Sinopsis Novel Salah Pilih – Nur Sutan Iskandar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ringkasan umum:

Ketika disuruh menikah oleh ibunya, seorang pemuda telah salah pilih dalam menentukan calon istrinya.

Dia hanya melihat kecantikan dan status sosial wanitanya, tanpa mengenal secara alami sifat dan kepribadian wanita yang akan dinikahi.

Setelah menikah dan hidup bersama wanita tersebut dia jadi kecewa setelah mengetahui siapa istri sebenarnya.

Dia menyesal dan sadar bahwa menikah haruslah dengan orang yang betul-betul dikenal.

Akhirnya pemuda ini menikah dengan seorang wanita dia ketahui dengan baik, lalu mereka hidup bahagia dan langgeng bersama.

Di sebuah rumah gadang (rumah besar) ada sebuah keluarga. Sang Ibu bernama Mariati, anak laki-laki bernama Asri, dan anak perempuan bernama Asnah.

Disana juga ada pembantu yang bernama Siti Maliah atau Liah, Ibu dan  dua anak tersebut biasa memanggilnya Mak Cik Lia.

Asnah adalah wanita yang cantik serta baik hati sehingga dia disenangi oleh semua orang, baik ibu Mariati maupun para tetangga yang seringkali datang ke rumah besar tersebut.

Di keluarga tersebut Asnah diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri oleh ibu Mariati.

Walau Asnah adalah anak angkat ibu Mariati, tapi ia sangat sayang kepada Asnah.

Sama halnya dengan Asnah yang juga sangat menyayangi ibu Mariati. Asnah sangat berbakti dan selalu ada saat sembuh maupun saat sakit.

Asnah merupakan pelipur lara bagi ibu Mariati.

Ibu Mariati mempunyai  anak laki-laki kandung yang bernama Asri yaitu seorang pemuda yang ganteng, cerdas dan juga ramah.

Oleh karenanya semua warga juga pun sangat menghormati dan menyukainya.

Seperti ibunya Mariati, Asri juga sangat menyayangi Asnah yang senantiasa menjadi obat dikala ia sakit, dan hanya Asnahlah yang sangat mengerti akan perasaan Asri.

Kenyataannya adalah bahwa sejak lama Asnah memendam perasaannya terhadap Asri.

Walau saat ini Asri sedang di Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Namun perasaan Asnah tidak pernah berubah terhadap Asri.

Asnah tetap menyayangi Ari dengan sepenuh hati. Namun, Asnah tahu bahwa perasaannya tersebut kurang layak diungkapkan pada kakaknya tersebut.

Walau hanya adik angkat, tapi adat tempat mereka tinggal juga menentang sebuah percintaan antara sesama suku.

Suatu hari Asri pulang ke kampung,  Ibu Mariati sangat bahagia akan kedatangan Asri dan berharap kepada anaknya tersebut untuk tidak kembali ke Jakarta.

Ia minta Asri mencari pekerjaan di daerahnya saja. Karena keadaan Bu Mariati yang seringkali jatuh sakit karena usia yang tua.

Walau berat hati akhirnya Asri menuruti kemauan ibunya untuk tinggal di rumah gadang tersebut.

Asnah mengetahui bahwa Asri sebenarnya sangat sedih karena tidak bisa melanjutkan pendidikannya.

Tapi berkat sikap Asnah, akhirnya Asri pun menerima permintaan ibunya karena didorong nasihat-nasihat yang diberikan oleh adiknya tersebut.

Setiap bertemu Asri, Asnah mencoba memendam semua perasaannya. Dia tak ingin Asri tahu akan perasaannya yang demikian tersebut.

Asnah juga senang waktu mengetahui Asri akan tinggal di rumah tersebut. Tapi ada  yang membuat ia kecewa, yaitu ibu Mariati menyuruh Asri untuk segera menikah.

Mau tak mau Asri menuruti lagi apa yang dinginkan ibunya. Ia pun mulai mencari gadis yang cocok untuk dijadikan istrinya.

Dia mulai memilih wanita di Negerinya yang belum menikah.

Lalu Asri menemukan seorang gadis yang dianggap cocok untuk menjadi calon istrinya.

Gadis itu adalah Saniah. Keinginannya melamar Saniah bukanlah tanpa alasan. Asri lebih dahulu tertarik kepada kakak Saniah, yaitu Rusiah.

Rusiah adalah wanita yang baik hatinya, dan lembut perangainya.

Tapi waktu  Asri bersekolah di Bukittinggi, ternyata Rusiah dikawinkan dengan seorang laki-laki bernama Sutan Sinaro.

Lalu Asri memutuskan untuk meminang Saniah karena dia beranggapan bahwa

Saniah kira-kria tak akan jauh beda dengan kakaknya, baik rupa ataupun perangainya. Demikianlah harapan dan dugaan Asri.

Akhirnya Asri bersama-sama ibunya memutuskan untuk bertamu ke rumah keluarga Saniah yang merupakan kelaurga terpandang, keluarga seorang bangsawan kaya dan terpelajar.

Meskipun ibu gadis tersebut memiliki perilaku yang kaku dan cenderung angkuh, tapi Asri menduga bahwa Saniah tentunya berperilaku lain dengan ibunya.

Kemudian Asri memutuskan memilih Saniah sebagai calon istrinya.

Ketika pertunangan, Saniah berusaha menampakkan perilakunya yang sangat baik, ia pun hormat terhadap seluruh keluarga Asri.

Perilaku demikian itu membuat Asri semakin yakin dengan pilihannya itu.

Selang beberapa waktu, maka dilangsungkanlah upacara perkawinan Asri dengan Saniah yang sangat meriah.

Setelah menikah Asri dan Saniah pindah ke Rumah Gadang milik keluarga Asri.

Di rumah inilah diketuhui bahwa perilaku Saniah tidaklah sebaik yang dia perlihatkan sebelum menikah.

Saniah memandang rendah Asnah, hanya karena Asnah adalah anak angkat.

Dia merasa bahwa tidak sepatutnya Asnah disejajarkan dengan dirinya yang berasal dari kaum bangsawan.

Kenyataannya perilaku Saniah begitu angkuh, sering menyindir, bersikap bengis, bahkan mencaci maki yang begitu menyakitkan hati Asnah.

Bahkan terhadap mertuanya Saniah juga bersikap tidak sopan.

Tapi untunglah Asnah adalah seorang gadis tegar dan sabar dan mempunyai hati lapang.

Dia tidak  pernah membalas perlakuan buruk dari iparnya itu.

Semakin lama sifat buruk Saniah semakin menjadi. Bahkan sekarang dia berani melawan suaminya dan sering  berkata-kata kasar.

Sehingga dapat dilihat kalau sifat Saniah tak jauh beda dengan ibunya yaitu Rangkayo Salehah.

Suatu hari Saniah pulang ke rumah orang tuanya saat itu Sidi Sutan, pembantunya datang menjemput.

Yang semula bermaksud menjemput Saniah dan Asri, namun karena pertengkaran itu, jadilah Saniah pulang sendiri tanpa didampingi oleh suaminya.

Orang tua Saniah (Rangkayo Saleah) mendapat informasi bahwa anak laki-lakinya Kaharuddin akan menikah dengan seorang perempuan yaitu anak seorang saudagar batik di kota Padang.

Rangkayo Saleah (Ibu Saniah) sangat  murka dan menganggap gadis tersebut tidak sesuai dengan pilihannya.

Sementara Dt. Indomo ayah Kaharuddin yang juga ayah Saniah, merasa tidak setuju dengan pendapat istrinya itu, karena Ia menganggap bahwa kebahagian anaknya adalah yang utama.

Namun suaminya tersebut pun tidak berdaya akibat keangkuhan Rangkayo Saleah.

Tapi Rangkayo Saleah tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menyetujui pernikahan Kaharuddin.

Akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke Padang untuk menentang pernikahan Kaharuddin.

Saniah yang berada di rumahnya setelah Sidi Sutan menjemputnya dari rumah Gadang diajaknya untuk pergi ke kota Padang.

Dalam perjalanan kendaraan yang mereka tumpangi sempat berhenti. Lalu sejenak Saniah memandang negeri yang ia tinggallkan.

Tapi tidak tahu kenapa, begitu banyak yang ia ingat saat ia memandang Rumah Gadang yang nampak jelas terlihat dari kejauhan.

Tiba-tiba ia teringat akan suaminya, yang begitu sayang terhadapnya, ia telah durhaka terhadap suaminya, teringat ia akan dosa-dosa yang telah ia perbuat terhadap Asnah.

Setelah lama  memandang, seakan-akan ia akan pergi jauh.  Lalu perjalanan mereka dilanjutkan.

Rangkayo Saleah menyuruh sang sopir untuk cepat dan ngebut supaya segera sampai ke tujuan.

Sang sopir pun gembira ketika Rangkayo Saleah menyuruhnya untuk memacu kendaraannya dengan cepat.

Baginya inilah saatnya untuk memperlihatkan kelihaiannya dalam mengendalikan mobil, walaupun jalanan berkelok tajam dan  tebingnya yang begitu curam.

Tapi yang terjadi, sang sopir kehilangan kendalinya, dan mobil jatuh terbalik dan masuk ke dalam sungai yang kering.

Rangkayo Saleah meninggal di tempat kejadian, sementara Saniah yang masih bernafas segera diselamatkan orang-orang dan dibawa ke rumah sakit.

Tapi karena kecelakaan yang dialaminya cukup parah, akhirnya Saniah pun meninggal dunia setelah sempat bertemu dan meminta maaf kepada suaminya.

Asri pun menjadi duda, dan  banyak lamaran datang kepada Asri setelah itu. Tapi dia tak ingin salah pilih lagi.

Ia memutuskan jika ia hendak menikah lagi, ia hanya akan menikah dengan orang yang sudah sangat dikenal oleh dirinya dan dapat menjadi kawan yang selalu ada dalam susah, sedih, senang dan gembira.

Akhirnya Asri memilih Asnah. Ia yakin bahwa Asnah lah satu-satunya perempuan terbaik bagi dirinya, karena sudah kenal sejak lama.

Akhirnya Asri datang ke rumah Asnah dan mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Asnah secara diam-diam.

Karena mereka tahu bahwa pernikahan mereka pastilah di tentang oleh adat dan masyarakat di daerah mereka yang tidak membenarkan adanya suatu pernikahan sesama suku.

Adat tersebut mengatakan bahwa jika ada yang menikah dengan saudara sesuku maka konsekuensinya mereka harus di usir dari daerah tersebut.

Asri pun berpikir, daripada ia harus mengikuti adat yang bertentangan dengan hati nuraninya serta harus kehilangan orang yang dicintainya, ia pun memutuskan untuk membawa Asnah pergi meninggalkalkan kampung halaman.

Asri pun rela melepaskan pekerjaannya sebagai seorang Sutan Bendahara. Mereka memutuskan untuk pergi ke Pulau Jawa.

Pada awal kepindahan ke Pulau Jawa, kehidupan mereka tidak begitu cukup.

Mereka pun banyak dijauhi oleh orang-orang sekampung yang kebetulan sama-sama tinggal di Jawa.

Tapi karena usaha keras dan kesabaran hati mereka, akhirnya Asri mendapatkan pekerjaan yang layak  dan yang terpenting, Asri mendapatkan kebahagian bersama Asnah.

Beberapa tahun kemudian Asri mendapat surat dari kampung halamannya untuk pulang.

Penduduk kampung telah kehilangan sosok cerdas seperti Asri yang dapat memajukan kampung mereka.

Akhirnya Asnah dan Asri pun pulang ke kampung halaman. Di sana mereka disambut bagai seorang Raja.

Asnah sangat bahagia karena dapat bertemu dengan keluarganya dan tetangganya di rumah gadang tersebut.

Asri juga senang karena ada kesempatan mengabdikan dirinya. Dia merasa siap membawa kemajuan bagi kampung halamannya.

Sinopsis Novel Bumi Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Sastra Angkatan tahun 2000

Karya: Habiburrahman El Shirazy

Ini adalah kisah seorang seorang mahasiswa indonesia yang melakukan sebuah penelitian di negara Rusia, tepatnya di ibukotanya yang bernama Moskow.

Nama mahasiswa tersebut adalah Muhammad Ayyas. Teman-teman serta keluarganya kerap memanggilnya dengan panggilan Ayyas.

Karena hendak melakukan sebuah penelitian, Ayyas memutuskan untuk menuju ibukota Rusia yaitu Moskow.

Ketika pertama sampai di kota tersebut, waktu itu sedang musim dingin.

Di Bandara Sheremetyevo salju berterbangan dan melayang turun perlahan tidak menghalangi arus lalu lalang banyakny orang di bandara besar itu.

Ayyas dijemput oleh Devid yaitu temannya waktu SMP dulu. Mereka sudah hampir sembilan tahun tidak bertemu. Akhirnya sekarang bisa jumpa kembali.

Lalu mereka mulai berbagi kisah setelah sekian lama tidak bertemu.

Kemudian mereka kemudian bergegas menuju apartemen yang disewakan Devid untuk Ayyas selama melakukan penelitian di Rusia selama beberapa bulan.

Ayyas ini adalah seorang mahasiswa dari Indonesia yang juga merupakan seorang santri salaf. Dia adalah seorang mahasiswa yang tekun.

Ayyas merasa sangat perlu untuk melakukan sebuah penelitian di negeri yang paling menjungjung tinggi seks bebas atau free sex yaitu Rusia.

Sebelum berangkat kesana, Ayyas sudah mempersiapkan hati dan harus berjuang mempertahankan keimanan, keyakinan, dan akidahnya.

Akhirnya Ayyas dan Devid sampailah di sebuah apartemen yang sudah disiapkan Devid.

Tanpa diduga, Ayyas dikejutkan dengan sebuah kenyataan bahwa dirinya harus satu apartemen dengan nonik-nonik Rusia yang berparas sangat cantik.

Nonik Rusia tersebut adalah Yelena dan Linor. Padahal sejak kecil ia tidak biasa dengan hal seperti itu, ia lemah terhadap perempuan cantik .

Ayyas seketika menjadi tergoncang dan takut imannya akan runtuh jika harus tinggal bersama mereka. Ia diam sejenak, memikirkan apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba Devid menjelaskan bahwa itulah yang terbaik untuk Ayyas . Devid menjelaskan secara detail alasan mengapa Devid memilih apartemen tersebut.

Ayyas pun mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Devid, Ayyas pun akhirnya bisa mengerti dan mengikuti semua kata-kata Devid temannya.

Akhirnya Ayyas tinggal di apartemen tersebut. Mulailah Ayyas mengisi perjalanan hidupnya yang dipenuhi dengan banyak godaan.

Godaan wanita cantik adalah yang paling besar, mulai cara berpakaian mereka , sikap, sampai perkataan Linor yang sering sekali mengejek agama Islam.

Di samping itu juga ada seorang asisten professor yang sangat cantik, menawan dan cerdas. Wanita ini betul-betul mempesona.

Oleh karena itu, bayangan wajahnya selalu ada dalam pikiran Ayyas , ia bernama Dr. Anastasia Palazzo. Ayyas merasa cobaan ini sangat berat baginya.

Sementara di apartemen tempat tinggalnya, Ayyas sangat terkejut karena ternyata penghuni disana bukanlah orang baik-baik.

Ayyas pun tahu karena pada Suatu hari, dia memergoki Linor sedang melakukan perzinaan di ruang tamu apartemen mereka bersama seorang anggota mafia Rusia.

Yang lebih mengejutkan adalah mafia itu sendiri terang-terangan mengajak Ayyas untuk berzina bersama mereka.

Mendengar ajakan itu, Ayyas langsung meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya tanpa menghiraukan mereka.

Karena kesal, lalu Ayyas menyalakan laptopnya dan memutar lantunan ayat suci Al Qur’an dengan keras. Sampai terdengar oleh sepasang insan zina tersebut.

Lalu karena merasa terganggu, lelaki itu memaki Ayyas sampai timbul perkelahian antara keduanya. Mereka berdua pun cedera dan sakit karena perkelahian.

Hari pun berganti, akhirnya Ayyas tahu bahwa Yelena adalah seorang pelacur kelas kakap dan merupakan seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan atau atheis.

Di lain pihak ada wanita lain satu apartemen yaitu Linor yang semakin membenci Ayyas, banyak sekali cara yang ia lakukan untuk menhancurkan keimanan seorang Ayyas.

Bukan saja itu, Linor juga melakukan berbagai cara untuk menjebak Ayyas.

Mulai dari berpakaian yang tidak wajar di depan Ayyas, masuk kamar kamar Ayyas secara diam-diam, hingga dia menjebak Ayyas agar menjadi tersangka peledakan bom di sebuah hotel di Rusia.

Tapi untunglah, meskipun banyak jebakan dalam berbagai bentuk, ternyata tidak ada satupun cara yang berhasil meruntuhkan benteng keimanan Ayyas.

Waktu pun terus berjalan, pada suatu hari Yelena mengalami suatu kejadian yang sangat tidak manusiawi.

Ia disiksa dan dibuang begitu saja oleh pelanggannya dari sebuah mobil di jalanan.

Ketika dia dibuang, salju turu sangat lebat. Badan Yelena terasa hancur dan sama sekali tidak ada yang bisa ia gerakan.

Waktu itu Yelena merasa sedang berada di ujung kematian.

Sudah lama dia terkapar, tapi tak ada seorang pun yang menolongnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, dan pada siapa ia harus minta tolong.

Tanda diduga ia mulai mengingat Tuhan. Dalam hatinya ia memanggil nama Tuhan, ia meminta pertolongan kepada Tuhan dengan meneteskan air mata.

Salju tetap turun dan tubuh Yelena semakin tertimbun oleh salju.

Tiba-tiba ada seorang ibu yang melihatnya, ibu-ibu itu meminta bantuan kepada orang-orang untuk menolong Yelena namun tak ada seorang pun yang mau membantunya.

Beberapa saat kemudian datanglah seorang pemuda yang mau membantunya. Ternyata dia adalah Ayyas yang kebetulan lewat disana.

Atas pertolongan Ayyas, Yelena kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Dokter mengatakan jika terlambat sedikit saja, nyawa Yelena tidak akan tertolong.

Selamatlah nyawa Yelena. Setelah itu dia sangat berterimakasih kepada Ayyas karena berkat Ayyas ia dapat selamat.

Ternyata Ayyas tetap rendah hati, dia berkata pada Yelena bahwa yang menolongnya itu bukan Ayyas, tapi itu adalah keajaiban Tuhan.

Sejak peristiwa inilah Yelena mulai percaya akan adanya Tuhan.

Sementara itu di lain pihak, Linor harus dikejutkan dengan sebuah kenyataan tentang siapa dirinya sebenarnya.

Ternyata dia adalah keturunan Palestina, bukan keturunan Yahudi asli.

Setelah ditelusuri, dia jadi tahu bahwa dia adalah seorang anak angkat.

Ia mengetahui semua hal itu dari Madame Ekaterina yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandunya sendiri.

Atas penelusuran itu, akhirnya Linor merasa sangat terpukul dan seolah tak percaya.

Dia juga tahu bahwa Ibunya meninggal pada saat terjadi pembantaian di Sabra dan Sathila, Palestina.

Sekarang Linor sudah mengetahui fakta. Dia merasa menyesal atas semua perbuatannya selama ini sebagai agen Zionis ia merasa sama saja ia yang membunuh ibu kandungnya sendiri.

Lebih dari itu, dia juga tahu bahwa ternyata orang tua kandungnya adalah pemeluk agama yang selama ini ia sebut sebagai agama primitif yaitu Islam .

Sekarang dia menyadari bahwa dia adalah keturunan Palestina dan orang tuanya adalah penganut agama islam.

Mulai saat itu Linor pun mulai mendalami dan mengkaji Islam .

Di lain pihak, ada Devid teman akrab Ayyas. Devid yang selama ini hidup bebas, ia merasakan hidupnya semakin kacau tanpa arah dan tujuan.

Devid pun lalu meminta Ayyas untuk menuntunnya kembali ke Jalan yang benar.

Devid pun kembali mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya.

Devid pun mulai menceritakan hidupnya yang kelam. Selama ini dia sudah terlalu bebas hidup dengan perempuan mana saja.

Devid mengakui bahwa dia sangat tidak kuat jika tidak hidup bersama perempuan. Dengan sabar Ayyas mendengar pengakuan Devid.

Setelah tahu banyak, lalu Ayyas pun memberikan solusi agar Devid segera menikah.

Ia sempat akan dinikahkan dengan adik seorang Ustad, namun ia merasa tidak pantas menikah dengan adik seorang Ustad yang begitu menjaga kesuciannya.

Kemudian Devid meminta agar Ayyas mencarikannya calon istri. Mendengar permintaan temannya, Ayyas lalu menyarankannya dengan Yelena.

Mendengar saran dari sahabat dekatnya, langsung saja Devid pun melamar Yelena dan ternyata lamarannya pun diterima.

Setelah mendengar lamaran Devid dengan dibantu Ayyas, kemudian Yelena mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam.

Kedua sejoli ini sudah masuk islam secara resmi. Tak lama kemudian mereka pun menikah. Devid dan Yelena sudah menjadi sepasang suami istri.

Di lain pihak, Linor terus mencari informasi dan pengetahuan tentang agama Islam dan mendalaminya. Dia belajar dengan sungguh-sungguh.

Setelah merasa sangat yakin, akhirnya Linor pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.

Pada suatu malam Linor bermimpi bertemu dengan ibu kandungnya.

Dalam mimpinya tersebut, ibu kandungnya berpesan agar Linor menikah dengan seseorang yang memiliki sifat seperti Nabi Yusuf a.s. .

Setelah bangun dari tidurnya, dalam hati Linor bertanya-tanya mengapa ibunya berpesan seperti itu. Ia terus duduk penuh tanda tanya dalam hatinya.

Kemudian Linor mulai mencari informasi tentang Nabi Yusuf a.s. Setelah mencari cerita tentang Nabi Yusuf a.s.

Ia pun lansung teringat kepada sosok Muhammad Ayyas yang memiliki sifat persis seperti Nabi Yusuf a.s. .

Sekarang Linor sudah bisa menduga bahwa orang yang dimaksud oleh ibunya itu adalah Ayyas . Setelah merasa yakin, Linor pun memutuskan untuk mencari Ayyas.

Tidak hanya itu Linor juga ingin menanyakan apakah Ayyas mau menjadi suaminya dan menikah dengan Linor.

Akhirnya Linor pun berangkat menemui Ayyas dengan berpakaian muslimah. Pada awal bertemu, Ayyas seolah tak percaya bahkan tidak mengenalnya.

Melihat itu, Linor pun mulai meyakinkan Ayyas bahwa dia adalah Linor. Betapa terkejutnya Ayyas.

Akhirnya Ayyas merasa sangat bersyukur karena Linor telah bertaubat.

Setelah itu Linor pun mulai menyatakan maksud hatinya, yaitu dia berharap semoga Ayyas mau menikah dengannya.

Mendengar itu Ayyas sangat terkejut, dia lalu berpikir panjang. Oleh karenanya Ayyas tidak langsung menjawabnya saat itu.

Setelah sekian lama, Ayyas tidak kunjung memberikan jawaban, Linor pun pamit dan berharap Ayyas memberikan kepastian keesokan harinya.

Waktu Linor sudah tiba di luar, Ayyas berubah pikiran. Ia menerima dan menyanggupinya untuk menjadi suami Linor .

Ayyas pun mengejar wanita cantik itu, tapi sayang Linor sudah pergi terlalu jauh.

Lalu Ayyas langsung bergegas ke jendela untuk berteriak dengan keras bahwa dia mau menikah dengan Linor.

Namun Linor sudah pergi semakin jauh dan tak mungkin mendengar suaranya. Tiba-tiba di belakang Linor terlihat sebuah mobil hitam yang melaju ke arahnya.

Ternyata di dalam mobil itu ada orang yang membawa pistol. Ayyas berteriak memperingatkan Linor.

Namun terlambat , Doooorrr… tubuh Linor pun langsung roboh saat itu juga.

Melihat peristiwa mencekam tersebut, Ayyas langsung terkulai lemas tak berdaya melihat Linor yang telah jatuh berlumuran darah.

Kemudian Ayyas mengumpulkan segenap tenaga dan berlari menuju Linor yang sudah terkapar.

Ia mengangkat Linor ke pangkuannya dan meminta bantuan untuk membawa Linor ke rumah sakit.

Untunglah ada seorang ibu yang mengendarai mobil di dekat sana, Ayyas pun meminta tolong kepada ibu tersebut untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

Sekarang hati Ayyas sangat sedih. Dia sangat menyesal mengapa ia tidak langsung menjawab permintaan tulus Linor yang ingin menikah dengannya.

Tanpa bisa membendung perasaan, akhirnya Ayyas pun menangis dengan penuh penyesalan. Dia terus menangis. Sampai tersedu-sedua.

Ini adalah tangisan seorang laki-laki yang teguh. Teguh dalam keimanan dan teguh dalam perjuangan.

Sekarang dia sadar bahwa seseorang bisa mencintai karena Allah, dan sekarang ternyata dia harus merasa kehilangan, juga karena Allah.

Sinopsis Novel Bukan Pasar Malam – Pramoedya Ananta Toer

Sastra Angkatan 1950 -1960 an

Karya: Pramoedya Ananta Toer

Seorang pemuda adalah anak sulung dari tujuh bersaudara. Dia adalah bekas pejuang dalam melawan penjajahan Belanda.

Pernah juga dipenjara karena ikut terlibat dalam gerakan revolusi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).

Ayahnya juga adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pernah juga dipenjara.

Walaupun sama-sama pejuang kemerdekaan, tapi Sang Pemuda dan Ayahnya memiliki pendapat dan pola fikir yang sangat berbeda.

Secara moral, sang pemuda bertolak belakang dengan ayahnya. Mereka berbeda paham, terutama dalam hal agama dan ideologi.

Ayahnya adalah seorang Islam dan anak seorang ulama, dan mengabdikan diri sebagai seorang pendidik dan nasionalis.

Sang ayah lebih mementingkan masyarakat di sekitar dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Di lain pihak, sang pemuda tidak mengaku sebagai seorang Islam dan cenderung kepada ‘pasukan merah’.

Secara fisik, sang pemuda dan ayahnya juga sangat berbeda. Sang pemuda sudah lama tinggal di Jakarta dan hampir 25 tahun tidak pernah pulang kampung.

Sedangkan ayahnya bersama dengan kakak dan adiknya tinggal di Blora, kampung halaman mereka.

Perbedaan-perbedaan yang ada antara kedua ayah dan anak itu telah membuat keduanya menderita secara batin.

Sang ayah  sangat menginginkan anaknya kembali, baik secara fisik maupun secara moral.

Pada suatu hari sang pemuda menerima surat dari pamannya yang memberitahukan bahwa bapaknya sakit keras dan memintanya untuk pulang kampung.

Ia sangat terkejut membaca surat tersebut. Kemudian ia bersama istrinya berangkat menuju Blora.

Karena tidak memiliki uang yang cukup, dia  meminjam uang kepada temannya.

Dalam perjalanan, sang pemuda memberi penjelasan kepada istrinya yang merupakan orang sunda.

Dia menjelaskan keindahan kampung halamannya di Blora dan kebaikan orang-orang disana.

Ketika sampai di Blora, dia melepas rindu kepada saudara-saudaranya, kemudian ke rumah sakit untuk menemui bapaknya yang terkena penyakit TBC parah.

Ayahnya adalah salah seorang pegawai pemerintah Belanda yang ikut berjuang melawan pemerintah di bawah tanah.

Ayahnya mengeluarkan sebagian besar gajinya untuk membiayai pergerakan perlawanan.

Setelah itu ayahnya diangkat menjadi pengawas sekolah dan kemudian mengabdikan sisa hidupnya sebagai guru.

Tapi ayahnya ditangkap oleh pasukan merah saat gerakan revolusi Pesindo dan dipenjara selama dua minggu yang membuatnya jatuh sakit.

Sebagai seorang pejuang nasionalis sejati, sang ayah seharusnya mendapatkan perawatan yang layak di sanatorium saat kemerdekaan tercapai,

tapi kenyataannya malah membuat ia dan keluarganya menderita dan tinggal di rumah yang mau runtuh.

Tapi dengan lapang dada sang ayah menerima keadaan seperti itu, bahkan jiwa sosialnya lebih besar daripada memenuhi kebutuhan pribadi.

Sang ayah menyuruh anaknya untuk memperbaiki sumur yang sering dipakai orang-orang sekitar dibanding memperbaiki rumahnya yang sudah tua.

Sang Pemuda dari Jakarta sering menyuruh ayah untuk merenovasi rumah, tapi sang ayah tetap pada pendiriannya.

Dengan perawatan ala kadarnya dari rumah sakit, dan sikap perawat yang kurang perhatian pada pasiennya, maka penyakit penyakit TBC yang diderita sang ayah makin parah.

Setelah sekian lama tinggal di Blora, istrinya yang berdarah sunda dan berasal dari Jawa Barat menyuruhnya agar segera pulang karena persediaan keuangan yang semakin menipis.

Tapi anjuran istri tidak membuatnya hengkang dari Blora karena tidak tega meninggalkan ayahnya yang terkujur kaku digerogoti TBC yang semakin parah.

Melihat tingkah istrinya yang agak materialistis, sang ayah lalu memberi pesan kepadanya agar ia memahami betul adat istrinya yang berasal dari daerah di luar Jawa Tengah.

Ketika akhirnya diputuskan perawatan ayah tidak lagi di rumah sakit dan di bawa ke rumah, ternyata penyakit sang ayah bertambah parah.

Para tetangga yang selama ini merasa berhutang budi kepada sang ayah karena sering memakai sumur, banyak yang datang mengunjungi sang ayah.

Tapi karena jumlah tetangga yang datang sangat banyak, maka membuat sang ayah terganggu.

Tapi untunglah setelah menerima nasihat, akhirnya tetangga yang banyak datang disuruh menunggu di luar kamar.

Dengan sepenuh hati seluruh anak-anak merawat ayahnya yang sakit. Segala pinta ayahnya mereka turuti untuk kesembuhan ayahnya.

Tapi apa daya, takdir lebih kuat dari semua usaha mereka.

Ayahnya meninggal dunia dan menyisakan kenangan, sifat-sifat, dan jiwa besar ayahnya akan selalu dikenang oleh anak-anak, para tetangga, anak didik, dan semua orang yang mengenalnya.

Sinopsis Hikayat Hang Tuah

Sinopsis Sastra Angkatan Pujangga Lama.

Hang Tuah adalah seorang pemuda miskin. Bapaknya bernama Hang Mahmud dan Ibunya Dang Merdu Wati.

Mereka hanya tinggal di sebuah gubug di  Kampong Sungai Duyong.

Bapaknya dulu pernah menjadi hulubalang istana yang handal. Sedangkan ibunya juga  merupakan keturunan dayang di istana.

Banyak penduduk di Sungai Duyung mendengar kabar bahwa Raja Bintan adalah raja yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya.

Waktu Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya untuk pergi ke Bintan mendapatkan pekerjaan untuk hidup yang lebih baik di tanah Bintan yang makmur.

Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah.

Hang Mahmud seketika terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi-wangian.

Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya.

Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu Wati lalu  langsung memandikan dan melulurkan anaknya.

Kemudian memberikan anaknya itu kain, baju, dan ikat kepala serba putih.

Lalu Dang Merdu Wati memberi makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan bagi Hang Tuah.

Besok harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk persediaan.

Tiba-tiba pemberontak datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka-luka.

Pemilik toko meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampung.

Negeri Bintan menjadi rusuh itu dan terjadi kekacauan dimana-mana. Semua orang melarikan diri ke kampung, kecuali Hang Tuah.

Lalu pemberontak itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya.

Ibunya Hang Tuah berteriak dari atas toko dan menyuruh anaknya melarikan diri.

Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah dan menikamnya bertubi-tubi.

Dengan sigap Hang Tuah lalu melompat dan mengelak dari tikaman orang itu.

Hang Tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan mati.

Di lain pihak, sejak berada di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu.

Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama-sama.

Hang Tuah dan empat orang kawannya: Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu menuntut ilmu bersama Adiputra di Gunung Ledang.

Di tempat ini Hang Tuah telah jatuh cinta pada Melor yaitu putri asli yang tinggal di Gunung Ledang dan menjadi pembantu Adiputra.

Setelah selesai menuntut ilmu, mereka berlima kembali ke kota Melaka.

Pada suatu hari, mereka berhasil menyelamatkan Dato’ Bendahara (sama seperti Perdana Menteri) dari amukan seseorang yang berbahaya.

Dato’ Bendahara berterima kasih dan kagum dengan ketangkasan mereka dan mengajak mereka semua ke rumahnya lalu mengajak mereka untuk bertugas di istana.

Kemudian Hang Tuah dan kawan-kawan sangat disayangi oleh Sultan, dan akhirnya Hang Tuah mendapat gelar Laksamana.

Waktu mendampingi mengiringi Sultan Malaka ke Majapahit di Pulau Jawa, Hang Tuah juga berhasil membunuh seorang pendekar Jawa bernama Taming Sari.

Dalam pertarungan itu Taming Sari, seorang pendekar yang kebal dari senjata tajam.

Tapi Hang Tuah tahu rahasia kekebalan Taming Sari terletak pada kerisnya.

Lalu Hang Tuah berhasil merampas keris dan membunuh Taming Sari. Keris itu kemudiannya dianugerahkan oleh Betara Majapahit kepada Hang Tuah.

Pemilik keris ini akan menjadi kebal seperti pendekar Jawa Taming Sari.

Pada suatu hari Hang Tuah ditugaskan ke Pahang untuk mendapatkan Tun Teja yang akan dijadikan permaisuri Sultan Malaka.

Ketika Hang Tuah ke Pahang, Melor turun dari Gunung Ledang mencari Hang Tuah.

Tapi Melor telah ditawan oleh Tun Ali atas hasutan Patih Karma Vijaya untuk dijadikan gundik Sultan.

Atas muslihat Tun Ali juga, Hang Tuah yang kembali dari Pahang akhirnya dapat berjumpa Melor.

Namun Sultan melihat perbuatan Hang Tuah itu. Lalu terjadilah fitnah.

Maka Sultan menghukum Melor dan Hang Tuah akan dihukum mati, karena dituduh berzina dengan Melor yang telah menjadi gundik Sultan.

Tapi kenyataannya, hukuman mati tidak dilaksanakan oleh Bendahara tapi Hang Tuah disembunyikan di sebuah hutan di Hulu Melaka.

Di lain pihak, Hang Jebat dilantik oleh Sultan menjadi Laksamana menggantikan Hang Tuah.

Lalu keris Taming Sari telah dianugerahkan kepada Hang Jebat yang  dulu adalah kawan dekat Hang Tuah.

Hang Jebat menyangka Hang Tuah telah meninggal karena hukuman mati yang dijatuhkan oleh Sultan.

Kemudian Hang Jebat (menurut Hikayat Hang Tuah) atau Hang Kasturi (menurut Sejarah Melayu),

melakukan pemberontakan kepada Sultan dan mengambil alih kekuasaan istana.

Tidak seorang pun yang bisa melawan Hang Jebat baik itu pendekar atau panglima yang ada di Melaka, karena Hang Jebat (atau Hang Kasturi) sudah kebal dengan bantuan keris Taming Sari.

Sultan Mahmud terpaksa melarikan diri dan berlindung di rumah Bendahara.

Akhirnya pada waktu itu baginda baru menyesal telah membunuh Hang Tuah yang tidak bersalah.

Inilah saatnya Bendahara memberitahu bahwa Hang Tuah masih hidup.

Hang Tuah kemudiannya telah dipanggil pulang dan ditugaskan untuk membunuh Hang Jebat.

Akhirnya Hang Tuah berhasil merampas keris Taming Sarinya dari Hang Jebat, setelah tujuh hari pertarungan. Lalu Hang Tuah membunuh Hang Jebat.

Dalam pertarungan panjang ini, Hang Jebat menjelaskan bahwa dulu dia membela sahabatnya Hang Tuah yang telah difitnah dan dijatuhi hukuman mati oleh Sultan.

Tapi di lain pihak, Hang Tuah telah membantu sultan yang sebelum itu menjatuhkan hukuman tanpa bukti yang kuat.

Lalu Hang Jebat mengacu pada hadist Abu Bakar Siddiq R.A bahwa jika seorang Muslim bersalah, maka rakyat boleh menjatuhkannya.

Berdasarkan alasan tersebut, makanya Hang Jebat dulu memberontak pada Sultan, dan berusaha menegakkan kebenaran.

Catatan redaksi indoSastra.com:

Sampai saat ini cerita ini masih menjadi perdebatan orang melayu. Ada yang menganggap Hang Tuah sebagai pahlawan, dan ada pula yang menganggap bahwa pahlawan yang sebenarnya adalah Hang Jebat.

Di pihak yang mendukung Hang Tuah, ada sebuah alasan yang dikemukakan yaitu Hang Jebat bukan saja memberontak  kepada sultan, tapi juga telah banyak membunuh penduduk Malaka yang tidak berdosa.

Oleh karena itu wajarlah jika Hang Tuah membunuh Hang Jebat, karena dia berhak membunuh orang yang telah membunuh penduduk.

Ada sebuah sumpah yang terkenal dari Hang Tuah ialah “Tak Melayu hilang di dunia”. Artinya adalah suku Melayu tidak akan punah di bumi ini.

Sinopsis Cerpen Razia Rambut (Serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Hari ini Lupus kembali memasuki ruang kelasnya. Budi sang ketua kelas sudah menyambutnya, “Hei, Lupus! Hebat kamu.

Saya udah baca majalah kamu yang terbaru yang memuat tentang kegiatan di sekolah kita. Begitu, dong. kita harus bangga-banggain sekolah kita juga!”

Menjelang jam istirahat pertama, ada keributan di sekolah, karena akan diadakan razia rambut.

Razia rambut memang ditakuti karena guru akan mengguntingi rambut-rambut yang panjang melewati kerah dan menutupi telinga.

Padahal anak-anak sudah mengubah taktik dengan hanya memanjangkan rambut bagian depannya saja.

Seperti yang sekarang lagi mode itu. Tapi tetap saja kena razia.

Lupus yang rambutnya panjang baik di depan maupun di belakang, jelas jadi sibuk sendiri. Dia buru-buru mengemasi buku-bukunya.

”Mau ke mana kamu, Lupus?” tanya Heru yang duduk di sebelahnya.

“Kabur!” jawab Lupus seenaknya, sambil matanya tetap mengawasi guru gambar yang membelakangi murid-murid.

”Kabur? Maksud kamu lewat jendela?” tanya Heru curiga.

Tetapi begitu dia menclok di jendela, sang guru tiba-tiba membalikkan tubuh.

Matanya langsung tertuju pada figur Lupus yang bak maling lagi beroperasi. Kalau lagi terdesak, anak ini memang suka nekat.

Tak pelak lagi, Lupus langsung diseret ke depan kelas untuk diinterogasi. Setelah itu Lupus di bawa ke ruangan Kepala Sekolah untuk penghakiman lebih lanjut.

Lupus tak bisa berbuat apa-apa. Dia memang mengaku salah. Tapi situasi ini justru menyelamatkannya.

Pada saat yang bersamaan, dua orang guru menyerbu ke dalam kelas sambil membawa gunting.

Setelah itu Lupus berada di ruangan kepala sekolah. Dengan polos dia mengaku salah kepada kepala sekolah.

Untuk menutupi salahnya dia mengatakan bahwa tulisannya tentang kegiatan di sekolah sudah dimuat di Majalah Hai.

Pak Kepala Sekolah tiba-tiba menjadi ramah dan tidak marah lagi, dan mulai memuji karya-karya Lupus.

Pada kesempatan itu Lupus juga tidak lupa mencari alasan pembenaran pada rambutnya yang panjang.

Kalau semua murid gaya rambutnya sama, maka akan susah dikenali dan dibedakan oleh guru-guru.

Eh, ternyata logika tersebut diiyakan oleh Kepala Sekolah.

Lalu akhirnya Lupus melangkah ke luar kantor Kepala sekolah. Tiba-tiba dia teringat pada tasnya yang tadi dilempar ke luar jendela. Jangan-jangan masuk ke got?