Sinopsis Novel Harimau! Harimau! – Mochtar Lubis

Lalu dengan cepat Wak Katok menembak dan harimau tersebut akhirnya lari dan meninggalkan Pak Balam. Tubuhnya penuh luka, goresan, dan darah.

Mereka lalu merawat Pak Balam. Setelah sadar Pak Balam lalu berkata bahwa ia telah memiliki firasat sebelumnya.

Lalu ia menceritakan mimpi–mimpi buruknya ketika masih di kampung dan di rumah Wak Hitam.

Berdasarkan itu Pak Balam meminta mereka semua untuk bertobat dan mengakui semua dosa. Namun tak ada satu orang pun yang mau mengakui dosa.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Tapi panas Pak Balam tak juga reda, mereka ingin cepat–cepat sampai kampung agar Pak Balam dapat segera diobati.

Musibah datang lagi ketika dalam perjalanan. Talib dibawa lari oleh harimau ketika ia hendak membuang air seni. Saat itu Talib berada di barisan paling belakang.

Kemudian semua anggota mengikuti jejak harimau tersebut. Sampai akhirnya menemukan Talib yang sudah berlumuran darah di tempat terbuka dalam hutan.

Harimau lalu pergi karena mendengar kedatangan rombongan. Kemudian Talib diobati, tapi sayang akhirnya meninggal.

Semua ikut membantu kecuali Wak Katok karena ia adalah seorang pemimpin.

Setelah Talib dikuburkan, Pak Haji dan sutan menjaga pondok serta Pak Balam. Sedangkan yang lain pergi memburu harimau.

Sutan tak tahan mendengar igauan Pak Balam yang meminta untuk mengaku dosa.

Ia pun pergi meninggalkan Pak Haji dan Pak Balam yang sedang sakit dan pergi menyusul kawan–kawan yang lainnya.

Di dalam hutan Wak Katok dan rombongan terus mengikuti jejak harimau. Pada saat mereka merasa sudah dekat dengan sang harimau, mereka menyusun rencana sedemikian rupa.

Mereka kemudian bersembunyi di belakang pohon yang besar dan menunggu sang harimau tiba.

Malam pun tiba, saat itu juga mereka mendengar jeritan manusia, dan auman harimau secara bersamaan.

Tapi mereka tidak menolongnya, dan memutuskan kembali ke tempat mereka bermalam.

Ketika sampai di tempat bermalam, Pak Haji menanyakan keberadaan Sutan.

Mereka menjawab tidak tahu dan menceritakan apa yang terjadi pada dua tempat yang berbeda, mereka pun menyimpulkan bahwa yang menjadi korban harimau tersebut adalah Sutan.

Ketika bangun tidur, mereka terkejut karena Pak Balam akhirnya meninggalkan dunia.

Lalu Pak Balam dikuburkan, dan mereka semua memutuskan untuk pergi berburu.

Wak Katok memutuskan mengambil jalan pintas, ternyata jalan pintas itu melewati hutan yang sangat lembab.

Hutan ini pun seperti tak pernah disentuh makhluk hidup kecuali babi dan badak.

Semua ingin keluar dari rimba jahat tersebut, namun Wak Katok yang menjadi pemimpin rombongan hanya membuat mereka berputar–putar di jalan yang sama karena sebenarnya Wak Katok takut memburu harimau.

Kemudian Wak Katok malah marah–marah sendiri, dan memaksa satu persatu orang untuk mengakui dosa–dosanya.

Semuanya mau menurut kecuali Buyung. Wak Katok memaksa Buyung dengan cara meletakkan senapan di dadanya, dan saat itu pula suara auman harimau terdengar.

Setelah harimau pergi, Wak Katok tak dapat diajak berbicara lagi yang akhirnya Wak Katok pun mengusir mereka.

Kemudian Buyung, Pak Haji, dan Sanip menyusun rencana untuk mengambil senapan. Mereka merebut senapan dan berkelahi dengan Wak Katok.

Akhirnya Wak Katok pingsan dan Pak Haji meninggal karena luka yang disebabkan oleh Wak Katok.

Setelah itu Buyung menyusun rencana yang sangat bagus hingga akhirnya dapat membunuh harimau tersebut.

Dengan menggunakan Wak Katok sebagai umpan dan diikat di sebuah batang pohon yang besar, lalu Buyung melepaskan bidikan ke arah harimau, dan mengenai sasaran tepat, hasilnya harimau tersebut mati.

Pada akhirnya Buyung menjadi mengerti maksud dari Pak Haji bahwa untuk keselamatan kita, sebaiknya dibunuh dahulu harimau yang ada di dalam diri kita.

Buyung menyadari bahwa ia harus mencintai sesama manusia dan ia akan sungguh–sungguh mencintai Zaitun.

Manfaat lainnya adalah Buyung merasa bebas dari hal–hal yang bersifat takhayul, mantera–mantera, jimat yang penuh kepalsuan dari Wak Katok.

Buyung jadi tahu tentang kepemimpinan yang bobrok oleh Wak Katok yang selalu dimitoskan oleh pengikutnya sebagai seorang yang dihormati, disegani, dan sakti.

Tapi pada kenyataannya Wak Katok adalah seorang penakut dan tidak bisa apa-apa.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | 1 | 2 | Akhir