Alasan Tepat bikin Blog, Duniakan Karya Sastra Kita

IndoSastra.com

Sastra nan Update dan Eksis

Alhamdulillah, di era digital yang serba canggih ini, mencurahkan pikiran dan informasi sudah sangat mudah. Dalam hitungan detik atau menit, kita dapat berbagi kepada sahabat, kerabat, dan semua yang kita kenal.

Pilih Blog vs Media Sosial

Seperti kita ketahui, tempat mencurahkan fikiran dan update sangat banyak. Di antaranya adalah blog dan media sosial.

Media sosial, adalah media yang dapat digunakan oleh semua orang, tapi sayangnya itu bukanlah milik kita, dan tidak menjelaskan identitas kita sebagai pemiliknya.

Media sosial pun hanya sebatas menggunakan, sangat kecil kemungkinan kita menghasilkan uang atau pendapatan.

Kalau blog, kita bisa dengan bebas memiliki alamat domain sesuai keinginan kita, bebas mengelola tampilan, dan juga ada fitur untuk menghasilkan uang atau pendapatan.

Ngeblog Gampang dan Simpel

Banyak blogger yang sukses meraih keuntungan dan populer di media karena berbekal tulisan di blog. Bahkan ada beberapa orang yang menjadikan blogger sebagai pekerjaan utamanya.

Mencari Mudah Ide dan Alasan Ngeblog

Saat ini tersedia banyak sekali topik untuk mengaktualisasi diri di dunia maya melalui blog kita.

Berikut adalah beberapa alasan yang bisa dikembangkan

1. Karya Sastra
Melalui blog, kita bisa menduniakan karya sastra yang kita hasilkan sepanjang waktu, seperti puisi, cerpen, prosa, pantun, dan lain sebagainya

2. Blog Pribadi
Buat yang malas membuat blog dengan topik dan tema tertentu, tidak masalah. Buat blog pribadi saja! Kamu bisa tulis konten sesukamu dan semau kamu. Sudah banyak artis yang populer karena menjadi blogger misalnya Raditya Dika, Benazio Kribo, Shitlicious dan sebagainya.

3. Blog Informasi
Blog ini membahas tentang informasi berbagai hal. Kamu bisa pilih informasi spesifik ataupun informasi global tentang bisnis, teknologi ataupun otomotif.

4. Blog Lifestyle
Nah agar tetap mengikuti tren, blog lifestyle bisa jadi pilihan.

5. Blog Food dan Traveling
Buat yang suka jalan-jalan dan kulineran, mungkin blog food and traveling ini cocok untuk kamu.

6. Blog Review Produk
Siapa disini yang suka cari informasi dulu sebelum membeli suatu produk? Nah, buat yang melek teknologi ataupun suka membeli produk tertentu, kamu bisa buat blog review produk. Misalnya review produk handphone, laptop, komputer, otomotif dan sebagainya.

7. Blog Politik
Untuk yang suka dunia politik, kamu bisa pilih membuat blog politik yang isinya tentang peraturan pemerintah dan pandangan-pandangan ke depan. Namun, jangan buat blog dengan konten hoaks dan menyebarkan kebencian ya.

8. Blog Kesehatan
Untuk yang berkecimpung di dunia kesehatan, berbagi ilmu kepada orang lain melalui blog juga bisa kamu pilih lho!

9. Blog Fashion
Kamu anak fashionable banget? Yuk bagi tips dan trik serta gaya fashion terbaru kamu melalui blog.

10. Blog Parenting
Sekarang ini, blog parenting juga banyak diminati. Banyak ibu-ibu yang “googling” di internet tentang tips dan trik bagaimana mengurus anak, tips memilih sekolah yang bagus dan sebagainya.

11. Blog Riset
Kamu bisa tuliskan berbagai macam riset dan eksperimen tentang sesuatu dan sebagainya.

12. Blog Tutorial
Kamu bisa menulis tutorial berbagai hal. Misalnya, tutorial membuat website, tutorial cara membuat blog, tutorial memasak sayur kangkung, tutorial mengganti ban mobil dan sebagainya.

Next, How To and Easy Steps

Sekarang, marilah kita mengetahui bagaimana cara membuat blog hingga menjadi blog profesional dan banyak pengunjungnya?

Kemudian mengetahui cara membuat blog mudah untuk pemula? maka DomaiNesia akan mengajak kamu untuk membuat blog profesional.

Untuk Informasi lengkap, langsung aja ke Domainesia yang sudah terbukti handal dan sudah dipercaya oleh banyak blogger pemula dan professional.

Kemudian akan diberi panduan lengkap tentang cara membikin blog, yang mudah diterapkan dan terlihat menarik untuk dibaca.

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.

Legenda: “Buaya Perompak” (Cerita Rakyat Lampung)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Lampung yaitu Legenda “Buaya Perompak” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Dikisahkan pada suatu masa, di Provinsi Lampung terdapatlah Sungai Tulang Bawang.

Sungai ini dari dulu terkenal karena di dalamnya terdapat banyak buaya yang ganas dan sangat berbahaya.

Oleh karenanya, warga yang berlayar disana maupun para penduduk yang tinggal di sekitarnya perlu untuk sangat berhati-hati.

Berdasarkan cerita dari masyarakat yang berada di sana, diketahui bahwa sudah banyak manusia yang hilang begitu saja di sungai tersebut.

Hingga pada suatu waktu, peristiwa yang ditakutkan kembali terjadi. Ada seseorang yang hilang di sungai tersebut.

Dia adalah seorang gadis rupawan yang bernama Aminah.

Lalu seluruh penduduk pun mencari Aminah ke berbagai tempat sungai Tulang Bawang tersebut.

Tapi usaha mereka sia-sia karena tidak ada sama sekali jejak yang tertinggal. Aminah telah hilang tanpa diketahui sedikit pun.

Sementara itu, tanda disangka, ternyata Aminah tergolek di dalam sebuah gua besar.

Ketika dia siuman dan jadi sadar dari pingsannya, Aminah jadi terperanjat waktu melihat bahwa gua itu dipenuhi oleh harta benda yang ternilai harganya.

Banyak sekali yang dia lihat, seperti permata, emas, intan, maupun pakaian yang indah-indah. Harta benda itu mengeluarkan sinar yang berkilauan.

Aminah masih tercengang, tapi tiba-tiba dari sudut gua terdengarlah sebuah suara yang besar, “janganlah takut gadis rupawan!

Meskipun aku berwujud buaya, sebenarnya aku adalah manusia sepertimu juga”.

Suara itu pun melanjutkan: “Aku dikutuk menjadi buaya karena perbuatanku dulu yang sangat jahat.

Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Dulu aku selalu merampok setiap saudagar yang berlayar disini”

Dia berkata lagi: “Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini. Kalau aku butuh makanan maka harta itu kujual sedikit di pasar desa tepi sungai.

Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku telah membangun terowongan di balik gua ini.

Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut”.

Banyak sekali yang disampaikan oleh buaya tersebut, artinya secara tidak langsung si buaya perompak tersebut sudah membuka rahasia gua tempat kediamannya.

Kemudian dengan penuh perhatian, Aminah dengan seksama Aminah menyimak dan mengingat semua keterangan berharga yang disampaikan.

Lalu buaya itu selalu memberinya hadiah perhiasan. Dia berharap agar Aminah mau tetap tinggal bersamanya.

Tapi ternyata keinginan Aminah untuk segera kembali ke kampung halamannya makin kuat.

Hingga pada suatu waktu, buaya perompak tersebut sedikit lengah. Ia tertidur dan meninggalkan pintu guanya terbuka.

Dengan bergegas Si Aminah pun segera keluar sambil berjingkat-jingkat. Kemudian di balik gua itu ditemukannya sebuah terowongan yang sempit.

Aminah terus saja menelusuri terowongan itu walau cukup lama juga karena panjangnya terowongan tersebut.

Akhirnya Aminah melihat sinar matahari. Hatinya sangat senang ketika keluar dari mulut terowongan yang panjang tersebut.

Ketika sampai di pintu keluar terowongan, Aminah minta tolong. Kemudian didengar oleh penduduk desa.

Untunglah ada penduduk desa yang kebetulan sedang berada di dekat terowongan karena mereka sedang mencari rotan. Aminah pun ditolong.

Sebagai ucapan terima kasih, kemudian Aminah memberi mereka hadiah sebagian perhiasan yang dibawanya.

Setelah itu, Aminah melanjutkan perjalanan menuju desanya yang dulu ditinggalkan. Dia pun sampai disana dengan selamat.

Mulai saat itu Aminah kembali melanjutkan hidup. Dia sangat senang sudah berada lagi di desanya yang indah dan permai.

Aminah pun hidup bahagia dan sejahtera.

Hijrah – Puisi Karya Emha Ainun Nadjib

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berharga

Sastra angkatan 1980-an, bentuk: puisi

Karya: Emha Ainun Nadjib

Ini adalah salah satu puisi relijius dengan lantunan kata-kata yang tertata apik dan terencana secara matang oleh seorang budayawan dan sastrawan setinggi Emha

Dari buku: Seribu Mesjid Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba

Waktu penulisan: tahun 1985

mimpiku pawai burung
tanpa sayap terbang ke surga
mimpiku mata rabun
nyangkut di langit hampa
insyaallah angan-angan ini
disetujui oleh para nabi
tapi jarang kuteliti
teori mereka mengolah bumi
kemudian tiba ke khomeiny
marx, fraire, dan ali syari’ati
madrasah frankfurt, ngo pinggir kali
berperang brubuh di rumah sini
di wajah beberapa kawan
nama-nama itu menjelma siluman
ketika tangan mereka acungkan
terciptalah mesin percetakan
aku jatuh terjengkang
tolol di pojok jalan
hanya sanggup berpamitan
hijrah ke semesta pengembaraan

Danarto (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Danarto dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966.

