Jangan Disesal pada Tudung – Puisi Karya Marah Rusli

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berkualitas

Sastra Angkatan Balai Pustaka, bentuk: Pantun

Karya: Marah Rusli

Judul Pantun: Jangan Disesal pada Tudung (Pantun penghibur Samsul Bahri pada kekasihnya)

Ini adalah salah satu pantun karya Marah Rusli, mengisahkan tentang cinta yang dirangkai dengan kata penuh makna dan disusun dengan pola yang rapih

Dari buku: Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

Dalam:  Bab IX. Samsul Bahri pulang ke Padang

Jangan disesal pada tudung
tudung saji teredak Bantan
Jangan disesal kepada untung
sudah nasib permintaan badan

Ke rimba berburu kera
dapatlah anak kambing jantan
Sudah nasib apakan daya
demikian sudah permintaan badan

Sudah begitu tarah papan
bersudut empat persegi
Sudah begitu permintaan badan
sudah tersurat pada dahi

Dikerat rotan belah tiga
nakhoda berlayar dekat Jawa
Jangan diturut hati yang luka
binasa badan dengan nyawa

Sakit Mengandung Duri – Puisi Karya Marah Rusli

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berkualitas

Sastra Angkatan Balai Pustaka, bentuk: Syair

Karya: Marah Rusli

Judul Syair: Sakit Mengandung Duri (Syair duka nestapa Sitti Nurbaya)

Ini adalah salah satu syair karya Marah Rusli, tentang kesedihan hati Sitti Nurbaya yang berdoa kepada Tuhan, mengharapkan kenangan indah kepada sang kekasih

Dari buku: Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

Dalam:  Bab X. Kenang-kenangan kepada Samsul Bahri

Ya Allah, ya Rabbana
Tiadakah kasih hamba yang hina?
Menanggung siksa apalah guna
Biarlah hanyut ke mana-mana

Tiada sanggup menahan sengsara
Seilang waktu mendapat cedera
Dari bencana tiadak terpiara
Seorang pun tiada berhati mesra

Mengapakah untung jadi melarat?
Bagai dipukul gelombang barat
Suata tak sampai cinta dan hasrat
Kekasih ke mana hilang mengirat?

Apakah dosa salahku ini?
Maka mendapat siksa begini
Badan yang hidup berasa fani
Seorang pun tiada mengasihani

Semenjak ayahku telah berpulang
Godaan datang berulang-ulang
Sebilang waktu berhati walang
Untung yang mujur menjadi malang

Ditinggal ibu ditinggal bapa
Kekasih berjalan bagaikan lupa
Sudahlah malang menjadi papa
Penuh segala duka nestapa

Mengapa nasib hamba begini?
Azab siksaan tidak tertahani
Jika tak sampai hayatku ini
Biarlah badan hancur dan fani

Aduhai bunda, aduh ayahda!
Mengapa pergi tinggalkan ananda?
Tiada kasihan di dalam dada
Melihat yatim berhati gunda

Mengapa ditinggalkan anak sendiri?
Biasa dijaga sehari-hari
Sakit sebagai mengandung duri
Ke mana obat hendak dicari?

Pertemuan Sesaat – Puisi Karya Marah Rusli

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berkualitas

Sastra Angkatan Balai Pustaka, bentuk: Pantun Berbalas

Karya: Marah Rusli

Ini adalah salah satu pantun yang biasanya dibaca oleh dua orang secara bersahutan, diciptakan dengan indah, kaya makna, dan penuh romantika oleh Marah Rusli

Dari buku: Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

Dalam:  Bab XI. Nurbaya lari ke Jakarta

– Dari jauh kapalmu datang
pasang bendera atas kemudi
Dari jauh adikmu datang
melihat Kakanda yang baik budi

+ Selasih di kampung Batak
perawan luka tentang kaki
Terima kasih banyak-banyak
sudi datang melihati

– Sultan Iskandar raja Sikilang
raja Barus pegang tongkatnya
Tidak disesal badanku hilang
sudah harus pada tempatnya

+ Sukar membilang buah kelapa
burung pipit terbang sekawan
Biar hilang tidak mengapa
asal bersama dengan Tuan

Di Sawah Jangan Memukat Ikan – Puisi Karya Marah Rusli

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berkualitas

Sastra Angkatan Balai Pustaka, bentuk: Pantun

Karya: Marah Rusli Judul Pantun: Di Sawah Jangan Memukat Ikan (Pantun larahati Sitti Nurbaya)

Ini adalah salah satu pantun karya Marah Rusli, mengisahkan tentang cinta yang dirangkai dengan kata penuh makna dan disusun dengan pola yang rapih

Dari buku: Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai Dalam:  Bab IX. Samsul Bahri pulang ke Padang

1

Di sawah jangan memukat ikan ikan bersarang dalam padi Susah tak dapat dikatakan ditanggung saja dalam hati

Gantungan dua tergantung tergantung di atas peti Ditanggung tidak tertanggung sakit memutus rangkai hati

Buah pinang di dalam puan tumpul kacip asah di batu Tidakkah iba gerangan tuan kepada adik yatim piatu?

Lubuk baik kuala dalam pasir sepanjang muaranya Buruk baik minta digenggam badanlah banyak sengsaranya

Ikatkan mati pisang berjantung hunus keris letakkan dia Niat hati hendak bergantung putus tali apakan daya

2

Dari Perak ke negeri Rum berlayar lalu ke kuala Jangan diharap untung yang belum sudah tergenggam terlepas pula

Orang Pagai mencari lokan kembanglah bunga serikaya Aku sebagai anak ikan kering pasang apakan daya

Singapura kersik berderai tempat ketam lari berlari Air mata jatuh berderai sedihkan untung badan sendiri

Berbunyi kerbau Rangkas Betung berbunyi memanggil kawan Menangis aku menyadar untung untungku jauh dari awan

Berlayar dari Teluk Betung anak Bogor mencari tiram Apa kuharap kepada untung perahu bocor menanti karam

Tikar pandan dua berlapis dilipat digulung anak Bangka Sesal di badan tidak habis karena untung yang celaka

Dari Mana Hendak ke Mana – Puisi Karya Marah Rusli

— Tim indoSastra Pencari Karya Sastra Berkualitas

Sastra Angkatan Balai Pustaka, bentuk: Pantun

Karya: Marah Rusli

Ini adalah salah satu pantun karya Marah Rusli, mengisahkan tentang cinta yang dirangkai dengan kata penuh makna dan disusun dengan pola yang rapih

Dari buku: Novel Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

Dalam:  Bab XI. Nurbaya lari ke Jakarta

Dari mana hendak ke mana
dari Jepun ke bandar Cina
Jangan marah saya bertanya
bunga yang kembang siapa punya?

Bajang-bajang tertali sutera
tulang dibakar baunya sangit
Dilihat gampang dipegang susah
sebagai bulan di atas langit

Dari mana datangnya lintah
dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
dari mata jatuh ke hati

Laju-laju perahu laju
kapal berlayar ke Surabaya
Biar lupa kain dan baju
jangan lupa kepada saya