Hijrah – Puisi Karya Emha Ainun Nadjib

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berharga

Sastra angkatan 1980-an, bentuk: puisi

Karya: Emha Ainun Nadjib

Ini adalah salah satu puisi relijius dengan lantunan kata-kata yang tertata apik dan terencana secara matang oleh seorang budayawan dan sastrawan setinggi Emha

Dari buku: Seribu Mesjid Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba

Waktu penulisan: tahun 1985

mimpiku pawai burung
tanpa sayap terbang ke surga
mimpiku mata rabun
nyangkut di langit hampa
insyaallah angan-angan ini
disetujui oleh para nabi
tapi jarang kuteliti
teori mereka mengolah bumi
kemudian tiba ke khomeiny
marx, fraire, dan ali syari’ati
madrasah frankfurt, ngo pinggir kali
berperang brubuh di rumah sini
di wajah beberapa kawan
nama-nama itu menjelma siluman
ketika tangan mereka acungkan
terciptalah mesin percetakan
aku jatuh terjengkang
tolol di pojok jalan
hanya sanggup berpamitan
hijrah ke semesta pengembaraan

Pil – Puisi Karya Sutardji Calzoum Bachri

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Menakjubkan dan Kreatif

Sastra angkatan 1966 – 1970 an, bentuk: puisi

Karya: Sutardji Calzoum Bachri (SCB)

Walau susah dimengerti, tapi seperti puisi beliau yang lain, puisi ini juga kaya makna dan sering menjadi bahan penelitian oleh kalangan akademisi di perguruan tinggi terkemuka di negeri ini.

Dari buku: O Amuk Kapak

Waktu penulisan: tahun 1976

memang pil seperti pil macam pil walau pil
hanya pil hampir pil sekedar pil ya toh pil
meski pil tapi tak pil apalah pil
pil pil pil mengapa gigil? ku demam pil bilang
obat jadi barah
apakah pasien?
tempeleng!

Refleksi Seorang Pejuang Tua – Puisi Karya Taufiq Ismail

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Berjiwa Revolusi

Sastra angkatan 1966, bentuk: puisi

Karya: Taufiq Ismail

Ini adalah salah satu puisi perjuangan demi cinta tanah air dan bangsa

Dari buku: Tirani dan Benteng

Waktu penulisan: tahun 1966

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan
Setelah mereka menyimak deru sejarah

Dalam regu perkasa mulailah melangkah
Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dari kalbu yang murni

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali dua puluh tahun yang lalu

Mahasiswa telah meninggalkan ruang-kuliahnya
Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya

Mereka kembali menyeru-nyeru
Nama kau, Kemerdekaan
Seperti dua puluh tahun yang lalu

Spiral sejarah telah mengantarkan kita
Pada titik ini

Tak ada seorang pun tiran
Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan
Dan berseru: Berhenti!

Tidak ada. Dan kalau pun ada
Tidak bisa

Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dimulai dari sunyi

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali duapuluh tahun yang lalu

Sajak Kota – Puisi Karya Wiji Thukul

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Menakjubkan, Mengharukan, dan Tulus

Sastra angkatan reformasi, bentuk: puisi

Karya: Widji Thukul

Puisi ini bercerita tentang Kota Surakarta (Solo). Ada cerita tentang jalan utama, dan ada juga cerita tentang perubahan yang terjadi di kota tersebut.

Dari buku: Aku Ingin Jadi Peluru

Waktu penulisan: Bulan Desember Tahun 1987

kota macam apa yang kita bangun
mimpi siapa yang ditanam

di benak rakyat
siapa yang merencanakan
lampu-lampu menyibak
jalan raya dilicinkan
di aspal oleh uang rakyat
motor-motor mulus meluncur

merek-merek iklan
di atap gedung
menyala
berjejer-jejer

toko roti
toko sepatu
berjejer-jejer

salon-salon kecantikan
siapa merencanakan nasib rakyat?

Pemandangan
aku pangling betul

pada ini jalan jendral Sudirman
balaikota makin berubah
sampai Slamet Riyadi-Gladag

reklame rokok berkibar-kibar
spanduk show band
pameran rumah murah
(tapi harganya jutaan!)

kehingaran jalan raya
menyolok mata

Jendral Sudirman
dihiasi slogan-slogan pembangunan

tapi kantor pos belum berubah
bank-bank dan gereja makin megah

di pojok Ronggowarsito
ada aturan baru
becak dilarang terus
(bis kota turah-turah penumpang!)

Bertemu – Puisi Karya Sutan Takdir Alisjahbana

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra yang Bermutu Tinggi

Sastra Angkatan Pujangga Baru, bentuk: Puisi

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ini adalah salah satu puisi yang diciptakan dengan rangkaian makna indah oleh STA, tentang keyakinan masa depan dan keagungan Tuhan, kata mengalir pasti dengan pola yang terencana apik

Dari buku: Tebaran Mega

Waktu penulisan: 26 April 1935

Aku berdiri di tepi makam
Suria pagi menyinari tanah,
merah muda terpandang di mata

Jiwaku mesra tunduk ke bawah
Dalam hasrat bertemu muka,
Melimpah mengalir kandungan rasa

Dalam kami berhadap-hadapan
menembus tanah yang tebal
Kuangkat muka melihat sekitar:

Kuburan berjajar beratus-ratus,
Tanah memerah, rumput merimbun,
Pualam berjanji, kayu berlumut

Sebagai kilat ‘nyinar di kalbu:
Sebanyak it curahan duka,
Sesering itu pilu menyayat,

Air mata cucur ke bumi
Wahai adik, berbaju putih
Dalam tanah bukan sendiri!

Dan meniaraplah jiwaku papa
Di kaki Chalik yang esa:
Di depanMu dukaku duka dunia,

Sedih kalbukuku sedih semesta
Beta hanya duli di udara
Hanyut mengikut dalam pawana

Sejuk embun turun ke jiwa
Dan di mata menerang sinar