Radhar Panca Dahana (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Radhar Panca Dahana dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980 – 1990 an.

Dia lahir pada tanggal 26 Maret 1965 di Jakarta. Nama Radhar merupakan akromim dari nama kedua orang tuanya: Radsomo dan Suharti.

Ia anak kelima dari tujuh bersaudara yang seluruhnya juga mempunyai nama depan Radhar.

Riwayat pendidikan beliau dimulai dengan sekolah dasar. Dia dari kecil sudah memiliki bakat menulis.

Waktu masih duduk bangku kelas lima sekolah dasar, ia sudah mampu menulis sebuah cerita pendek “Tamu Tak Diundang.”

Radhar mengirimkannya ke harian Kompas dan dimuat.

Hingga pada saat duduk di bangku kelas dua SMP, ia menjadi redaktur tamu majalah Kawanku.

Selama beberapa bulan, ia membantu menyeleksi naskah cerpen dan puisi yang masuk.

Kemudian dia mulai mengarang cerita pendek, puisi, dan membuat ilustrasi ketika duduk di kelas tiga SMP.

Beberapa karyanya, di antaranya, dimuat di majalah Zaman, yang waktu itu redakturnya adalah Danarto.

Radhar menyamar jati dirinya dengan nama Reza Morta Vileni. Nama samaran itu diilhami oleh nama teman sekolahnya, Rezania, yang piawai berdeklamasi.

Pendidikan SLTA-nya (melalui SMA 11 Jakarta, SMA 46 Jakarta, dan sebuah SMA di Bogor) dihabiskan dalam waktu enam tahun.

Menurutnya, hal itu adalah buah dari kekecewaannya karena tidak diizinkan bekerja oleh orang tuanya.

Sejak masih sekolah dasar, wataknya yang memberontak dan ingin “menguasai” publik membuatnya tidak disukai oleh teman-temannya.

Waktu  SMA, ia kerap bertengkar dengan guru dan menolak sistem sekolah.

Hal itu tidak mengherankan karena Radhar yang senang membaca buku berat, seperti pemahaman Ivan Illic tentang formalisme pendidikan dalam Bebas dari Sekolah dan pemikiran Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum yang Tertindas, tanpa mencernanya.

Waktu bersekolah SMA di Bogor ia juga sempat bergabung dengan Bengkel Teater Rendra.

Namun, Radhar berselisih dengan Rendra mengenai manajemen grup. Akhirnya, ia mengundurkan diri.

Kemudian dia mengikuti saran Anto Baret untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Harapannya diterima di Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Pajajaran, gagal. Ia diterima di sosilogi, UI.

Mata kuliahnya diselesaikan dalam waktu 2,5 tahun. Teater dan kerja jurnalistik kembali menggodanya sehingga ia tidak acuh pada tata administrasi di kampusnya.

Saat ia akan pergi ke Prancis, barulah ia mengurus masalahnya itu.

Lalu pada tahun 1997, Radhar melanjutkan studi di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Prancis, dengan meriset postmodernisme di Indonesia.

Baru setahun, Radhar pulang ke Indonesia dan membatalkan fasilitas studi yang harusnya mencapai tingkat doktoral. Alasannya, “Aku tak kuat menahan diri.

Sementara aku hidup enak di sini, di negeriku orang-orang hidup dalam teror.”

Pada waktu itu di Indonesia sedang terjadi kekacauan politik dan ketidakstabilan keamanan akibat tergulingnya Suharto dari kursi presiden.

Sepulang dari Prancis, Radhar mengalami stres berat.

Ia divonis gagal ginjal kronis, acute renal failure dan cjronic renal failure, pembunuhan sel ginjal secara perlahan.

Dua buah ginjalnya dinyatakan sudah mati.

Hingga hari ini, tiada hari yang ia lewati tanpa gangguan 2-3 penyakit dari sekitar 15 penyakit baru yang dapatkan setelah cuci darah.

Julukan yang disandang Radhar Panca Dahana sangatlah beragam.

Ia dikenal sebagai esais, sastrawan, kritikus sastra, dan jurnalis.

Ia pun bergiat sebagai pekerja dan pengamat teater.

Puluhan esai, kritik, karya jurnalis, kumpulan puisi, naskah drama, pertunjukan teater, dan beberapa buku tentang teater telah dihasilkannya.

Kehidupan masa kecilnya sangat keras. Ayahnya yang pernah difitnah sebagai penyokong komunis mendidik anak-anaknya dengan disiplin yang tinggi, bahkan cenderung otoriter.

Menurut Radhar, sejak kecil ia dan saudara-saudaranya sudah diajari berhitung angka hingga jutaan, pulang ke rumah harus tepat waktu, dan senantisa belajar kapan pun.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir