Pesan Sang Ibu – Puisi Karya Wiji Thukul

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Menakjubkan, Mengharukan, dan Tulus

Sastra angkatan reformasi, bentuk: puisi

Karya: Widji Thukul

Ini adalah puisi yang sangat amat luar biasa indahnya, penuh makna, dan menyiratkan pesan yang sangat bermanfaat bagi kita,

bagi generasi penerus, bagi rakyat, bagi pemimpin, dan bagi semuanya. Bacalah sampai akhir, kita akan terkesima  dengan seksama

Dari buku: Aku Ingin Jadi Peluru

Waktu penulisan:

Tatkala aku menyarungkan pedang
Dan bersimpuh di atas pangkuanmu

Tertumpah rasa kerinduanku pada sang Ibu
Tangannya yang halus mulus
membelai kepalaku
bergetarlah seluruh jiwa ragaku

Musnahlah seluruh api semangat juangku
Namun sang Ibu berkata
”Anakku sayang
apabila kakimu sudah melangkah di tengah padang
tancapkanlah kakimu dalam2
dan tetaplah terus bergumam
sebab gumam adalah mantra dari dewa-dewa
gumam mengandung ribuan makna.”

“Apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga
maka gumam akan berubah
menjadi teriakan-teriakan”

“Yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar
yang nantinya akan mampu merobohkan istana
yang penuh kepalsuan gedung-gedung
yang dihuni kaum munafik”

“Tatanan negeri ini sudah hancur Anakku”
“Dihancurkan oleh sang penguasa negeri ini
Mereka hanya bisa bersolek di depan kaca
tapi membiarkannya punggungnya penuh noda
dan penuh lendir hitam yang baunya kemana mana”

Mereka selalu menyemprot kemaluannya
dengan parfum luar negeri
Di luar berbau wangi
di dalam penuh dengan bakteri

Dan hebatnya
sang penguasa negeri ini pandai bermanin akrobat
Tubuhnya mampu dilipat-lipat
yang akhirnya pantat dan kemaluannya sendiri mampu dijilat-jilat

Anakku apabila pedang sudah dicabut
janganlah surut
janganlah bicara soal menang dan kalah
sebab menang dan kalah hanyalah mimpi-mimpi
mimpi-mimpi muncul dari sebuah keinginan,

Keinginan hanyalah sebuah khayalan
yang akan melahirkan harta dan kekuasaan

Harta dan kekuasaan hanyalah balon-balon sabun
yang terbang di udara

Anakku asahlah pedangmu
ajaklah mereka bertarung di tengah padang
lalu tusukkan pedangmu
di tengah-tengah selangkangan mereka

Biarkan darah tertumpah di negeri ini”
Satukan gumammu menjadi revolusi!!!