Sinopsis Novel Sang Pemimpi – Andrea Hirata

Demi menghargai hak cipta dan jasa sastrawan pujangga, indoSastra menyarankan membeli buku sastra di Toko Buku Online Terpercaya

Sastra angkatan 2000 – an

Karya: Andrea Hirata

Ringkasan umum:

Karya ini adalah kelanjutan dari Novel Laskar Pelangi. Bercerita tentang pengalaman hidup yang penuh dengan mimpi, kerja keras, doa, cinta, dan pengorbanan. Atas izin Allah SWT, semuanya dapat terwujud di luar dugaan logika biasa.

Di pulau Belitong, ada tiga orang siswa yang baru saja tamat SMP. Mereka lalu melanjutkan pendidikan ke SMA Bukan Main. Mereka mempunyai kesamaan yang utama yaitu sama-sama hidup dalam kemiskinan, tapi memiliki mimpi yang tulus dan tinggi.

Tiga siswa tersebut adalah Ikal, Arai, dan Jimbron. Di sekolah mereka agak nakal dan dibenci oleh Wakil Kepala Sekolah bernama Pak Mustar M. Djai’din, BA.

Sementara Bapak Kepala Sekolah yang bernama Pak Drs. Julian Ichsan Balia adalah guru yang membimbing tiga remaja tadi. Kepsek yang akrab dipanggil Pak Balia yang telah memberikan mimpi-mimpi kepada murid-muridnya terutama kepada Ikal, Arai dan Jimbron.

Ada kalimat yang sering diucapkan oleh Pak Balia yang selalu dikenang oleh Ikal, Arai, dan Jimbron:

“ Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Perancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Satre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga merubah peradaban…”,

Pada kehidupan sehari-hari, Ikal bersama saudara angkatnya yakni Arai menjalani hidup yang berat karena tuntutan ekonomi membuat mereka dewasa sebelum waktunya. Untuk tetap bersekolah dan hidup, keduanya bekerja sebagai kuli di sebuah pelabuhan ikan. Waktu kerja mereka dini hari sehingga waktu sekolah tidak terganggu.

Arai adalah saudara angkat Ikal. Dia juga dipanggil the lone ranger atau simpai keramat karena dalam keluarganya ia adalah orang terakhir yang masih hidup dan ia pun diangkat menjadi anak oleh ayah Ikal.

Arai adalah anak Yatim Piatu sejak kecil. Sungguh malang nasibnya, waktu ia kelas 1 SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya, saat itu Arai masih berusia 6 tahun. Kepedihan Arai belum berakhir. Waktu dia kelas 3 SD, ayahnya juga wafat.

Sementara Jimbron adalah seorang anak yang hidupnya juga memprihatinkan. Dia juga seorang yatim piatu. Ketika ia masih kecil, Ibunya sudah meninggal dunia.

Tidak lama setelah itu Ayahnya juga meninggal ketika Jimbron di bonceng ayahnya menggunakan sepeda. Di tengah jalan ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung.

Jimbron yang masih sangat kecil itu kebingungan mencari pertolongan dan akhirnya diboncengnya sendiri ayahnya yang sekarat itu ke puskesmas terdekat. Tapi beberapa saat setelah tiba di Puskesmas, ayahnya meninggal. Mulai saat itulah Jimbron gagap dalam berbicara.

Oleh karena itu siapa saja yang melihat Jimbron akan merasa ingin melindunginya, apalagi tahu jika ia gagap dalam berbicara. Jimbron berwajah bayi dengan tubuh gembur. Pemikirannya lurus, cenderung naïf dan polos.

Jimbron sangat menyukai kuda dan tahu seluk beluk hewan tangkas tersebut. Jimbron menjadi perekat hubungan Ikal dan Arai, oleh sebab keluguannya, ia mudah disayangi dan mendapat simpati. Persahabatan mereka juga tentang bagaimana melindungi Jimbron.

