Sinopsis Novel Sengsara Membawa Nikmat – Tulis Sutan Sati

Demi menghargai hak cipta dan jasa sastrawan pujangga, indoSastra menyarankan membeli buku sastra di Toko Buku Online Terpercaya

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Tulis Sutan Sati

Ringkasan Umum:

Novel ini menceritakan kebaikan seseorang yang tulus dan tidak mengharapkan imbalan. Ada orang yang tidak suka, dan berusaha membuat orang baik tadi menjadi sengsara. Setelah melewati derita yang silih berganti, orang baik tersebut mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan, dan berhasil membongkar kejahatan orang yang selama ini meresahkan masyarakat.

Pada sebuah desa di daerah Minangkabau (Sumatra Barat), ada dua pemuda yang sifatnya sangat berbeda. Pertama adalah Kacak, mempunyai Mamak (paman)  seorang kepala desa yang kaya raya. Kacak adalah pemuda yang amat sombong, dan tidak suka melihat orang bahagia.

Kedua adalah Midun, pemuda yang rendah hati, ramah, baik, taat agama dan juga pintar silat.

Penduduk desa sangat membenci sifat Kacak dan mereka lebih menyenangi Midun. Kacak amat iri dan dengki melihat Midun banyak disenangi warga dikampungnya. Kacak senang mencari gara-gara pada Midun.

Pada suatu ketika, tiba-tiba Kacak mengajak Midun berkelahi. Tapi Midun tidak mau menanggapi tantangan itu karena ilmu silat yang dia pelajari dari Guru Mengaji yaitu Haji Abbas dan Pendekar Sutan hanya akan digunakan untuk tujuan baik yaitu membela diri atau melindungi orang saja.

Istri Kacak secara tidak sengaja terjatuh dalam sungai, dan hampir saja lenyap dibawa arus. Kebetulan Midun berada tidak jauh dari sana. Midun dengan cepat menolong istri Kacak itu.

Melihat Midun menggendong istrinya yang sedang lunglai, Kacak jadi sangat cemburu, apalagi saat itu istrinya dalam keadaaan telanjang. Kemudian menfitnah Midun ingin memperkosa dan mengajaknya berkelahi.

Saat itu Midun menerima tantangan Kacak. Midun menang dalam perkelahian itu. Kacak menjadi semakin marah pada Midun karena kalah, lalu melaporkan semuanya pada Tuanku Laras.

Kacak melancarkan fitnah pada Midun, ternyata Tuanku Laras percaya dengan tuduhan Kacak itu. Midun mendapat hukuman dari Tuanku Laras.

Hukuman pada Midun adalah harus bekerja di rumah Tuanku Laras tanpa digaji. Orang yang ditugaskan oleh Tuanku Laras untuk mengawasi Midun selama menjalani hukuman itu adalah Kacak.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Kacak dan dimanfaatkan untuk menyiksa Midun. Hampir tiap hari Midun diperlakukan secara kasar. Pukulan dan tendangan Kacak sering menghantam Midun. Serta berbagai kata hinaan dari Kacak diterima Midun. Tapi semua perlakuan itu Midun terima dengan penuh kepasrahan.

Tapi Kacak belum puas juga walau Midun telah mendapat hukuman dari Mamaknya. Dia belum puas kalau Midun masih dengan bebas berkeliaran di kampung.

Dia tidak rela kalau Midun masih berada di kampung. Jika Midun masih berada di kampung, berarti masih menjadi penghalang utama bagi Kacak untuk bisa berbuat seenaknya di kampung itu. Karena itulah dia hendak melenyapkan Midun dari kampung mereka untuk selama-lamanya.

Kacak akhirnya mendapat ide melenyapkan Midun. Kacak membayar beberapa orang pembunuh bayaran. Usaha untuk melenyapkan Midun itu dilaksanakan ketika di kampung itu diadakan perlombaan kuda. Ketika Midun dan Maun sedang membeli makanan di warung kopi di pinggir gelanggang pacuan kuda, orang-orang sewaan Kacak  menyerang Midun dengan sebilah pisau.

Midun dan Maun untunglah sigap dalam menghadapi pembunuh bayaran itu. Tapi perkelahian antar mereka tidak bisa dihindari di dalam acara pacuan kuda. Perkelahian berhenti ketika polisi datang. Midun dan Maun langsung ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Setelah dibawa ke kantor polisi, Midun dan Maun diperiksa, dan Maun dinyatakan bebas sedangkan Midun dinyatakan harus mendekam dipenjara.

Kacak senang mendengar berita itu, karena tanpa Midun penduduk kampung akan kewalahan menghadapi tingkah Kacak berbuat keributan di kampung itu.

Midun mengalami berbagai siksaan selama di penjara, baik oleh para sipir penjara ataupun oleh Para tahanan yang ada dalam penjara itu.

Para tahanan itu kemudian tidak berani mengganggu Midun karena ilmu silat Midun yang tak terkalahkan, walau dengan yang paling hebat di tahanan itu. Sejak itu Midun sangat dihormati oleh para tahanan lainnya. Midun menjadi sahabat mereka.

Ketika Midun bertugas menyapu jalan, dia melihat seorang wanita cantik sedang duduk-duduk melamun di bawah pohon kenari. Ketika sang gadis pergi, ternyata kalung yang dikenakan gadis itu tertinggal di bawah pohon.

