Sinopsis Cerpen Kencan Pertama (Serial Lupus)- Hilman Hariwijaya

Demi menghargai hak cipta dan jasa sastrawan pujangga, indoSastra menyarankan membeli buku sastra di Toko Buku Online Terpercaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Pada suatu hari di sekolah, Lupus dan Poppy (pacar Lupus) membuat janji untuk kencan dengan nonton bioskop dan makan bakso. Kencan ini sebagai perayaan karena artikel Lupus berhasil memenangkan sayembara.

Lalu mereka sepakat bahwa Lupus yang akan menjemput Poppi ke rumahnya. Mereka akan pergi nonton di bioskop pada jam 5 sore, dan pulangnya akan makan bakso bersama.

Poppy mempersiapkan diri secara khusus dan istimewa untuk kencan pertama ini. Dia sudah bela-belain mandi, gosok gigi, dan cuci rambut. Lengap dengan dandanan dan make up yang luar biasa.

Dia menunggu Lupus lebih awal di teras rumah. Sudah lebih setengah jam menunggu, tapi Lupus belum muncul juga. Dia menduga Lupus mungkin sangat ngaret, maklum dia kan suka makan permen karet.

Tapi Poppi mulai kesal, karena ini adalah saat istimewa dan bersejarah bagi hubungan mereka yang merupakan kencan pertama, dia tidak ingin Lupus terlambat dan mempertahankan kebiasaan ngaretnya.

Namun Poppy berusaha menepis dugaan negatif pada Lupus, dia mengingat masa-masa pertama tertarik pada Lupus. Dulu waktu pertama masuk SMA, Poppy diangkat jadi ketua kelas, dan mengatur siswa lainnya untuk membawa keperluan kelas seperti sapu, kalender, keset, ember, lap, dan lain-lain.

Lupus yang datang terlambat iuga kebagian dapat tugas membawa bulu ayam. Esok harinya Poppy memeriksa kelengkapan yang dibawa oleh teman-temanya.

Ketika sampai di bangku Lupus, Poppy merasa heran, karena dia hanya membawa satu buku, tanpa membawa tidak membawa tas atau bawaan lainnya.

Lalu Poppy mulai menagih bulu ayam yang dibawa Lupus. Tapi Lupus santai saja membolak-balik lembaran bukunya. Lalu dia mengambil sehelai bulu ayam yang terselip.

Poppi hanya melotot padanva, diiringi tawa teman teman vang lain. Tapi Lupus memang tak salah. Dia benar-benar nggak tau kalau yang Poppi maksudkan itu bukan sekadar sehelai bulu ayam, melainkan kemoceng.

Poppi sering geli sendiri jika ingat kejadian itu. Dan entah kenapa, dia jadi suka membayangkan Lupus. Anak itu polos, jarang lho bisa ketemu cowok polos begitu di Jakarta ini.

Tapi sekarang Poppi jadi kesal, Lupus tidak muncul juga, walau waktu Maghrib sudah lewat. Dia lari ke kamar sangat kesal, dan sampai menangis.

Poppi tidak akan mendengar apapun alasan dari Lupus, bahkan dia tak mau lagi bicara lagi dengannya. Betapa tega Lupus mengingkari janjinya. Kencan pertama saja sudah kayak gini, apalagi untuk selanjutnya.

Di sekolah Poppi ketemu Lupus, tapi gayanya biasa saja. Sampai keluar main kedua Lupus tidak juga datang minta maaf padanya. Poppi tambah kesal, padahal sejak jam setengah delapan dia pasang muka mau marah.

Pulang sekolah tanpa diduga, Lupus menunggu di dekat mobil. Diam memandangi daun-daun yang terbang tertiup angin. Poppi memandang heran ke arahnya.

Dengan dongkol Poppi mendorong tubuh Lupus yang menghalangi pintu mobilnya, lalu segera membuka pintu tanpa menoleh.

Setelah itu meledaklah amarah Poppi. Lupus semakin terpojok. Matanya menatap kosong ke depan. Dan sampai sepuluh menit berikutnya, Poppi terus berkicau dengan kecepatan suara yang sukar diukur dengan stop-watch sekalipun. Sampai akhirnya, dia kecapekan sendiri. Menatap Lupus yang sama sekali tidak bereaksi.

Hingga akhirnya Lupus dapat kesempatan bicara. Dengan suara yang sangat pelan dia berkata:

 “Saya nggak tau rumah kamu …. “

“Apa?” Poppi terbelalak.

“Maafkan saya. Saya memang paling norak. Saya malu sekali dengan kebodohan saya ini. Sungguh mati, ini yang pertama buat saya untuk pergi dengan seorang gadis. Saya terlalu gembira dan tak tau apa yang harus saya lakukan. Saya sama sekali nggak sadar kalau saya tak pernah punya alamatmu. Jadi, mana mungkin saya bisa menjemputmu? Kau mau memaafkan saya? Lain kali, saya Janji…” suara Lupus makin pelan.

Beberapa saat, Poppi tak tau apa yang harus dilakukannya. Hanya matanya yang menatap lebih bersahabat.

Besok harinya di sekolah, Poppi menyapa Lupus dengan mesra. Lupus pun membalas dengan segera.

Mereka menyusun rencana baru untuk kencan pada jam 5 sore. Poppi lalu memberikan secarik kertas yang tertulis alamat lengkapnya.

Tak berapa lama, Lupus menyahut dengan nada menggoda:

“Ini, saya juga mau ngasih alamat. jemputlah saya kalau kamu kelamaan menunggu …. “

Poppi pun terkesima melihat kepolosan dan kejenakaan Lupus.