Setelah itu Jimbron diasuh oleh seseorang pendeta bernama Geovanny yang berdarah Italia yang sebenarnya adalah seorang pastor. Namun, pendeta ini tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.

Di sekolah, Arai dan Ikal begitu pintar. Ikal dan Arai selalu menjadi lima dan tiga besar. Sedangkan Jimbron biasa-biasa saja. Dia menduduki rangking 78 dari 160 siswa.

Tapi mereka memiliki mimpi yang sangat tinggi, karena bagi Arai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi.

Arai dan Ikal sama-sama memiliki mimpi melanjutkan belajar ke Sorbonne Perancis. Mereka terinspirasi oleh cerita Kepala Sekolah yaitu Pak Balia, yang selalu bercerita tentang indahnya kota itu.

Demi mewujudkan mimpi tersebut, Ikal, Arai, dan Jimbron bekerja keras menjadi kuli ngambat. Mereka mulai kerja pukul dua pagi sampai jam tujuh. Setelah itu langsung berangkat sekolah.

Tiga remaja itu terus berjuang keras. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Kalau dipikir, tabungan mereka tidak akan cukup untuk mengejar mimpi menuju Prancis. Tapi jiwa optimisme mereka selalu jadi pendorong yang kuat.

Setelah lulus SMA, Arai dan Ikal pergi merantau ke pulau Jawa tepatnya ke Bogor. Sedangkan Jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong.

Sebelum Ikal dan Arai berangkat, Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu bersama mereka.

Ikal dan Arai terkatung-katung di Bogor selama beberapa bulan. Mereka mencari pekerjaan untuk bertahan hidup yang susahnya luar biasa. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima bekerja di kantor pos. Di lain pihak, Arai kemudian memutuskan untuk merantau ke Kalimantan.

Satu tahun lebih berlalu, Ikal lalu memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ekonomi pada Universitas Indonesia. Ikal menempuh kuliah dengan perjuangan keras selama bertahun-tahun.

Setelah lulus dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi, Ikal mendaftar pada lowongan untuk mendapatkan beasiswa S2 ke Eropa. Ada ribuan orang yang bersaing mendapatkan beasiswa tersebut.

Banyak peserta yang gugur pada proses seleksi. Alhamdulillah Ikal berhasil maju untuk mendapatkan posisi 15 besar.

Pada proses seleksi wawancara, tanpa diduga profesor pengujinya sangat terkesan dengan proposal riset yang diajukan Ikal. Karena walau hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai tukang sortir, tulisannya begitu hebat.

Setelah proses wawancara berakhir, tanpa disangka dan diduga ada sebuah kejutan yang luar biasa. Ternyata Arai pun ikut dalam proses wawancara itu.

Setelah beberapa tahun tidak ada kabar berita dari Arai, akhirnya Ikal dan Arai dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat.

Ternyata Arai tidak pernah berubah. Dia selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanakannya bertahun-tahun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Biologi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.

Beberapa waktu kemudian. Ikal dan Arai pulang kampung ke Belitung. Mereka sama-sama menanti surat pengumuman hasil seleksi beasiswa ke Eropa. Ketika ada surat datang, hati mereka berdebar-debar membuka isinya

Di satu sisi, Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Arai sangat ingin membuka kabar itu bersama orang yang sangat dia rindukan.

Jantung mereka makin berdegup kencang. Baik Arai maupun Ikal, keduanya tidak sabar untuk mengetahui isi dari surat itu.

Ikal lalu membuka dan membaca surat dengan seksama. Hasilnya adalah dia diterima di Perguruan tinggi Sorbone, Prancis.

Kemudian Arai juga membaca surat pengumuman juga. Dia membaca nama universitas dia diterima, dan di negara mana universitas itu berada.

Dengan perlahan mereka mencocokkan surat pengumuman seleksi beasiswa tersebut. Ternyata kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Inilah jawaban dari mimpi, doa, dan perjuangan mereka.