Kemudian kalung itu dikembalikan oleh Midun ke rumah si gadis. Sangat senang hati gadis itu sampai jatuh hati sama Midun yang ternyata jatuh hati juga sama si gadis yang bernama Halimah.

Setelah itu hubungan mereka semakin dekat dan sering bertemu di jalan tempat mereka bertemu dulu. Saling cerita pengalaman hidup, Halimah bercerita bahwa dia tinggal dengan seorang ayah tiri.

Dengan ayah tirinya itu hidup Halimah tidak bebas dan membuat Halimah ingin selalu pergi dari rumah. Dia sangat mengharapkan suatu saat dia bisa tinggal dengan ayahnya yang tinggal di Bogor.

Setelah keluar dari penjara, Midun membawa lari Halimah dari rumah ayah tirinya. Usaha Midun dibantu oleh Pak Karto seorang sipir penjara yang baik hati. Midun membawa Halimah ke Bogor ke rumah orang tua Halimah.

Ketika sampai di rumah ayah halimah di Bogor, Midun pun tahu bahwa Ayah Halimah orangnya baik. Dia sangat senang kalau Midun bersedia tinggal bersama mereka.

Sekitar dua bulan Midun bersama ayah Halimah. Akhirnya Midun merasa tidak nyaman selama tinggal dengan keluarga Halimah itu hanya tinggal makan minum saja. Midun mulai mencari pekerjaan ke Jakarta.

Dalam perjalanan menuju Jakarta. Midun berkenalan dengan saudagar kaya keturunan arab yang ternyata seorang rentenir. Karena Midun menganggap orang itu adalah seorang Syekh akhirnya Midun mau menerima uang pinjaman dari orang itu.

Atas saran Syekh itu, Midun membuka usaha dagang di Jakarta. Usaha Midun makin lama makin besar, karena Midun memulai usahanya dengan amat baik sampai akhirnya maju pesat.

Melihat kemajuan usaha Midun, ternyata Syekh Abdullah Al-Hadramut iri hati. Lalu menagih hutangnya Midun dengan jumlah yang jauh sekali dari jumlah pinjaman Midun.

Jelas saja Midun tidak bersedia membayar dengan jumlah yang berlipat lipat ganda. Setelah gagal mendesak Midun dengan cara demikian, rupanya Syekh menagih dengan cara lain.

Dia rela uangnya tidak dibayar atau dianggap lunas, asal Midun bersedia menyerahkan Halimah untuk dia jadikan sebagai istrinya. Jelas tawaran itu membuat Midun marah besar pada Syekh. Halimah juga sangat marah dan kecewa.

Syekh mencari cara lain agar Midun hancur.  Syehk mengajukan Midun ke pengadilan. Midun diadili dengan tuntutan hutang. Dalam persidangan  Midun dinyatakan bersalah, dan Midun masuk penjara lagi.

Suatu hari, ketika hari bebas dari penjara, Midun berjalan-jalan ke Pasar Baru. Di sana tiba tiba Midun melihat suatu keributan. Ada seorang pribumi sedang mengamuk menyerang seorang Sinyo Belanda.

Langsung saja Midun yang suka menolong orang itu, dan menyelamatkan si Sinyo Belanda. Sinyo Belanda itu sangat berterima kasih pada Midun yang telah menyelamatkan nyawanya.

Midun kemudian diperkenalkan kepada orang tua Sinyo. Orang tua Sinyo Belanda itu ternyata seorang Kepala Komisaris, yang dikenal sebagai Tuan Hoofdcommissaris.

Tanda ucapan terima kasihnya pada Midun yang telah menyelamatkan anaknya   maka Midun langsung diberin pekerjaan. Awalnya pekerjaan Midun sebagai seorang juru tulis.

Karena sudah mendapat pekerjaan, Midun merasa cukup mapan untuk menjadi kepala rumah tangga, Midun lalu melamar Halimah. Lalu mereka pun menikah di Bogor di rumah orang tua Halimah.

Karena ketekunan Midun, prestasinya kian hari kian meningkat dimata pimpinannya. Midun kemudian diangkat menjadi Kepala Mantri Polisi di Tanjung Priok.

Midun ditugaskan menumpas para penyeludup di Medan. Selama di Medan Midun  bertemu dengan adiknya  yaitu Manjau. Manjau bercerita banyak tentang kampung halamannya.

Midun sangat sedih mendengar kabar keluarganya di kampung yang hidup menderita karena ulah Kacak. Akhirnya ketika dia pulang ke Jakarta, Midun langsung memohon untuk ditugaskan di Kampung halamannya. Permohonan Midun itu dipenuhi oleh pimpinannya.

Kacak sangat khawatir melihat kepulangan Midun ke kampung halamannya, apalagi melihat pangkat Midun yang tinggi. Waktu itu Kacak sudah menjadi penghulu di kampung.

Kacak menjadi takut sebab dia takut perbuatannya yang telah menggelapkan kas negara itu akan terbongkar.

Dia yakin Midun akan berhasil membongkar perbuatan jeleknya itu. Tidak, lama kemudian, memang Kacak ditangkap. Dia terbukti telah menggelapkan uang kas negara yang ada di desa mereka.

Sebagai akibatnya adalah Kacak masuk penjara. Sedangkan Midun hidup berbahagia bersama istri dan seluruh keluarganya di kampung.