Sanusi Pane (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Sanusi Pane dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan Pujangga Baru.

Sastrawan ini lahir pada tanggal 14 November 1905 di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan  Ia adalah kakak kandung Armijn Pane.

Pendidikan Sanusi pane dimulai di Hollands Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan dan Sanusi Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan pada tanggal 14 November 1905.

Kemudian dia melanjutkan ke Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga dan kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang dan di Jakarta. Ia tamat dari MULO pada tahun 1922.

Setelah itu dia belajar di Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) Gunung Sahari, Jakarta sampai tamat, tahun 1925, dan langsung diangkat menjadi guru di sekolah itu sampai tahun 1931.

Dia juga pernah mengikuti kuliah di Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Kehakiman) selama satu tahun.

Pada tahun 1929–1930 dia melawat ke India untuk memperdalam kebudayaan Hindu (Nasution. 1963).

Ketika bekerja di Balai Pustaka dia menolak untuk diantar jemput. Dia memilih berjalan kaki.

Segala tawaran yang diberikan kepadanya dibiarkan begitu saja tanpa jawaban.

Acap kali dia membiarkan jatah berasnya membusuk di gudang karena tidak diambil.

Bahkan, selama bekerja dia tidak pernah mengurus kenaikan pangkatnya sehingga sampai pensiun pangkatnya tetap sama.

Pada suatu ketika istrinya merasa cemas dengan kehidupan Sanusi Pane yang harus membiayai enam orang anak.

Istrinya mencoba menyadarkan Sanusi Pane agar memikirkan nasib anaknya pada masa datang.

Sanusi Pane selalu menjawab, “Kita toh belum kelaparan. Kita toh belum jadi gelandangan, kita toh masih bisa berpakaian.”

Semasa hidupnya, Sanusi Pane tidak dapat dipisahkan dengan alam.

Hal itu dapat diperhatikan dalam polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana (Pujangga Baru. April 1937) yang mengatakan bahwa di dunia Barat orang harus bekerja keras untuk menaklukkan alam.

Orang harus berusaha mempertahankan diri untuk mengusai alam itu.

Akibatnya, orang lebih mengutamakan jasmani sehingga timbul materialisme dan individualisme.

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat di Timur. Orang tidak usah bersusah payah berupaya untuk menaklukkan alam karena alam di Timur tidak sekeras di Barat.

Di Timur manusia sudah merasa satu dengan alam sekelilingnya. Intelektualisme dan individualisme tidak begitu penting.

Orang Timur tidak mementingkan segi jasmani.

Tapi hal itu bukan berarti bahwa derajat bangsa yang setinggi-tingginya itu dapat dicapai oleh lapisan yang berpusatkan kenyataan Manusia bersatu dengan alam harus meniadakan keinginan jasmaninya dan membersihkan jiwanya.

Pandangan tersebut mewarnai sikapnya terhadap hal-hal yang bersifat jasmani.

Oleh karena itu, Sanusi tidak pernah membanggakan apa yang telah ia perbuat.

Dia selalu bersifat merendah meskipun sebenarnya hasil karyanya patut dibanggakan.

Ketika J.U. Nasution ingin menulis buku tentang karya Sanusi Pane, ia tidak berhasil mewawancarainya meskipun Nasution telah berulang-ulang mencobanya.

Setelah Nasution bertemu dengan sanusi, Sanusi selalu mengatakan. “Saya bukan apa-apa… … saya bukan apa-apa… ” (Nasution. 1963).

Jawaban itu menggambarkan bahwa Sanusi Pane merasa dirinya belum berbuat sesuatu yang patut dihargai.

Menurut istri Sanusi Pane, pada waktu presiden Soekarno akan memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepada suaminya, Sanusi Pane menolak.

Tentu saja istrinya terkejut. Sanusi Pane memberikan jawaban sebagai berikut:

“Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu, adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa.”

Menurut keyakinan agama hindu, penghargaan semacam itu adalah kebanggaan yang bersifat jasmani yang justru harus dihindari dalam upaya mencapai manusia tingkat tinggi.

Dalam arti lain, jika manusia tidak mampu melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi dia tidak akan dapat mencapai kebahagiaan yang sejati dalam alam baka nanti.

Penolakan Sanusi Pane atas pemberian Satya Lencana itu menunjukan bahwa ajaran keyakinan agama Hindu sudah merasuk ke dalam sanubari Sanusi Pane

meskipun dia dilahirkan dari keluarga yang beragama Islam, bahkan adiknya, Prof. Drs. Lafran Pane, adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ketika Sanusi Pane akan meninggal, dia berpesan agar jenazahnya diperabukan sebagai pujangga Hindu yang telah terdahulu.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | ... | Lanjutannya → | Akhir