Sastrawan ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

Riwayat pendidikan beliau adalah Sekolah Dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP).

Setelah itu meneruskan pendidikan di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo.

Lalu pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.

Danarto punya Bapak bernama Jakio Harjodinomo yaitu seorang mandor pabrik gula.

Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.

Bakat di bidang seni Danarto sudah terlihat sejak kecil. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar.

Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar.

Disamping itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding).

Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.

Pengalaman kerja Danarto di bidang seni yaitu pada tahun 1969 hingga 1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.

Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari.

Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.

Pada tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang.

Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris.

Kemudian pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya.

Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman.

Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

Tulisannya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”,

dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”.

Salah satu cerpennya yaitu yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968.

Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah.

Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis,

Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling.

Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia).

Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi.

Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).

Karya-karya Danarto:

  1. Godlob (kumpulan cerpen, 1975),
  2. Adam Makrifat (kumpulan cerpen, 1982),
  3. Berhala (kumpulan cerpen, 1987),
  4. Orang Jawa Naik Haji (1984),
  5. Obrok Owok-Owok,
  6. Ebrek Ewek-Ewek (drama, 1976),
  7. Bel Geduwel Beh (drama, 1976),
  8. Gergasi (kumpulan cerpen, 1993),
  9. Gerak-Gerak Allah (kumpulan esai, 1996), dan
  10. Asmaraloka (novel, 1999).

Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis.

Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah:

Hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta dan hadiah dari Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982 atas cerpennya Adam Makrifat serta hadiah dari Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1987 atas kumpulan cerpennya Berhala.

Selain itu, pada tahun 1988 ia mendapat SEA Write Award dari Kerajaan Thailand.

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Raudal Tanjung Banua (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Raudal Tanjung Banua dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan tahun 2000.

Sastrawan gemilang Minangkabau ini lahir pada tanggal 19 Januari 1975 di Lansano, Nagari Taratak, Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Sejak Sekolah Dasar beliau sudah terbiasa tinggal di ladang bersama orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

Pendidikan yang pernah ditempuh adalah Jurusan Teater di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Sebenarnya sudah sejak kecil beliau berminat menulis dan mencurahkan pikiran untuk karya sastra.

Karya-karya yang tercipta walaupun masih sederhana, tapi sudah bisa membuat cerpen, puisi, dan novel.

Beliau menulis dengan keterbatasan peralatan yaitu dengan sebuah buku yang sering dipotong dan dikumpulkannya.

Apalagi di rumahnya tidak ada meja, dia hanya menulis sambil tengkurap. Bahkan tidak ada lampu listik seperti sekarang.

Karena beliau sering menulis sampai malam, maka hanya ditemani oleh cahaya dari lampu minyak tanah.

Untuk memupuk bakat, beliau juga acap kali meminjam buku di perpustakaan.

Dijadikan sebagai pembanding, dan sarana untuk mengembarai dunia sastra yang terdapat dalam buku.

Beliau sering mewakili sekolahnya ketika ada perlombaan karang-mengarang. Bahkan karya-karyanya beberapa kali memenangkan lomba tersebut.

Hasil karya Raudal Tanjung Banua banyak menarik perhatian sekitarnya, walau masih terbatas  di kalangan guru, kawan sekolah, dan orang sekampung.

Setelah remaja beliau mulai bekerja menjadi koresponden di harian Semangat dan Harian Haluan di Padang, Sumatera Barat.

Setelah itu beliau mengembarai ranah sastra sampai ke Denpasar Bali dan berafiliasi dengan Sanggar Minum Kopi dan mendalami sastra bersama penyair Umbu Landu Paranggi.

Pengembaraan sastranya berlajut sampai ke Yogyakarta.

Di kota ini juga beliau mendirikan komunitas Rumah Lebah dan aktif dalam lembaga kajian kebudayaan AKAR Indonesia,

yaitu sebuah lembaga kajian yang menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia.

Penghargaan yang diraih:

  1. Finalis Khatulistiwa Literary Award (KLA), 2005
  2. Penghargaan puisi terbaik Sih Award dari Jurnal Puisi, tahun 2004
  3. Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison

Karya-karya Raudal Tanjung Banua:

  1. Pulau Cinta di Peta Buta (kumpulan cerpen, 2003)
  2. Ziarah bagi yang Hidup (kumpulan cerpen, 2004)
  3. Parang Tak Berulu (kumpulan cerpen, 2005)
  4. Gugusan Mata Ibu (kumpulan puisi, 2005)
  5. Metamorfosa Cicak di Atas Peta (kumpulan cerpen, 2003)

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.