Yayah B. M. Lumintaintang (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Yayah B.M. Lumintaintang dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1950 – 1960 an.

Beliau lahir pada tanggal 9 Maret 1944 di Cikampek, Jawa Barat. Nama lengkapnya Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang adalah seorang pakar bahasa di bidang Sosiolinguistik. Orangtuanya adalah H. Abdul Mugnie dan Hj. Siti Aisjah.

Yayah menikah pada tahun 1970 dengan M. Rudy Lumintaintang, pemuda asal Manado.

Mereka dikaruniai sepasang anak yang bernama Yan-Yan Yanlein Meilana (sarjana ekonomi, 32 tahun) dan In-In Meilina (sutradara muda, 22 tahun).

Pasangan Yayah dan Rudy Lumintaintang pada tahun 2000 berangkat ke Mekkah untuk melengkapi kehidupan rohaninya, menunaikan ibadah haji.

Pendidikan Yayah dimulai di kota kelahirannya, Cikampek. Ia masuk ke Sekolah Rakyat Negeri (pagi)

dan Madrasah Ibtidaijah Jamijjatul Falaah (sore); tamat dari kedua sekolah itu pada tahun 1956.

Ia melanjutkan sekolahnya ke SGB Negeri Cikampek (1959) dan SGA Negeri Purwakarta (1962).

Kemudian Yayah pergi ke kota Bandung dan kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.

Di sinilah awalnya, Yayah mulai mendalami ilmu yang berkaitan dengan bahasa dan sastra dengan serius.

Akhirnya beliau lulus dan menyandang gelar doktoranda pada tahun 1970 dengan skripsi berjudul “Tinjauan Morfologis atas Kata-Kata Indonesia yang Dipengaruhi Bahasa Belanda”.

Sambil kuliah Yayah juga menyambi mengajar di SMP dan SMA Ampera Bandung (1966—1970) sebagai guru Bahasa Indonesia (ia juga termasuk salah seorang pendiri yayasan sekolah tersebut).

Kemudian pada tahun 1978 setelah melewati penataran bertahap tingkat nasional di bidang sosiolinguistik selama lima tahun,

ia berhasil meraih “Lima Peserta Terbaik” yang mengantarnya mengikuti Post Graduate Training Programme for General Austronesian Linguistics di Universitas Leiden, Belanda.

Berdasarkan itu yang mengantarkan Yayah pada tahun 1990 memperoleh gelar doktor Ilmu-Ilmu Sastra (bidang Sosiolinguistik), dari Universitas Indonesia,

dengan disertasinya yang berjudul “Pola Pemakaian Bahasa dalam Perkawinan Campuran Jawa-Sunda di DKI Jakarta: Kasus Karyawan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia”.

Beliau mengawali karier pada tahun 1970 melalui Lembaga Bahasa Nasional/LBN, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan/PDK (yang kemudian menjadi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, dan kini bernama Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional).

Awalnya beliau menjadi staf biasa di Bidang Bahasa Indonesia dan Daerah, lalu menjadi Kepala Kelompok Kerja Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Bidang Pengembangan Bahasa Indonesia dan Daerah (1985—1990),

dan menjadi Kepala Bidang (Penelitian) Bahasa Indonesia dan Daerah (1992—2000).

Beliau juga telah memperoleh penghargaan Certificate Career Woman Award 2002 dari Yayasan Anugerah Prestasi Indonesia (tahun 2002) dan Satyalancana Karya Satya XX Tahun dari Presiden Republik Indonesia (2004).

Sekarang beliau menjadi tenaga fungsional peneliti di Pusat Bahasa dengan pangkat Ahli Peneliti Utama (A.P.U.).

Dalam menggali dan mengamalkan pengalaman dan ilmunya sudah sangat banyak dan dalam berbagai variasi pula.

Misalnya, ia pernah mengikuti kursus intensif Bahasa Belanda di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (Februari—April 1997)

dan di Universitas Indonesia (Mei 1977); kursus Dialektologi dari Prof. Dr. Bern Nothofer (Juli—Desember 1985); Qualitative Method dari Prof. Dr. Sidney (1987);

kursus Statistik dari Drs. Sjamsuddin R. Endah, M.A. (Februari—Mei 1989); dan kursus Bahasa Inggris dari Prof. Dr. Bryan Smith (1995).

Kemudian beliau pernah menjadi salah seorang pengasuh, penyaji, penulis, dan pembimbing penulisan naskah Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI dan di RRI (1975—2000);

juri lirik lagu “Sepuluh Tembang Tercantik” Radio Prambors Rassisonia (1980—1982);

penatar pada penyegaran bahasa tutur untuk reporter, presenter, editor, produser, pemimpin redaksi Liputan 6 (2003) dan Buser SCTV (2004);

pengasuh dan penulis rubrik “Bahasa Kita” di surat kabar Republika; juri Lomba Pariwara Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengusaha Periklanan Indonesia (1995—2000);

penyuluh/juri Lomba Pidato/Surat Dinas untuk organisasi Kowani, Perwari, HWK, dan Dharma Wanita (1984—2000),

penceramah/pembicara/pelatih tentang Bahasa Indonesia dalam Technical Report Writing Course untuk diklat PT Jasa Marga,

Pertamina, PT Muladaya Adipratama, PT Kalimanis, PT Humanindo, PT Pilar, PT Ashahi Mas, dan PT Jenilu.

Beliau juga menjabat menjadi saksi ahli (bahasa) untuk beberapa kasus di pengadilan.

Menulis serta menyunting buku Istana Kepresidenan Jakarta, Istana kepresidenan Bogor (berikut Pesanggrahan Tenjoresmi),

Istana Kepresidenan Cipanas, Istana Kepresidenan Yogyakarta, dan Istana Kepresidenan Tampaksiring (Bali) di bidang seni dan budaya, Istana Negara Republik Indonesia (2003)

dan menyunting naskah “Koleksi Benda Seni Istana Kepresidenan Republik Indonesia” (2004);

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir