Sinopsis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck – Buya Hamka

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka

Ringkasan Umum:

Novel ini bercerita tentang kisah cinta dua insan, tapi dipisahkan oleh tradisi adat.

Ada dua adat yang ada dalam novel ini yaitu Budaya Minangkabau (Padang) dan Budaya Bugis (Makassar).

Sang penulis Buya Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.

Cinta yang dirasakan Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat.

Cinta ini bermulai ketika Zainuddin sudah tidak punya orang tua lagi atau yatim piatu.

Ayah Zainuddin adalah suku Minangkabau asli, dia diasingkan dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seseorang kerabat yang disebabkan masalah warisan.

Ayah Zainuddin meninggal di Makassar. Ibu Zainuddin adalah suku bugis (orang Makassar), yang meninggal sebelum wafatnya ayah Zainuddin.

Pada awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan  teman ayahnya, Mak Base. Kemudian Zainuddin pindah ke Batipuh Kabupaten Tanah Datar di Sumatra Barat.

Karena Zainuddin adalah campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang ditujukan kepadanya, baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu.

Salah satu diskriminasi yang dirasakan Zainuddin adalah ketika dia mencintai Hayati yang merupakan seorang anak dari bangsawan Minangkabau.

Tapi Zainuddin tidak boleh menikahi Hayati karena dihalangi oleh adat istiadat yang mengatakan bahwa Zainuddin bukan orang Minangkabau asli karena ibunya dari Makassar.

Karena kecewa,  Zainuddin kemudian  pindah ke Kota Padangpanjang yang berjarak sekitar 10 km dari Batipuh.

Zainuddin tetap melakukan surat-menyurat dengan Hayati.

Hayati lalu datang ke Padangpanjang, karena dia punya seorang kawan yang bernama Khadijah, lalu Hayati menginap di rumahnya.

Khadijah mempunyai kakak laki-laki yang bernama Aziz yang diam-diam naksir pada Hayati.

Karena bermukim pada satu kota (padangpanjang) akhirnya Azis dan Zainuddin bersaing dalam mendapatkan cinta Hayati.

Tapi sayang, keluarga Hayati lebih memilih Azis yang merupakan keturunan Minangkabau asli dan keluarganya juga berada.

Zainuddin dianggap tidak lebih baik daripada Azis karena Zainuddin adalah anak campuran Minangkabau dan Bugis.

Mendengar pernikahan antara Hayati dan Azis, membuat Zainudin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainudin berangsur-angsur membaik.

Kemudian Zainuddin dan Muluk pergi pulau ke Jawa, tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya.

Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal.

Karena alasan pekerjaan, Azis juga pindah ke Surabaya bersama Hayati.

Seiring waktu berjalan, hubungan Azis dan Hayati tidak baik lagi. Setelah Aziz dipecat, mereka terpaksa menginap di rumah Zainuddin.

Seiring waktu, Aziz menyadari bahwa Zainuddin lebih pantas untuk Hayati.

Akhirnya Aziz memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi, dan dia meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan telah mengikhlaskan Hayati untuk Zainuddin. Kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih kuat, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah menikah dan bersuami, cinta yang masih menggelora itu dia usahakan untuk dipadamkan, kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke kampung halaman di Batipuh, Sumatra Barat.

Esok harinya, Hayati berangkat dengan sebuah kapal yaitu Van der Wijck. Kapal ini kemudian tenggelam di pesisir utara pulau Jawa.

Setelah mengetahui kabar tersebut, Zainuddin dan Muluk pergi ke  untuk mencari Hayati, akhirnya ditemukan dia  berada di sebuah rumah sakit di Cirebon.

Setelah beberapa waktu, Hayati akhirnya meninggal di rumah sakit tersebut setelah melewati waktu bersama Zainuddin.

Di saat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainudin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat.

Beberapa waktu kemudian, Zainuddin pun jatuh sakit, setelah badannya makin lemah, kemudian akhirnya dia wafat.

Mereka lalu dikebumikan secara berdampingan.

Sinopsis Cerpen Kencan Pertama (Serial Lupus)- Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Pada suatu hari di sekolah, Lupus dan Poppy (pacar Lupus) membuat janji untuk kencan dengan nonton bioskop dan makan bakso.

Kencan ini sebagai perayaan karena artikel Lupus berhasil memenangkan sayembara.

Lalu mereka sepakat bahwa Lupus yang akan menjemput Poppi ke rumahnya.

Mereka akan pergi nonton di bioskop pada jam 5 sore, dan pulangnya akan makan bakso bersama.

Poppy mempersiapkan diri secara khusus dan istimewa untuk kencan pertama ini.

Dia sudah bela-belain mandi, gosok gigi, dan cuci rambut. Lengkap dengan dandanan dan make up yang luar biasa.

Dia menunggu Lupus lebih awal di teras rumah. Sudah lebih setengah jam menunggu, tapi Lupus belum muncul juga.

Dia menduga Lupus mungkin sangat ngaret, maklum dia kan suka makan permen karet.

Tapi Poppi mulai kesal, karena ini adalah saat istimewa dan bersejarah bagi hubungan mereka yang merupakan kencan pertama,

Dia tidak ingin Lupus terlambat dan mempertahankan kebiasaan ngaretnya.

Namun Poppy berusaha menepis dugaan negatif pada Lupus, dia mengingat masa-masa pertama tertarik pada Lupus.

Dulu waktu pertama masuk SMA, Poppy diangkat jadi ketua kelas, dan mengatur siswa lainnya untuk membawa keperluan kelas seperti sapu, kalender, keset, ember, lap, dan lain-lain.

Lupus yang datang terlambat iuga kebagian dapat tugas membawa bulu ayam. Esok harinya Poppy memeriksa kelengkapan yang dibawa oleh teman-temanya.

Ketika sampai di bangku Lupus, Poppy merasa heran, karena dia hanya membawa satu buku, tanpa membawa tidak membawa tas atau bawaan lainnya.

Lalu Poppy mulai menagih bulu ayam yang dibawa Lupus. Tapi Lupus santai saja membolak-balik lembaran bukunya.

Lalu dia mengambil sehelai bulu ayam yang terselip.

Poppi hanya melotot padanva, diiringi tawa teman teman vang lain. Tapi Lupus memang tak salah.

Dia benar-benar nggak tau kalau yang Poppi maksudkan itu bukan sekadar sehelai bulu ayam, melainkan kemoceng.

Poppi sering geli sendiri jika ingat kejadian itu. Dan entah kenapa, dia jadi suka membayangkan Lupus.

Anak itu polos, jarang lho bisa ketemu cowok polos begitu di Jakarta ini.

Tapi sekarang Poppi jadi kesal, Lupus tidak muncul juga, walau waktu Maghrib sudah lewat. Dia lari ke kamar sangat kesal, dan sampai menangis.

Poppi tidak akan mendengar apapun alasan dari Lupus, bahkan dia tak mau lagi bicara lagi dengannya.

Betapa tega Lupus mengingkari janjinya. Kencan pertama saja sudah kayak gini, apalagi untuk selanjutnya.

Di sekolah Poppi ketemu Lupus, tapi gayanya biasa saja. Sampai keluar main kedua Lupus tidak juga datang minta maaf padanya.

Poppi tambah kesal, padahal sejak jam setengah delapan dia pasang muka mau marah.

Pulang sekolah tanpa diduga, Lupus menunggu di dekat mobil. Diam memandangi daun-daun yang terbang tertiup angin.

Poppi memandang heran ke arahnya.

Dengan dongkol Poppi mendorong tubuh Lupus yang menghalangi pintu mobilnya, lalu segera membuka pintu tanpa menoleh.

Setelah itu meledaklah amarah Poppi. Lupus semakin terpojok. Matanya menatap kosong ke depan.

Dan sampai sepuluh menit berikutnya, Poppi terus berkicau dengan kecepatan suara yang sukar diukur dengan stop-watch sekalipun.

Sampai akhirnya, dia kecapekan sendiri. Menatap Lupus yang sama sekali tidak bereaksi.

Hingga akhirnya Lupus dapat kesempatan bicara. Dengan suara yang sangat pelan dia berkata:

 “Saya nggak tau rumah kamu …. “

“Apa?” Poppi terbelalak.

“Maafkan saya. Saya memang paling norak. Saya malu sekali dengan kebodohan saya ini.

Sungguh mati, ini yang pertama buat saya untuk pergi dengan seorang gadis. Saya terlalu gembira dan tak tau apa yang harus saya lakukan.

Saya sama sekali nggak sadar kalau saya tak pernah punya alamatmu. Jadi, mana mungkin saya bisa menjemputmu?

Kau mau memaafkan saya? Lain kali, saya Janji…” suara Lupus makin pelan.

Beberapa saat, Poppi tak tau apa yang harus dilakukannya. Hanya matanya yang menatap lebih bersahabat.

Besok harinya di sekolah, Poppi menyapa Lupus dengan mesra. Lupus pun membalas dengan segera.

Mereka menyusun rencana baru untuk kencan pada jam 5 sore. Poppi lalu memberikan secarik kertas yang tertulis alamat lengkapnya.

Tak berapa lama, Lupus menyahut dengan nada menggoda:

“Ini, saya juga mau ngasih alamat. jemputlah saya kalau kamu kelamaan menunggu …. “

Poppi pun terkesima melihat kepolosan dan kejenakaan Lupus.

Sinopsis Novel Neraka Dunia – Nur Sutan Iskandar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ada sebuah toko yang menjual perkakas rumah dan mebel dengan nama “Usaha Kita”.

Toko ini banyak yang belanja dan cukup laris. Pemiliknya bernama Ahmad Salam Bin Haji Munir, dia meneruskan usaha toko Bapaknya yang dari dulu sudah dikenal masyarakat.

Tapi sayang, masa muda Ahmad Salam sangat gelap. Kebebasan yang diberikan orang tua membuatnya hidup tidak karuan, setiap malam ia pergi keluar untuk mencari kesenangan sesaat.

Hal itu sering ia lakukan, hingga ia bertemu dengan Siti Delima, seorang anak komidi bangsawan.

Siti Delima dan Ahmad Salam sering pergi keberbagai tempat secara bersama, bahkan sampai ke Surabaya.

Tapi disana ia ditinggalkan begitu saja oleh Siti Delima.

Kemudian dia bertemu dengan Sulastri, kejadian bersama Siti Delima kembali terulang, Sulastri menghilang tanpa jejak.

Ditengah rasa kewewa, Ahmad Salam berkenalan dengan Aladin, pemuda Bugis.

Aladin yang sudah banyak pengalaman tinggal di Surabaya mengajaknya menjelajahi pelosok kota sampai ke lorong-lorong sempit tempat kupu-kupu malam bersarang.

Ahmad Salam merasa cocok dengan Aladin. Mereka selalu menjalani hari-hari secara bersama. Tapi pergaulan mereka menyeret Ahmad Salam ke jurang nista.

Pernah suatu hari Ahmad Salam dinasehati oleh Tabrani, sahabatnya yang senantiasa tekun beribadah pada Tuhan.

Tapi sayang, nasehat Tabrani tidak digubris oleh Ahmad Salam.

Justru sebaliknya, semakin lama Ahmad Salam  terperosok jurang nista semakin dalam.

Setiap malam bersama Aladin dihabiskan waktu dan uangnya di tempat-tempat mesum, memburu kenikmatan bersama perempuan-perempuan jalang.

Ahmad Salam mendatangi hampir seluruh tempat mesum dan hotel-hotel yang menyediakan bunga sedap malam.

Sampai pada suatu hari dia merasakan ada perubahan pada tubuhnya.

Di seluruh badannya timbul bintik-bintik dan gatal. Badannya lemah, panas dingin dan sakit-sakitan. Ternyata dia kena penyakit sipilis.

Demikian juga Aladin menderita sipilis berat dan dirawat di CBZ. Karena otaknya sudah miring, ia terpaksa dikirimkan ke Lawang dan mati di sana.

Akhirnya Ahmad Salam jadi sadar dirinya dijangkiti penyakit kotor itu, tetapi malu berterus terang pada orang lain termasuk kepada dokter.

Lalu secara diam-diam ia pergi berobat ke dukun. Menurut dukun, dia dijangkiti penyakit Surabayam, alias rajasinga.

Setelah sekian waktu berobat, sang dukun mengatakan bahwa dia Ahmad Salam sudah sembuh.

Akhirnya, karena  merasa dirinya sudah sembuh berkat dukun itu, Ahmad Salam segera pulang ke Jakarta untuk meneruskan usaha orang tuanya.

Karena kedua orangtuanya mau berangkat naik haji ke Mekah, toko “Usaha Kita” diserahkan sepenuhnya kepada Ahmad Salam.

Dengan keuletan dan kerajinan Ahmad Salam, perusahaan milik ayahnya menjadi maju.

Seiring berjalannya waktu, pada suatu hari, Ahmad Salam bertemu dengan sahabat lamanya, Rusli.

Lalu mereka  berkunjung ke rumah Aisyah, puteri R.Akh. Mansur, walaupun  saat itu Ahmad Salam sebenarnya mempunyai kekasih bernama Yeti, seorang primadona pada suatu grup sandiwara.

Perkenalan dan pertemuan dengan Aisyah membuat Ahmad Salam tergetar hatinya.

Ternyata dia jatuh cinta kepada gadis itu, dan ternyata mendapat sambutan baik dari Aisyah.

Pada suatu hari diadakan acara Pertemuan Pemuda. Dalam acara itu Ahmad Salam kembali berjumpa Aisyah.

Ahmad Salam tak lagi mempedulikan Yeti yang saat itu sedang berada di pentas memainkan sandiwara Sabai nan Aluih.

Akhirnya Ahmad Salam dan Aisyah minta restu kedua orangtua mereka.

Setelah mendapat persetujuan,  akhirnya mereka menikah dan tinggal di rumah sendiri yang terletak di Jalan Tangkuban Perahu.

Mereka kemudian hidup sebagai suami istri. Lalu Aisyah hamil. Pada usia kandungan Aisyah memasuki umur tujuh bulan.

Ia merasakan adanya kelainan-kelainan pada dirinya.

Badannya yang dulunya sehat dan tegar, sekarang menjadi kurus kering dan sering sakit-sakitan.

Rambutnya yang dulu lebat mulai rontok. Ia mengeluh pada suaminya, mengadukan penderitaannya.

Setelah mendengar keluh kesah istrinya yang memelas, Ahmad Salam hanya merenung diam.

Lalu dia sadar atas segala perbuatannya di masa lampau yang membuahkan penyakit kotor dalam dirinya.

Kenyataannya sekarang penyakit itu telah menular pada istri yang sangat dicintainya dan sedang mengandung anaknya.

Akhirnya Ahmad Salam menyesal tidak mau mendengarkan nasehat Tabrani, sahabatnya yang saleh ketika masih tinggal di Surabaya.

Tabrani adalah satu-satunya kawan yang mengetahui rahasia pribadinya, dan menasihati agar ia pergi berobat ke dokter dan berterus terang tentang penyakit yang dideritanya. Tapi dia malah pergi ke dukun.

Sekarang Ahmad salam harus menerima kenyataan bahwa istrinya yang tak berdosa itu harus pula menanggung penderitaan. B

ayi yang lahir dari rahim Aisyah sangat kecil dan tidak sehat.

Akhirnya bayi yang merana itu meninggal. Aisyah hilang kesadaran dan membuatnya hampir gila, Aisyah benci pada Ahmad Salam yang telah membohonginya dan membuat hidupnya sengsara.

Jadi Aisyah hampir gila bukan karena ayahnya yang mati terendam banjir. Tapi dia gila akibat penyakit yang dibawa oleh suaminya.

Kemudian atas saran orangtuanya, Aisyah pergi berobat ke dokter. Dengan penuh kesabaran dan usaha yang tidak kenal lelah, akhirnya Aisyah bisa disembuhkan.

Sanak keluarga juga banyak yang membantu pengobatan  Asiyah.

Demikian juga dengan penyakit Ahmad Salam, juga bisa disembuhkan, sama seperti kesembuhan Aisyah, dia sembuh berkat dukungan sanak kerabat, kesabaran, dan usaha yang tidak kenal lelah.

Pada akhirnya, Ahmad Salam dan Aisyah memulai lagi kehidupan rumah tangga mereka dan dan dapat hidup bahagia bersama.

Sinopsis Novel Azab Dan Sengsara – Merari Siregar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Merari Siregar

Ringkasan Umum:

Sifat buruk Ayah seperti berjudi, suka marah, main pukul, dan berbicara kasar, menimbulkan kesengsaraan pada istri dan anaknya.

Disamping jatuh miskin juga tidak dihargai orang lain. Akibatnya adalah anak perempuan yang baik ketika jatuh cinta secara alami dengan seorang pria yang sangat dikenal dengan baik, tapi cinta mereka tidak direstui karena keluarga wanita tersebut miskin.

Penderitaan wanita tersebut tidak putus-putusnya karena dijodohkan dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya dan ternyata sangat kejam.

Aminudin dan Mariamin selalu bersama sejak kecil. Karena pergaulan mereka yang dekat dan juga mereka adalah saudara sepupu, maka antara Mariamin dan Aminuddin timbul rasa cinta.

Karena Aminuddin adalah seorang anak yang baik budinya, maka Ibu Mariamin merestui hubungan itu.

Apalagi ibunya mengharapkan agar anak perempuannya  dapat hidup berbahagia tidak menderita miskin seperti keadaan mereka saat ini.

Keluarga Aminuddin adalah keluarga kaya dan terpandang. Ayah Aminuddin yaitu Baginda Diatas adalah seorang kepala kampong, bangsawan kaya dan disegani oleh bawahannya karena sifat-sifatnya yang mulia serta kerajinan kerjanya. Sifat Baginda Diatas ditiru oleh anaknya.

Keluarga Mariamin adalah keluarga miskin. Ayah Mariamin yaitu Tohir dengan gelar Sutan Baringin.

Berbeda dengan keluarga Aminuddin, keluarga Mariamin adalah keluarga miskin disebabkan oleh tingkah laku ayahnya (almarhum) yang suka berjudi, pemarah, mau menang sendiri, serta suka berbicara kasar.

Ayah Mariamin sering membuat masalah dengan orang lain, lama-lama keluarga Mariamin jatuh miskin.

Hingga akhir masa hidupnya, Tohir (Sultan Baringin) menjalani hidup sengsara bersama istrinya yang bernama Nuria.

Kisah cinta Aminuddin dan Mariamin semakin bersemi ketika suatu hari Mariamin tergelincir dari sebuah jembatan bambu.

Tanpa pikir panjang Aminuddin terjun ke sungai menyelamatkan jiwa Mariamin.

Mariamin dapat diselamatkan, dan merasa amat berhutang budi pada sepupunya itu.

Tapi sayang hubungan cinta mereka tidak disetujui oleh Baginda Diatas karena keluarga Mariamin adalah keluarga miskin dan tidak berasal dari kalangan terpandang.

Oleh sebab itu Aminuddin berangkat meninggalkan Sipirok menuju ke Deli (Medan) untuk bekerja.

Aminuddin berjanji pada Mariamin untuk menikahinya pada saat dia mampu menghidupi calon istrinya.

Setelah Aminuddin pergi, Mariamin sering berkirim surat dengan Aminuddin.

Ia selalu menolak lamaran pemuda lain untuk meminangnya karena kesetiaannya pada Aminuddin semata.

Setelah bekerja dengan mantap di Medan, Aminuddin memberi kabar kepada Mariamin melalui surat untuk segera menyusulnya ke Medan, dan akan menjadi isterinya. Kabar itu juga disampaikan kepada keluarga Aminuddin sendiri.

Ibu Aminuddin senang dengan rencana anaknya, akan tetapi suaminya Baginda Diatas tidak menyetujui hubungan Aminuddin dan Mariamin.

Supaya tidak menyakitkan hati isterinya diam-diam pergi ke dukun menanyakan siapakah jodoh Aminuddin sebenarnya.

Lalu dia menyampaikan pada isterinya bahwa menurut dukun, jodoh Aminuddin bukanlah Mariamin, tapi seorang puteri kepala kampong lain yang cantik dan kaya.

Tanpa memberi tahu Aminuddin, Baginda Diatas membawa calon menantunya yang akan dijodohkan dengan Aminuddin di Medan.

Alangkah sedih hati Aminuddin mendapat jodoh bukan pilihan hatinya, tapi dia tidak kuasa menolak keinginan ayahnya serta adat istiadat yang kuat dianut masyarakat.

Setelah itu Aminuddin memberi tahu Mariamin melalui surat mengenai pernikahannya yang tidak tidak dia inginkan, hanya terpaksa, dan tidak berdasarkan cinta.

Kepada Mariamin, Aminuddin mohon agar dimaafkan dan meminta Mariamin berlaku sabar menerima cobaan.

Akhirnya Mariamin jatuh sakit karena cintanya yang kandas. Lalu Baginda Diatas datang ke rumah Mariamin untuk meminta maaf dan menyesali segala perbuatannya setelah melihat sifat-sifat Mariamin yang baik.

Tidak sampai satu tahun sesudahnya Mariamin dikawinkan dengan Kasibun, lelaki yang tiada jelas asal usulnya.

Kasibun mengaku bekerja sebagai kerani di Medan. Ibunya berharap, pernikahan anaknya dengan Kasibun akan mengurangi beban penderitaan mereka.

Ternyata kemudian diketahui, suaminya baru saja menceraikan isterinya di Medan untuk mengawini Mariamin. Bersama Kasibun, Mariamin tinggal di Medan.

Di Medan kehidupan Mariamin makin menderita dan tambah sengsara. Kasibun memiliki penyakit kelamin.

Oleh karenanya Mariamin sering menghindar ketika diajaknya behubungan intim. Pertengkaran demi pertengkaran tak dapat lagi dihindarkan.

Kasibun tak sering berlaku kasar kepada istrinya dan sering memukul

Suatu hari Aminuddin mengunjungi Mariamin di rumahnya. Pertemuan kekasih lama yang tanpa diduga itu memang membuat terkejut Mariamin.

Kasibun merasa cemburu dan kemudian menyiksa Mariamin tanpa belas kasihan. Akibat siksaan itu Mariamin merasa tidak tahan hidup bersama suaminya.

Mariamin kemudian datang ke kantor polisi dan melapor. Lalu mengadukan perkaranya.

Kasibun kalah perkara. Dengan membayar denda sebesar duapuluh lima rupiah, Kasibun harus mengaku bersalah dan merelakan Mariamin bercerai darinya.

Mariamin yang sudah jadi janda pulang ke kampung halamannya di Sipirok. Badannya jadi kurus dan selalu sakit-sakitan. Hingga akhirnya dia meninggal karena banyak azab dan hidup yang sangat sengsara.

Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami – A.A Navis

Sastra Angkatan 1960 -1960 an

Karya: Ali Akbar Navis (A.A. Navis)

Pada suatu daerah ada ada sebuah surau (musholla) yang sudah tua dan hampir roboh. Lalu ada orang tua yang datang ke sana dan berniat untuk mengurus surau.

Setelah mendapat izin dari masyarakat setempat, orang tua tersebut merawat surau tadi dan tidak jadi ambruk sampai sekarang.

Masyarakat sekitar surau memanggil Bapak tua ini dengan sebutan Garin atau penjaga surau.

Garin ini mengisi hidup dengan beribadah saja. Dia hidup dari sedekah masyarakat sekitar. Karena dia sering membersihkan dan merawat surau.

Disamping itu dia punya pekerjaan sederhana yaitu mengasah pisau. Semua pekerjaan dilakukan untuk memenuhi keperluannya sendiri.

Pak Tua Garin tidak mau repot mengerjakan hal yang lain karena dia hanya hidup sendiri.

Dia pikir hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan.

Pada suatu hari datang seorang tamu yang bernama Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu.

Ajo Sidi menceritakan tentang kisah seseorang yang bernama Haji Saleh.

Dalam cerita Ajo Sidi Haji Soleh adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dilakukannya dengan tekun, dan semua larangan dijauhinya.

Pada hari kiamat atau hari penentuan apakah seseorang masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka.

Haji Soleh memprotes Tuhan, karena dia sudah rajin beribadah dan menjauhi perbuatan negatif.

Mungkin saja Tuhan salah memperhitungkan amal ibadah seseorang.

Ajo Sidi melanjutkan cerita, mana mungkin Tuhan salah perhitungan. Lalu Tuhan menjelaskan kenapa Haji Saleh masuk neraka:

“kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua.

Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.”

Setelah sekian lama berbincang, akhirnya Ajo Sidi pergi dan pulang ke tempatnya. Tapi sang Garin masih memikirkan kata-kata Ajo Sidi.

Beberapa hari kemudian Sang Garin menjadi murung, sedih, dan kesal.

Akhirnya dia menyadari bahwa yang diceritakan Ajo Sidi tadi adalah sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.

Kenyataannya memang Sang Garin tak pernah mengingat anak dan istrinya.

Di samping itu juga tidak mau memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah.

Dia berpendapat bahwa kehidupannya lahir batin diserahkan kepada Tuhan. Oleh karena itu dia tak berusaha dan bekerja apapun selain beribadah.

Dia selalu bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhan. Kemudian dia bertanya dalam hati apakah yang dikerjakannya tidak disukai Tuhan,

atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi di mata Tuhan ternyata lalai, dan akan dimasukkan ke dalam neraka.

Pak Garin terus memikirkan hal tersebut. Hingga pada akhirnya, merasa tidak sanggup menahan perasaan.

Tanpa diduga, ia memutuskan jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.

Masyarakat sekitar menjadi gempar dan terkejut atas kematian Sang Garin. Semua orang membantu mengurus jenazah dan menguburnya.

Tapi ada satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi.

Pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau, tapi dia tetap saja pergi bekerja.