Danarto (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Danarto dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966.

Sastrawan ini dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Provinsi Jawa Tengah.

Riwayat pendidikan beliau adalah Sekolah Dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP).

Setelah itu meneruskan pendidikan di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo.

Lalu pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.

Danarto punya Bapak bernama Jakio Harjodinomo yaitu seorang mandor pabrik gula.

Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.

Bakat di bidang seni Danarto sudah terlihat sejak kecil. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar.

Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar.

Disamping itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding).

Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.

Pengalaman kerja Danarto di bidang seni yaitu pada tahun 1969 hingga 1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.

Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari.

Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.

Pada tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang.

Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris.

Kemudian pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya.

Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman.

Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

Tulisannya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”,

dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”.

Salah satu cerpennya yaitu yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968.

Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah.

Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis,

Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling.

Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia).

Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi.

Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).

Karya-karya Danarto:

  1. Godlob (kumpulan cerpen, 1975),
  2. Adam Makrifat (kumpulan cerpen, 1982),
  3. Berhala (kumpulan cerpen, 1987),
  4. Orang Jawa Naik Haji (1984),
  5. Obrok Owok-Owok,
  6. Ebrek Ewek-Ewek (drama, 1976),
  7. Bel Geduwel Beh (drama, 1976),
  8. Gergasi (kumpulan cerpen, 1993),
  9. Gerak-Gerak Allah (kumpulan esai, 1996), dan
  10. Asmaraloka (novel, 1999).

Karya-karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis.

Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah:

Hadiah sastra dari Dewan Kesenian Jakarta dan hadiah dari Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982 atas cerpennya Adam Makrifat serta hadiah dari Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1987 atas kumpulan cerpennya Berhala.

Selain itu, pada tahun 1988 ia mendapat SEA Write Award dari Kerajaan Thailand.

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Raudal Tanjung Banua (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Raudal Tanjung Banua dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan tahun 2000.

Sastrawan gemilang Minangkabau ini lahir pada tanggal 19 Januari 1975 di Lansano, Nagari Taratak, Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Sejak Sekolah Dasar beliau sudah terbiasa tinggal di ladang bersama orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

Pendidikan yang pernah ditempuh adalah Jurusan Teater di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Sebenarnya sudah sejak kecil beliau berminat menulis dan mencurahkan pikiran untuk karya sastra.

Karya-karya yang tercipta walaupun masih sederhana, tapi sudah bisa membuat cerpen, puisi, dan novel.

Beliau menulis dengan keterbatasan peralatan yaitu dengan sebuah buku yang sering dipotong dan dikumpulkannya.

Apalagi di rumahnya tidak ada meja, dia hanya menulis sambil tengkurap. Bahkan tidak ada lampu listik seperti sekarang.

Karena beliau sering menulis sampai malam, maka hanya ditemani oleh cahaya dari lampu minyak tanah.

Untuk memupuk bakat, beliau juga acap kali meminjam buku di perpustakaan.

Dijadikan sebagai pembanding, dan sarana untuk mengembarai dunia sastra yang terdapat dalam buku.

Beliau sering mewakili sekolahnya ketika ada perlombaan karang-mengarang. Bahkan karya-karyanya beberapa kali memenangkan lomba tersebut.

Hasil karya Raudal Tanjung Banua banyak menarik perhatian sekitarnya, walau masih terbatas  di kalangan guru, kawan sekolah, dan orang sekampung.

Setelah remaja beliau mulai bekerja menjadi koresponden di harian Semangat dan Harian Haluan di Padang, Sumatera Barat.

Setelah itu beliau mengembarai ranah sastra sampai ke Denpasar Bali dan berafiliasi dengan Sanggar Minum Kopi dan mendalami sastra bersama penyair Umbu Landu Paranggi.

Pengembaraan sastranya berlajut sampai ke Yogyakarta.

Di kota ini juga beliau mendirikan komunitas Rumah Lebah dan aktif dalam lembaga kajian kebudayaan AKAR Indonesia,

yaitu sebuah lembaga kajian yang menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia.

Penghargaan yang diraih:

  1. Finalis Khatulistiwa Literary Award (KLA), 2005
  2. Penghargaan puisi terbaik Sih Award dari Jurnal Puisi, tahun 2004
  3. Anugerah Sastra Horison untuk cerpen terbaik dari Majalah Sastra Horison

Karya-karya Raudal Tanjung Banua:

  1. Pulau Cinta di Peta Buta (kumpulan cerpen, 2003)
  2. Ziarah bagi yang Hidup (kumpulan cerpen, 2004)
  3. Parang Tak Berulu (kumpulan cerpen, 2005)
  4. Gugusan Mata Ibu (kumpulan puisi, 2005)
  5. Metamorfosa Cicak di Atas Peta (kumpulan cerpen, 2003)

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.

Agus R. Sarjono (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Agus R. Sarjono dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan tahun 2000.

Sastrawan ini lahir pada tanggal 27 Juli 1962 di Bandung, Provinsi Jawa Barat

Riwayat pendidikan yang berhasil dicatat yaitu lulus dari IKIP Bandung (S1) pada studi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UI untuk S-2-nya.

Semasa mahasiswa ia aktif di Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sebagai ketua (1987-1989).

Pengalaman kerja Agus yaitu pernah menjadi salah seorang Ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006.

Sebelumnya ia adalah Ketua Komite Sastra DKJ periode 1998-2001.

Mengenai pekerjaan pokok ia bekerja sebagai pengajar di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung serta menjadi redaktur majalah Sastra Horison.

Disamping menjadi editor sejumlah buku antara lain: Saini KMPuisi dan Beberapa Masalahnya (1993);

Catatan Seni (1996); Kapita Selekta Teater (1996); Pembebasan Budaya-Budaya Kita (1999);

Dari Fansuri ke Handayani (2001); Horison Sastra Indonesia (2002); Horison Esai (2003);

Malam Sutera: Sitor Situmorang (2004); Teater Tanpa Masa Silam: Arifin C. Noer (2005); oetry and Sincerity (2006), Agus R. Sarjono juga menulis beberapa cerita pendek.

Acapkali Agus R. Sarjono menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat berbagai koran, majalah, dan jurnal terkemuka di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Puisinya telah banyak dikaji oleh peneliti dalam dan luar negeri. Dr. Heike Gäßler, teaterawan dan sinolog di Berlin adalah salah satu pengkaji puisi Agus R. Sarjono.

Agus berpendapat tentang kumpulan puisi Tulang Segar dari Banyuwangi (Frische Knochen aus Banyuwangi).

“Agus R. Sarjono tidak saja menciptakan gambar/imaji, tetapi juga membangunkan elemen dan figur dalam puisinya agar hidup.

Agus membuatnya berkomunikasi seperti dalam suatu drama. Hal tersebut mengingatkan saya akan kebiasaan animistis.

Selain mengikuti bengkel kerja puisi, seperti Asean Writers Conference/Workshop (Poetry) di Manila (1994);

Agus juga pernah menjadi tutor/pendamping penyair Indonesia dalam Bengkel Puisi Majelis Sastera Asia Tenggara di Jakarta (1997).

Dia pernah diundang membacakan sajaknya di beberapa festival internasional, seperti Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta (1995),

Festival Seni Ipoh III di negeri Perak, Malaysia (1998); Malam Puisi Indonesia-Belanda di Erasmus Huis (1998);

Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999; 2003), Malam Indonesia, Paris (1999);

Festival Internasional Poetry on the Road, Bremen (2001), Internasionales Literaturfestival, Berlin (2001), dan Puisi Internasional Indonesia di Makassar dan Bandung (2002).

Agus sering diundang pula menjadi pemakalah di berbagai kegiatan sastra, antara lain “Mimbar Penyair Abad 21″ di TIM (1996);

“Pertemuan Sastrawan Nusantara IX/Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997″ di Sumatera Barat;

“Pertemuan Sastrawan Nusantara X/Pertemuan Sastrawan Malaysia I” di Johor Bahru

Mulai dari bulan Februari hingga Oktober 2001, Agus tinggal di Leiden, Belanda sebagai writer in residence atas undangan Poets of All Nations serta peneliti tamu pada International Institute for Asian Studies (IIAS), Universitas Leiden.

Ia juga pernah diundang sebagai penyair tamu di Heinrich Böll Haus, Langenbroich, Jerman, sejak Desember 2002 hingga Maret 2003.

Dalam masa itu ia diundang berdiskusi dan membacakan puisinya di berbagai universitas terkemuka dan pusat kesenian di Jerman.

Sejak enam tahun yang lalu, ia merupakan salah seorang instruktur sastra bagi para guru se-Indonesia.

Kesibukannya yang lain adalah sebagai anggota Majelis Sastra Asia Tenggara yang disponsori oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Salah satu karyanya pernah dimuat dalam cerpen pilihan Kompas 2003. Karya esainya diterbitkan dalam buku, antara lain Bahasa dan Bonafiditas Hatu (2001) dan Sastra dalam Empat Orba (2001).

Karya dramanya, terbit dalam buku Atas Nama Cinta (2004). Puisinya terbit dalam berbagai antologi di Indonesia, bahkan di Manila (Filipina), Seoul (Korea Selatan), serta Bremen dan Berlin (Jerman).

Selain itu, karyanya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Serbia, Arab, Korea, dan China.

Bersama Berthold Damshauser, ia menjadi editor seri puisi Jerman dan menerjemahkan beberapa puisi, antara lain, Zaman Buruk bagi Puisi,

Berthold Brecht (2004); Candu dan Ingatan, Paul Celan (2005); Satu dan Segalanya, Johann Wolfgang von Goethe (2007).

Sekarang Agus R. Sarjono bersama istri dan dua anaknya kini tinggal di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

 Karya-karya Agus R. Sarjono:

 Puisi

  1. Kenduri Air Mata (1994; 1996)
  2. A Story from the Land of the Wind (1999, 2001)
  3. Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001; 2003)
  4. Frische Knöckhen aus Banyuwangi (dalam bahasa Jerman, 2002)
  5. Diterbangkan Kata-Kata (antologi puisi, 2006)
  6. Kepada Urania (terjemahan karya Joseph Brodsky, 1998)
  7. Impian Kecemburuan (terjemahan karya Seamus Heaney, 1998

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Diah Hadaning (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Diah Hadaning dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980 -1990 – an.

Sastrawati dan penyair produktif ini lahir pada tanggal 4 Mei 1940 di Jepara, Jawa Tengah.

Pendidikan terakhir yang pernah ditempuh oleh Diah Hadaning adalah PSA Semarang.

Sejak puisi pertamanya dimuat di Harian Simfoni pada tahun 1973, ia rajin berkarya.

Bermukim di berbagai kota mulai dari Yogyakarta, Semarang, dan Kota Jakarta.

Pengalaman kerja adalah pernah bekerja di Perwakilan Departemen Sosial, Semarang.

Pernah juga mengajar dan jadi guru di Sekolah Tuna Netra, Semarang.

Menjadi redaktur mingguan Swadesi di Jakarta (1987-1998), namun koran itu berhenti terbit pada 1999.

Disamping itu, Diah Hadaning juga  menjadi penulis dalam bahasa daerah (Jawa) berupa gurit (puisi), cerkak (cerpen) dan naskah lakon tradisional.

Dia juga mendirikan Komunitas Sastra Indonesia pada tahun 1996.

Serta membangun ’Warung Sastra Diha’, yaitu sebuah komunitas dialog jarak jauh yang melayani berbagai ‘urusan hidup‘ khususnya sastra.

Warung tersebut masih tetap eksis sampai saat ini.

Penghargaan yang diraih:

  1. Hadiah Gapena dari negeri jiran Malaysia, pada tahun 1980, atas Manuskrip Surat dari Kota yang memuat 100 puisi
  2. penghargaan dari Yayasan Ebony yang diketuai oleh Ibu Pertiwi Hasan (2003), atas puisinya tentang pelestarian hutan mendapatkan
  3. Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai “Penulis antologi Puisi Tertebal pada Usia Tertua, 700 Halaman pada Usia 70 Tahun” .

Karya-karya Diah Hadaning:

  1. Proses Kreatifku dalam Pesona Etika-Estetika dan Mistika (buku)
  2. Surat dari Kota, Ballada Sebuah Nusa (Kumpulan sajak, 1979)
  3. Kabut Abadi (Kumpulan sajak, bersama I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, 1979), 
  4. Jalur-Jalur Putih (Kumpulan sajak, 1980)
  5. Pilar-Pilar (Kumpulan sajak, bersama Putu Arya Tirtawirya, 1981)
  6. Kristal-Kristal (Kumpulan sajak, bersama Dinullah Rayes, 1982)
  7. Nyanyian Granit-Granit (Kumpulan sajak, 1983)
  8. Balada Sarinah (Kumpulan sajak, 1985)
  9. Sang Matahari (Kumpulan sajak, 1986)
  10. Nyanyian Hening Senja Kala (Kumpulan sajak, bersama Rita Oetoro, 1996), 
  11. Gong Bolong (Kumpulan sajak, bersama para penyair Depok, 2008)

Demikianlah informasinya, semoga bermanfaat.

Putu Wijaya (Sastrawan dan Pujangga)

Tim indoSastra

Profil sastrawan ini data awalnya diambil dari lembaga pemerintahan Indonesia, ini berdasarkan “Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik”Data tersebut kemudian diolah supaya lebih mudah dibaca.

Putu Wijaya dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1966 – 1970 an.

Sastrawan, seniman, dan dramawan ini lahir pada tanggal 11 April 1944 di Puri Anom, Tabanan, Bali.

Dia yang kita kenal sebagai tokoh yang cukup dikenal ini mempunyai nama yang cukup panjang, yaitu I Gusti Ngurah Putu Wijaya.

Riwayat pendidikan beliau adalah SD dan SMP di Bali. Pada masa remaja ia sudah menunjukkan kegemarannya pada dunia sastra.

Saat masih duduk di sekolah menengah pertama, ia mulai menulis cerita pendek dan beberapa di antaranya dimuat di harian Suluh Indonesia, Bali.

Waktu SMA, ia memperluas wawasannya dengan melibatkan diri dalam kegiatan sandiwara.

Setelah selesai sekolah menengah atas, ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, kota seni dan budaya.

Di Yogyakarta, selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI),

drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra.

Dari Fakultas Hukum, UGM, ia meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

Setelah kira-kira tujuh tahun tinggal di Yogyakarta, Putu pindah ke Jakarta.

Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer.

Di samping itu, ia juga bekerja sebagai redaktur majalah Ekspres.

Setelah majalah itu mati, ia menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979).

Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974).

Pada saat masih bekerja di majalah Tempo, ia mendapat beasiswa belajar drama di Jepang (1973) selama satu tahun.

Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, ia belajar hanya sepuluh bulan.

Kemudian ia kembali aktif di majalah Tempo. Pada tahun 1975 ia mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat.

Setelah itu, ia juga pernah menjadi redaktur majalah Zaman (19791985).

Ada juga pengalamannya bermain drama di luar negeri, antara lain dalam Festival Teater Sedunia di Nancy, Prancis (1974) dan dalam Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Pernah juga membawa Teater Mandiri berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel dan berpentas di Jepang (2001).

Di samping itu, ia juga pernah mengajar di Amerika Serikat (1985–1988).

Selain itu, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron.

Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari.

Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.

Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater.

Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969).

Ia juga pernah tampil bersama kelompok Sanggar Bambu.

Selain itu, ia juga (telah berani) tampil dalam karyanya sendiri yang berjudul Lautan Bernyanyi (1969).

Ia adalah penulis naskah sekaligus sutradara pementasan itu.

Naskah dramanya itu menjadi pemenang ketiga Sayembara Penulisan Lakon yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia.

Karena kegiatan sastranya lebih menonjol pada bidang teater, Putu Wijaya pun lebih dikenal sebagai dramawan.

Sebenarnya, selain berteater ia juga menulis cerpen dan novel dalam jumlah yang cukup banyak, di samping menulis esai tentang sastra.

Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel, telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand.

Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama.

Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya.

Mengenai karya-karya Putu itu, Rachmat Djoko Pradopo (dalam Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh, 1985) memberi komentar bahwa Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup karena dorongan naluri yang terpendam dalam bawah sadar, lebih-lebih libido seksual yang ada dalam daerah kegelapan.

a. Drama

  1. Dalam Cahaya Bulan (1966)
  2. Lautan Bernyanyi (1967)
  3. Bila Malam Bertambah Malam (1970)
  4. Invalid (1974)
  5. Tak Sampai Tiga Bulan (1974)
  6. Anu (1974)
  7. Aduh (1975)
  8. Dag-Dig-Dug (1976)
  9. Gerr (1986)
  10. Edan
  11. Hum-Pim-Pah
  12. Dor
  13. Blong
  14. Ayo
  15. Awas
  16. Los
  17. Aum
  18. Zat
  19. Tai
  20. Front
  21. Aib
  22. Wah
  23. Hah
  24. Jpret
  25. Aeng
  26. Aut
  27. Dar-Dir-Dor

b. Novel

  1. Bila Malam Bertambah Malam (1971)
  2. Pabrik (1976)
  3. Stasiun (1977)
  4. Keok (1978)
  5. Sobat (1981)
  6. Lho (1982)
  7. Telegram (1972)
  8. Tiba-Tiba Malam (1977)
  9. Pol (1987)
  10. Terror (1991)
  11. Merdeka (1994)
  12. Perang (1992)
  13. Lima (1992)
  14. Nol (1992)
  15. Dang Dut (1992)
  16. Kroco (1995)
  17. Byarpet (1995)
  18. Cas-Cis-Cus (1995)
  19. Aus (1996)

c. Kumpulan Cerpen

  1. Bom (1978)
  2. Es (1980)
  3. Gres (1982)
  4. Klop, Bor, Protes (1994)
  5. Darah (1995)
  6. Yel (1995)
  7. Blok (1994)
  8. Zig Zag (1996)
  9. Tidak (1999)

d. Novelet

  1. MS (1977)
  2. Tak Cukup Sedih (1977)
  3. Ratu (1977)
  4. Sah (1977)

Karya esainya terdapat dalam kumpulan esai Beban, Kentut, Samar, Pembabatan, Klise, Tradisi Baru, Terror Mental, dan Bertolak dari yang Ada.

Penghargaan yang telah diterimanya ialah sebagai berikut:

  1. 1967 Pemenang ketiga Lomba Sayembara Penulisan Lakon Badan Pembina Teater Nasional Indonesia (drama Lautan Bernyanyi)
  2. 1971 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ (novel Telegram)
  3. 1975 Pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ (novel Stasiun)
  4. 1980 Penerima SEA Write Award dari Kerajaan Thailand
  5. 1991-1992 Penerima Profesional Fellowship dari The Japan Foundation, Kyoto, Jepang

Alamat Putu Wijaya: Kompleks Astya Puri 2 No.A9 Jalan Kerta Mukti, Ciputat, Jakarta Selatan. Telepon/faksimile: (021) 7444678. Pos-el: wijayaputu@hotmail.com

Sumber: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan