Sitor Situmorang (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”. Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Sitor Situmorang dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1945.

Dia lahir pada tanggal 2 Oktober 1924 di Harianboho, Samosir, Sumatera Utara.

Pengalaman kerja di bidang sastra adalah menjadi seorang pemimpin redaksi dari harian Suara Nasional terbitan Sibolga pada saat usianya masih sangat belia, 19 tahun.

Padahal, sebelumnya ia sama sekali belum pernah bersentuhan dengan profesi jurnalistik.

Kemudian bergabung dengan Kantor Berita Nasional Antara, di Pematang Siantar. Sejak tahun 1947, atas permintaan resmi dari Menteri Penerangan, Muhammad Natsir,

Sitor menjadi koresponden Waspada, sebuah harian lokal terbitan kota Medan, Sumatera Utara. Ia ditugaskan menempati pos di Yogyakarta.

Sitor Situmorang identik sebagai sastrawan Angkatan ’45 yang kritis, bahkan menjadi susah memilah-milah apakah ia seorang sastrawan, wartawan, atau politisi,

agaknya bermula dari kisah sukses besarnya sebagai wartawan saat berlangsung Konferensi Federal di Bandung, tahun 1947.

Waktu itu dia memakai tuksedo pinjaman dari Rosihan Anwar, saat itu nama wartawan muda berusia 23 tahun ini begitu fenomenal,

bahkan menjadi buah bibir hingga ke tingkat dunia.

Dia bertemu dalam wawancara dengan Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Negeri Belanda, yang sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda.

Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi tokoh federal untuk memecah-belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menja negara boneka dalam wadah negara federal.

Berhasilnya dia tidak hanya karena berhasil menembus narasumber, Sultan Hamid,  melainkan karena materi wawancara itu memang sangat menarik.

Sitor menanyakan bagaimana pendapat Sultan Hamid mengenai negara Indonesia dan dijawab oleh Sultang hamid dengan,

“Oh, terang republik itu ada, dan tidak bisa dianggap tidak ada”.

Besoknya isi wawancara itu menjadi headline dan semua kantor berita asing mengutipnya.

Peristiwa itu terjadi justru sebelum konferensi resmi dimulai sehingga sudah ada gong awal yang memantapkan eksistensi NKRI.

Sebelum usianya genap 80 tahun, Sitor mempersiapkan perayaan ulang tahun dengan matang. Ia merayakannya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Pada kesempatan itu ada pameran puluhan kumpulan puisi dan berbagai dokumentasi tentang kontribusinya dalam peta perjalanan sastra dan politik di Tanah Air.

Bahkan, beberapa hari sebelumnya, 27 September 2004,  ia memperkenalkan karya-karya puisinya yang belum pernah dikenal orang.

Apakah itu barupa puisi karya terbaru atau puisi lama yang sama sekali belum pernah dikenal orang.

Dia menikah untuk yang kedua kalinya dengan seorang diplomat berkewarnegaraan Belanda, Barbara Brouwer, yang memberinya satu orang anak, Leonard, sudah berbilang setengah abad lebih.

Dari istri pertama, almarhumah Tiominar, dia mempunyai enam orang anak, yakni Retni, Ratna, Gulon, Iman, Logo, dan Rianti.

Setelah tahun 1950-an karya-karya sastranya sudah mengalir ringan begitu saja. Pada tahun 1950-an itu, ia pulang dari Eropa sebagai wartawan, lalu memutuskan berhenti dan bergiat sebagai sastrawan.

Kumpulan puisi pertamanya terbit tahun 1953, diterbitkan oleh Poestaka Rakjat, pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana (STA).

Sitor hafal setiap karya puisinya. Malah, beberapa orang sahabatnya sesama sastrawan, seperti almarhum Arifin C. Noor, almarhum W.S. Rendra,

dan sastrawan asal Madura Zawawi Imron, menyapanya dengan melafalkan petikan puisi karya Sitor sebagai sapaan salam.

Dari lafal petikan itu pula Sitor kenal siapa nama dan identitas orang  yang  menyapanya.

Banyak karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain, Surat Kertas Hijau (1953),

Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS Maenocol, M Nijhoff.

Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra Revolusioner (1965).

Esai Sastra Revolusioner inilah yang mengakibatkan Sitor Situmorang harus mendekam di penjara Gang Tengah Salemba (1967-1975), Jakarta tanpa melalui proses peradilan.

Ia dimasukkan begitu saja ke dalam tahanan dengan tuduhan terlibat pemberontakan.

Disamping karena isi esai Sastra Revolusioner yang sarat dengan kritik-kritik tajam, posisinya sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) periode 1959-1965,

sebuah lembaga kebudayaan di bawah naungan PNI, membuat rezim merasa berkepentingan untuk “menghentikan” kreativitas Sitor.

Berdasarkan itu, ia dengan ringan menyebutkan, “Mungkin karena saya anti-Soeharto saja,” sebagai alasan mengapa ia harus mendekam di penjara Salemba selama delapan tahun.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | ... | Lanjutannya → | Akhir