Sinopsis Novel Saraswati: Si Gadis Dalam Sunyi – A.A Navis

Sastra Angkatan 1966 -1970 an

Karya: A. A Navis

Di Jakarta ada sebuah keluarga yang terdiri dari ayah ibu dan lima orang anak. Sang ayah adalah karyawan kantor didampingi oleh istri sebagai ibu rumah tangga.

Ada seorang anak perempuan yang kebetulan cacat yaitu tuli dan bisu. Dia memiliki 2 orang kakak dan 2 orang adik.

Karena tuli dan bisu, wanita tersebut tidak pernah tahu siapa namanya.

Pada Hari Sabtu sore semua anggota keluarga pergi ke Bandung dengan naik mobil sedan dinas baru ayah.

Anak perempuan tersebut tidak diajak, karena sedang sakit. Dia tinggal ditemani oleh bibi.

Hari Minggu sore mestinya mereka telah kembali. Karena besoknya, hari Senin, Ayah harus masuk kantor, juga kakak-kakak dan adik-adik sudah harus ke sekolah.

Tapi sampai pagi hari Senin mereka tidak kembali.

Hingga pada Hari Kamis datanglah paman dan memberi tahu bahwa mobil yang dikendarai ayah masuk jurang.

Ayah, ibu, dan saudara-saudara semuanya meninggal dunia.

Sekarang dia hidup seorang diri dan merasa sangat sedih, apalagi dia wanita cacat yang tuli dan bisu.

Dalam rasa duka tersebut dia jadi ingat bahwa ayahnya adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab dan tidak memperlakukannya seperti layaknya bukan seorang wanita yang cacat.

Ibunya lebih perasa dan sangat melindungi perempuan tersebut, terlebih kalau dijahili oleh adik-adik dan orang lain.

Setelah hidup sebatang kara, akhirnya atas kesepakatan keluarga yang berada di Jakarta dan di kampung,

akhirnya anak perempuan tersebut pulang ke kampung halamannya yaitu di Kota Padangpanjang, Sumatra Barat.

Walaupun berat hatinya untuk meninggalkan Jakarta yang penuh kenangan manis bersama ayah bunda dan adik kakak yang sudah tiada,

tapi dia tidak kuasa menolak karena dia hanya perempuan yang tuli dan bisu.

Dia dijemput oleh kakak ayahnya yang bernama Angah, mereka pulang kampung dengan naik kapal.

Tapi sayang, dalam perjalanan dia diolok-olok orang penumpang kapal lainnya karena dia cacat.

Hatinya bertambah sedih mengingat seandainya orang tuanya masih hidup pasti akan marah kalau dia dihina dan diolok-olok, apalagi karena dia cacat.

Akhirnya dia dan Angah sampai di Kota Padangpanjang yang berhawa dingin. Disana bertemu dengan dua orang anak Angah yang bernama Busra dan Bisri.

Penduduk di Padangpanjang ramah pada gadis tersebut, mungkin karena mereka tahu bahwa nasib paling malang telah menimpanya.

Mereka sering menyapa tapi hanya bisa dibalas dengan senyuman, karena gadis itu tuli dan bisu.

Tapi banyak anak-anak yang mengolok-olok gadis tersebut dan melempar dengan ranting dan batu.

Namanya juga anak-anak karena suka mempermainkan orang yang buta dan tuli.

Tapi bagi sang gadis sangatlah menyakitkan apalagi dia pernah terluka dilempar oleh mereka.

Gadis itu banyak sekali membantu keluarga Angah, seperti memasak dan mencuci.

Yang bikin repot adalah memelihara ternak itik yang banyak, mulai dari memberi makan, membersihkan kandang, dan menjaga itik di halaman rumah.

Derita sang gadis terus berlanjut. Karena disamping pekerjaan tadi, sekarang dia harus memelihara kambing.

Dia berfikir dalam hati, apakah setelah ditinggal oleh orang tua dan saudara-saudaranya,

dia harus menjadi penggembala ternak yang setiap hari harus berkotor-kotor, apalagi dia adalah seorang gadis.

Ketika sampai di Kota Padangpanjang sang gadis memiliki tiga buah sandal, tapi sekarang semuanya habis karena selalu dipakai, dan harus bertelanjang kaki kemana-mana, sehingga kakinya menjadi pecah-pecah.

Hatinya sangat sedih menerima kenyataan ini, tapi dia tidak bisa menyampaikan perasaan hati kepada orang lain karena dia tuli dan bisu.

Setiap hari dia hanya menangis sendiri.

Hanya Busra yang bisa mengerti kesedihan sang gadis, dia sering menghibur meskipun dengan isyarat saja, karena mereka tidak bisa berkomunikasi karena sang gadis tuli dan bisu.

Kemudian sang gadis belajar menyulam dan menjahit setelah diantar Angah.

Karena kakaknya Busra dan Bisri tidak punya sapu tangan, sang gadis berkeinginan untuk membuatkan sapu tangan bagi mereka.

Tapi ada perasaan yang berbeda ketika dia menyulam sapu tangan. Dia menyulam dengan kemesraan dan keindahan perasaan ketika membuat sapu tangan buat Busra.

→ "Bersambung:" Awal | 1 | 2 | ... | Lanjutannya → | Akhir