Sinopsis Novel Supernova 3: Petir – Dewi Lestari

Sastra Angkatan tahun 2000

Karya: Dewi Lestari (Dee)

Di Kota Bandung Jawa Barat ada tempat servis elektronik yang bernama Wijaya Eletronik. Ini adalah usaha dari sebuah keluarga keturunan China (Tiong Hoa).

Sang Ayah sering dipanggil Dedi dan memiliki 2 anak perempuan. Anaknya diberi nama dengan nuansa listrik dan elektronik, sang kakak diberi nama Watti (dengan 2 huruf t), dan yang kedua bernama Elektra yang berusia sekitar 20 tahun.

Sejak masih kecil, kedua anak ini sangat jarang mempunyai mainan baru, kalau ada hanya hasil dari mainan rusak yang diperbaiki Dedi. Pernah juga waktu kecil Elektra tersetrum listrik dari kabel yang tidak sengaja disentuh, tapi dia tidak cedera.

Ternyata dari dulu, Dedi memang sudah memiliki nuansa dan aura kelistrikan. Pernah Elektra menyentuhkan test-pen ke tubuh Dedi dan dapat menyala.

Waktu kecil Elektra sangat senang menyaksikan kilatan petir dan sering menari-nari di bawah hujan saat petir manggelegar. Watti merasa heran melihat tingkah laku Elektra.

Pada suatu hari Watti minta ijin pada Dedi untuk pindah ke Agama Islam. Lalu mereka sekeluarga membahas kepindahan agama tersebut. Karena hidup mereka yang bernuansa listrik, lalu dipakailah istilah bahwa Agama Islam dan Katholik diibaratkan seperti listrik yang dipakai di negara lain. Agama Islam diibaratkan dengan listrik 110 volt dan Agama Katholik adalah listrik 220 volt.

Pada suatu hari, tanpa diduga dan tanpa ada firasat, Dedi mendapat serangan penyakit stroke. Tapi sayang ayah dari Watti dan Elektra meninggal dunia karena penyakit itu. Kedua anak perempuan tersebut jadi sangat sedih. Terlebih lagi Elektra yang menjadi trauma atas kehilangan ayahnya.

Beberapa waktu setelah sang ayah meninggal, Watti menikah dengan Kang Atam yaitu seorang dokter lulusan Universitas Pajajaran. Pasangan ini kemudian pindah ke Tembagapura, lalu mereka hidup dalam naungan agama islam.

Sementara Elektra tinggal sendiri di rumah yang disebut Eleanor. Pada suatu hari dia menerima surat dari STIGAN (Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional) dan menawarkan padanya untuk menjadi Asisten Dosen di Universitas tersebut.

Membaca surat tersebut Elektra jadi heran dan resah, lalu dia pergi ke seorang dukun sakti untuk meminta perlindungan. Ternyata si dukun malah berniat cabul kepada gadis ini.

Untuk melindungi diri, Eletra menepisnya dan memegang pundak si dukun. Setelah disentuh Elektra, seketika si dukun pingsan seperti kena setrum listrik. Akhirnya Elektra selamat dari tindakan tidak senonoh.

Kemudian Elektra menyelidiki dan mengetahui bahwa surat dari STIGAN hanyalah mainan orang iseng dan ingin menakuti orang lain.

Pada suatu hari Elektra bertemu dengan teman sekolahnya waktu SMA dulu. Dia memiliki warnet. Elektra pun diajarkan menggunakan internet. Semenjak saat itu Elektra seperti menemukan kehidupan baru semenjak kenal internet.

Setelah itu Elektra menjadi kecanduan internet dan mampu berada di depan komputer dalam jangka waktu yang sangat lama. Akhirnya Elektra jatuh sakit karena kelelahan. Setelah itu datanglah Ibu Sati yang memiliki toko yang menjual perlengkapan pemujaan.

Setelah berbincang dan berdiskusi, kemudian Ibu Sati mengajarkan berbagai hal kepada Elektra. Ibu Sati juga yang menyarankan Elektra untuk mempunyai komputer sendiri.

Elektra kemudian pergi ke pameran komputer bersama penjaga warnet teman SMA nya yang bernama Kewoy. Mereka berencana untuk membeli komputer. Anehnya, Elektra sangat tertarik dan membeli komputer super canggih yang sangat mahal, yaitu 17 juta rupiah.

Awal | 1 | 2 | Berikutnya→ | Akhir