Sinopsis Novel Kemarau – A.A. Navis

Sastra Angkatan 1950 – 1960-an

Karya: A.A. Navis

Ringkasan Umum:

Musim kemarau yang panjang telah membuat semua penduduk desa putus asa dan akhirnya menjadi bermalas-malasan untuk bertani.

Tapi ada seorang bernama Sutan Duano, dia terus mengairi sawah dengan mengangkat air dari danau walaupun panas terik menyengat tubuhnya.

  • ~

Tapi penduduk desa tidak mengikuti tapi malah menyebarkan fitnah pada Sutan Duano.

Setelah Sutan Duano pergi ke Surabaya, penduduk desa merasa kehilangan dan sadar.

Di Surabaya Sutan Duano mendapati bahwa anaknya telah menikah dengan saudaranya sendiri yaitu anak dari mantan istrinya.

Akhirnya kedua anaknya berpisah, dan Sutan Duano kembali ke desa yang dia tinggalkan.

Pada sebuah desa telah terjadi musim kemarau yang panjang. Tanah pertanian dan ladang menjadi retak-retak. Air juga susah didapatkan oleh penduduk.

Kebanyakan petani sudah hilang semangat karena musim kemarau kali ini telah berlangsung sangat lama. Mereka sudah lama menunggu turunnya hujan.

Disamping air yang susah didapat oleh petani, pun cuaca panas dan terik sangat menyengat tubuh.

Hal tersebut membuat mereka tidak lagi mau menggarap sawah ladang atau mengairi sawah mereka.

Sayangnya cobaan ini tidak disikapi dengan arif. Kebanyakan dari mereka hanya bermalas-malasan dan bermain kartu saja.

Tapi ada seorang petani yang tidak mau putus asa dan ikut bermalas-malasan. Namanya adalah Sutan Duano.

Pada musim kemarau ini, dia terus berusaha mengolah sawahnya. Caranya adalah dengan mengangkat air dari danau yang ada di sekitar desa untuk menjaga tanaman tetap tumbuh.

Panasnya sinar matahari yang menyengat tubuh tidak membuatnya patah semangat.

Dengan melakukan tindakan ini ia mengharapkan supaya petani yang lain mengikuti upayanya, dan tidak lagi bermalas-malasan.

Banyak usaha yang dia lakukan untuk memajukan desa, salah satunya adalah memberikan ceramah agama pada ibu-ibu di surau desa.

Tapi sayang tidak ada penduduk desa  yang mengikuti cara Sutan Duano. Dapat disimpulkan bahwa penduduk desa sudah tidak putus harapan menghadapi musim kemarau ini.

Hingga akhirnya ada seorang anak kecil yang bernama Acin merasa tertarik atas upaya Sutan Duano.

Acin membantunya mengairi sawah dan saling bergantian mengambil air di danau dan mengairi sawah mereka.

Tapi kenyataan makin parah, penduduk desa yang melihat kerja sama antara keduanya tidak mengikuti apa yang mereka lakukan,

tapi malah mempergunjingkan dan menyebar fitnah, bahwa sutan Duano mencoba mencari perhatian Gundam ibu si bocah itu, yang memang seorang janda.

Di lain pihak ada seorang janda yang ternyata jatuh cinta pada Sutan Duano , dia juga ikut mempercayai gunjingan itu.

Walau demikian Sutan Duano tidak menanggapi gunjingan di seluruh desa dan tetap bersikap tenang.

Lalu pada suatu hari ia menerima telegram dari anaknya yang bernama Masri dan sudah dua puluh tahun tidak pernah bertemu.

Masri berharap agar Sutan Duano datang ke Surabaya.

Ada dilema dalam diri Sutan Duano. Di satu pihak ia ingin bertemu dengan anak semata wayangnya itu.

Tapi dilain pihak ia tidak mau meninggalkan Acin yang masih memerlukan bimbingannya.

Akhirnya Sutan Duano memutuskan pergi ke Surabaya, setelah berfikir dan mempertimbangkan sekian lama.

Selepas kepergian Sutan Duano, para penduduk desa merasa kehilangan karena kepergiannya.

Penduduk desa melihat bukti bahwa semua saran yang diberikan oleh Sutan Duano membuahkan hasil.

Mereka menyesal telah berburuk sangka terhadap Sutan Duano.

Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya Sutan Duano sampai di Surabaya, tapi hatinya menjadi hancur ketika ia bertemu dengan mertua anaknya.

Ternyata mertua anaknya adalah Iyah yaitu mantan istrinya.

Sutan Duano terkejut dan marah kepada Iyah karena telah menikahkan dua orang yang bersaudara.

Dalam rasa marahnya Sutan Duano mengancam akan memberitahukan kepada Masri dan Arni bahwa mereka adalah bersaudara.

Tapi mantan istrinya Iyah terus menghalangi dengan memukul kepala Sutan Duano dengan sepotong kayu.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | Lanjutannya → | Akhir