—1960).

Karya-karya Nh. Dini:

a. Puisi

  1. “Februari” (1956)
  2. “Pesan Ibu” (1956)
  3. “Kapal di Pelabuhan Semarang” (1956)
  4. “Kematian” (1968)
  5. “Berdua” (1958)
  6. “Surat Kepada Kawan” (1964)
  7. “Bertemu Kembali” (1964)
  8. “Dari Jendela” (1966)
  9. “Sahabat” (1968)
  10. “Kotaku” (1968)
  11. “Penggembala” (1968)
  12. “Terpendam” (1969)
  13. “Pulau yang Ditinggal” (1969)
  14. “Bulan di Abad yang Akan Datang” (1969)
  15. “Anakku Bertanya” (1969)
  16. “Tetangga” (1970)
  17. “Kelahiran “ (1970)
  18. “Burung Kecil” (1970)
  19. “Pagi Bersalju” (1970)
  20. “Sesaudara” (1970)
  21. “Jam Berdentang” (1970)
  22. “Musim Gugur di Hutan” (1970)
  23. “Penyapu Jalan di Paris” (1970)
  24. “Yang Telah Pergi”(1970)
  25. “Rinduku” (1970)
  26. “Tak Ada yang Kulupa” (1971)
  27. “e havre” (1971)
  28. “Paris yang Kukenal” (1971)
  29. “Mimpi” (1971)
  30. “Dua yang Pokok” (1971)
  31. “Kemari Dekatkan Kursimu” (1971)

b. Kumpulan cerita pendek

  1. Dua Dunia (1956)
  2. Tuileries (1982)
  3. Segi dan Garis (1983)
  4. Liar (1989)
  5. Istri Konsul (1989)

c. Novel

  1. Dua Dunia (1956)
  2. Hati yang Damai (1961)
  3. Pada Sebuah Kapal (1972)
  4. La Barka (1975)
  5. Namaku Hiroko (1977)
  6. Keberangkatan (1977)
  7. Sebuah Lorong di Kotaku (1978)
  8. Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979)
  9. Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979)
  10. Sekayu (1981)
  11. Kuncup Berseri (1982)
  12. Orang-Orang Trans (1985)
  13. Pertemuan Dua hati (1986)
  14. Jalan Bandungan (1989)
  15. Tirai Menurun (1993)
  16. Kemayoran (2000)

d. Karya lain

  1. Pangeran dari Negeri Seberang (Biografi penyair Amir Hamzah) (1981)
  2. Dongeng dari Galia Jilid I dan II (cerita rakyat Prancis) (1981)
  3. Peri Polybotte (cerita rakyat Prancis) (1983)
  4. Sampar (novel terjemahan dari La Peste karya Albert Camus) (1985)

Penghargaan yang telah diperolehnya ialah hadiah kedua untuk cerpennya “Di Pondok Salju” yang dimuat dalam majalah Sastra (1963), hadiah lomba cerpen majalah Femina (1980), dan hadiah kesatu dalam lomba mengarang cerita pendek dalam bahasa Prancis yang diselenggarakan oleh Le Monde dan Radio Frence Internasionale (1987).

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan