Sinopsis Cerpen Kencan Pertama (Serial Lupus)- Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Pada suatu hari di sekolah, Lupus dan Poppy (pacar Lupus) membuat janji untuk kencan dengan nonton bioskop dan makan bakso.

Kencan ini sebagai perayaan karena artikel Lupus berhasil memenangkan sayembara.

Lalu mereka sepakat bahwa Lupus yang akan menjemput Poppi ke rumahnya.

Mereka akan pergi nonton di bioskop pada jam 5 sore, dan pulangnya akan makan bakso bersama.

Poppy mempersiapkan diri secara khusus dan istimewa untuk kencan pertama ini.

Dia sudah bela-belain mandi, gosok gigi, dan cuci rambut. Lengkap dengan dandanan dan make up yang luar biasa.

Dia menunggu Lupus lebih awal di teras rumah. Sudah lebih setengah jam menunggu, tapi Lupus belum muncul juga.

Dia menduga Lupus mungkin sangat ngaret, maklum dia kan suka makan permen karet.

Tapi Poppi mulai kesal, karena ini adalah saat istimewa dan bersejarah bagi hubungan mereka yang merupakan kencan pertama,

Dia tidak ingin Lupus terlambat dan mempertahankan kebiasaan ngaretnya.

Namun Poppy berusaha menepis dugaan negatif pada Lupus, dia mengingat masa-masa pertama tertarik pada Lupus.

Dulu waktu pertama masuk SMA, Poppy diangkat jadi ketua kelas, dan mengatur siswa lainnya untuk membawa keperluan kelas seperti sapu, kalender, keset, ember, lap, dan lain-lain.

Lupus yang datang terlambat iuga kebagian dapat tugas membawa bulu ayam. Esok harinya Poppy memeriksa kelengkapan yang dibawa oleh teman-temanya.

Ketika sampai di bangku Lupus, Poppy merasa heran, karena dia hanya membawa satu buku, tanpa membawa tidak membawa tas atau bawaan lainnya.

Lalu Poppy mulai menagih bulu ayam yang dibawa Lupus. Tapi Lupus santai saja membolak-balik lembaran bukunya.

Lalu dia mengambil sehelai bulu ayam yang terselip.

Poppi hanya melotot padanva, diiringi tawa teman teman vang lain. Tapi Lupus memang tak salah.

Dia benar-benar nggak tau kalau yang Poppi maksudkan itu bukan sekadar sehelai bulu ayam, melainkan kemoceng.

Poppi sering geli sendiri jika ingat kejadian itu. Dan entah kenapa, dia jadi suka membayangkan Lupus.

Anak itu polos, jarang lho bisa ketemu cowok polos begitu di Jakarta ini.

Tapi sekarang Poppi jadi kesal, Lupus tidak muncul juga, walau waktu Maghrib sudah lewat. Dia lari ke kamar sangat kesal, dan sampai menangis.

Poppi tidak akan mendengar apapun alasan dari Lupus, bahkan dia tak mau lagi bicara lagi dengannya.

Betapa tega Lupus mengingkari janjinya. Kencan pertama saja sudah kayak gini, apalagi untuk selanjutnya.

Di sekolah Poppi ketemu Lupus, tapi gayanya biasa saja. Sampai keluar main kedua Lupus tidak juga datang minta maaf padanya.

Poppi tambah kesal, padahal sejak jam setengah delapan dia pasang muka mau marah.

Pulang sekolah tanpa diduga, Lupus menunggu di dekat mobil. Diam memandangi daun-daun yang terbang tertiup angin.

Poppi memandang heran ke arahnya.

Dengan dongkol Poppi mendorong tubuh Lupus yang menghalangi pintu mobilnya, lalu segera membuka pintu tanpa menoleh.

Setelah itu meledaklah amarah Poppi. Lupus semakin terpojok. Matanya menatap kosong ke depan.

Dan sampai sepuluh menit berikutnya, Poppi terus berkicau dengan kecepatan suara yang sukar diukur dengan stop-watch sekalipun.

Sampai akhirnya, dia kecapekan sendiri. Menatap Lupus yang sama sekali tidak bereaksi.

Hingga akhirnya Lupus dapat kesempatan bicara. Dengan suara yang sangat pelan dia berkata:

 “Saya nggak tau rumah kamu …. “

“Apa?” Poppi terbelalak.

“Maafkan saya. Saya memang paling norak. Saya malu sekali dengan kebodohan saya ini.

Sungguh mati, ini yang pertama buat saya untuk pergi dengan seorang gadis. Saya terlalu gembira dan tak tau apa yang harus saya lakukan.

Saya sama sekali nggak sadar kalau saya tak pernah punya alamatmu. Jadi, mana mungkin saya bisa menjemputmu?

Kau mau memaafkan saya? Lain kali, saya Janji…” suara Lupus makin pelan.

Beberapa saat, Poppi tak tau apa yang harus dilakukannya. Hanya matanya yang menatap lebih bersahabat.

Besok harinya di sekolah, Poppi menyapa Lupus dengan mesra. Lupus pun membalas dengan segera.

Mereka menyusun rencana baru untuk kencan pada jam 5 sore. Poppi lalu memberikan secarik kertas yang tertulis alamat lengkapnya.

Tak berapa lama, Lupus menyahut dengan nada menggoda:

“Ini, saya juga mau ngasih alamat. jemputlah saya kalau kamu kelamaan menunggu …. “

Poppi pun terkesima melihat kepolosan dan kejenakaan Lupus.

Sinopsis Cerpen Styling Foam (serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Ada yang berubah pada diri Lupus selama 4 hari ini. Adiknya Lulu sampai menceritakan perubahan Lupus tersebut kepada ibunya.

Perubahan yang terlihat adalah Lupus sering ngaca selama berjam-jam dan sering pulang senyum sendiri.

Pagi ini Lupus juga bertindak beda, subuh-subuh dia sudah bangun, biasanya bangun telat,  selalu terburu-buru mandi dan berpakaian seadanya untuk mengejar waktu agar tidak terlambat sekolah,

Dari bangun tadi Lupus sibuk memilih baju, dan menyetrikanya. Biasanya, boroboro disetrika, baju dari jemuran langsung main samber aja.

Lupus biasanya mandi sekali sehari, kini jadi tiga kali sehari sehabis makan. Di samping itu dia sekarang rajin sikat gigi, dan juga sering ngilik-ngilik kuping.

Perubahan yang ada pada Lupus membuat Ibu dan Lulu jadi menduga-duga, mungkin Lupus lagi jatuh cinta, demikian ujar Lulu pada Ibunya.

Lupus juga jadi rajin membersihkan muka pake face tonic. Yang jadi korban adalah Lulu.

Alat-alat pembersihnya jadi hampir semuanya pindah ke kamar Lupus.

Yang paling mencolok, Lupus sekarang nyolong styling foam adiknya, untuk membentuk rambutnya yang gondrong.

Lupus bolak-balik memandangi poster Duran Duran untuk ngikutin gaya rambutnya.

Hampir satu jam dia berkutet di depan cermin. Setelah merasa pas, dia keluar kamar dan mulai berjalan hilir-mudik di depan Lulu yang lagi asyik makan.

Setengah jam setelah itu, dia kembali Mengatur-atur rambutnya. Dengan membasahi sedikit pada bagian pinggir, biar memberi efek basah yang tahan lama.

Setelah selesai dia menemui ibunya yang asyik di dapur untuk minta doa restu. “Bu, saya pergi dulu.

…Mungkin sampai malam atau nginep, jadi nggak usah dicariin deh. Kan malam minggu …. “

Khusus untuk acara-acara bersejarah seperti malam minggu ini, Lupus memang mengistimewakannya dengan menumpang bis Patas, bukan bis biasa.

Alasannya, di samping lebih leluasa duduk, parfum dan rambutnya nggak berantakan berbaur oleh penumpang-penumpang lain.

Sementara bis Patas-nya masih melesat menembus udara malam yang kian dingin. Di luar memang berhembus angin kencang.

Lupus sempat memaki-maki ketika dia membuka jendela, dan diserang oleh angin yang mengacak-acak rambutnya.

Di luar turun hujan. Ketika bis itu melewati pasar Blok M, Lupus cemas total. Semua penumpang pada turun, kecuali Lupus.

Dan biasanya kondektur suka seenaknya menurunkan penumpang kalau tinggal sendirian.

Lupus sibuk komatkamit di pojokan. Baca mantera biar ngusir pikiran jahat sang kondektur.

Tapi, benar juga. Begitu lewat Blok A, kondektur itu mulai menghampiri Lupus dan mengatakan bisnya mau pulang, dan Lupus disuruh pindah ke bis yang ada di belakang.

Dengan dongkol yang meluap-luap dia melompat turun. Tapi, ya, Tuhan, di daerah situ sama sekali tak ada tempat berteduh.

Mana hujan masih deras. Walhasil, dengan keadaan basah kuyup, dia berlarian menelusuri malam.

Sampai menemukan pemberhentian bis. Dan ketika sebuah metro melintas, Lupus melompat ke dalamnya.

Kini keadaannya tidak lebih dari tikus yang baru kejebur got. Basah kuyup. Rambutnya yang tadinya keren, kini mlepek.

Sekarang Lupus dilanda dilema. Tetap datang atau balik ke rumah. Kalau balik ke rumah.

Tak bisa dibayangkan, betapa terpingkalpingkalnya Lulu melihat rambut Lupus yang kini benar-benar basah, bukan hanya efek basahnya saja.

Ah, itu tidak boleh terjadi. Lagi pula sudah kepalang tanggung, rumah Poppi sudah beberapa kilometer lagi.

Sesampainya di Cilandak, hujan masih turun. Lupus cuma berjalan lemas ke tempat pemberhentian bis, dan menyandar lemas pada tiang penyangga.

Kedinginan sekujur tubuh. Bibirnya pun mulai membiru. Setengah mati menahan air matanya yang hendak berbaur bersama air hujan, karena kesal.

Tidak, saya harus pulang! Harga diri saya bakalan jatuh di pasaran! batinnya.

Lalu Lupus melangkah pergi, ketika matanya tertumbuk pada seorang gadis yang
berpayung beberapa langkah dari situ. Lupus mencoba menghampiri.

“Poppi?” tanyanya ragu. Gadis itu terkejut dan menoleh. “Lagi ngapain, Pop?”

“Ya, Tuhan, Lupus. Kok basah kuyup begini?

Dan bibir kamu itu… birunya! Aduh, kamu kehujanan. ya?” berondong Poppi sambil mengguncang-guncangkan bahu Lupus.

“Ayo ke rumah. Saya udah cemas banget, lho. Saya pikir kamu nggak bakalan datang, hujan-hujan begini …. “ sahutnya lagi sambil menarik tangan Lupus.

“Tapi saya malu, Pop. Basah kuyup begini …. ”

“Kenapa malu? Saya malah bangga, karena kamu bela-belain dateng meski hujan deras, itu kan tandanya kamu bertanggung jawab.

Selalu menepati janji. Saya suka orang yang menghargai janji …. “ sahut Poppi ceria.

“Ayolah, nanti kamu kedinginan. Di rumah akan saya suruh sediakan air hangat, dan baju buat ganti. Biar nggak masuk angin …. “

Lupus jadi terharu.

Sinopsis Cerpen Kolak Pisang Buat Lupus (serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Bulan puasa adalah bulan suci. Bulan yang penuh berkah Tuhan. Tapi tak bisa dipungkiri, bahwa pada bulan-bulan seperti ini, kelesuan hampir menjalari wajah-wajah siswa SMA Merah Putih.

Tapi semua harus berjalan, karena kegiatan sekolah tetap dilaksanakan seperti biasa.

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya mereka mencoba berkonsentrasi pada pelajaran yang diterangkan, sementara perut masing-masing mereka asyik ber-‘keroncong-ria’.

Tapi bulan puasa tidak selalu diisi dengan kemuraman. Bisa tambah lapar.

Kadang anak-anak juga ngumpul di depan kelas masing-masing. Bikin cerita lucu atau tekateki yang aneh-aneh.

Sampai beberapa hari, teka-teki itu mulai nggak sehat. Mulai dicari-cari. Tapi malah semakin lucu.

Seperti teka-teki yang diberikan oleh Lupus: “Benda apa yang kalau siang ada di dapur, tapi kalau malam ada di pohon?”

Semua pada mikir. Dan mulai berspekulasi untuk menjawab dengan sembarangan. Sampai besoknya, Lupus baru memberikan jawaban. “jawabnya adalah panci!”

Tentu saja semua anak pada protes. Bagaimana mungkin panci bisa berada di pohon di waktu malam?

“Lho, itu kan panci saya ini. Terserah dong saya mau taruh di mana aja…,” elak Lupus yang langsung dimaki-maki penonton.

Dan canda-canda itu berlangsung sampai mereka tak sadar kalau hari mulai senja.

Meski sebenamya tak ada masalah, anak-anak sempat protes juga, karena sekolah belum libur meski sudah mendekati ulangan umum.

Waktu istirahat untuk minggu tenangnya cuma dikasih dua hari. Sabtu dan Minggu.

“Itu sih cuma cukup untuk ngeraut pensil!” maki Rosfita. teman Lupus yang punya prinsip: jangan pernah mengecewakan orang yang nawarin makan.

Tapi Lupus lebih suka sekolah. Kalau diam di rumah, waktu bisa terasa berjalan lebih lama. Enakan cari kesibukan di luaran.

Lalu Lupus naik metro mini menuju Blok M untuk jalan-jalan, dan melihat pemandangan yang indah-indah.

Di sana Lupus setengah mati menahan diri untuk tidak memandangi cewek-cewek kece di pinggir jalan. Dia jadi sok cuwek.

Tapi, apa iya lihat cewek cakep bisa ngebatalin puasa? Padahal cewek cakep itu kan karunia Tuhan yang menyenangkan untuk dilihat. Apalagi menyianyiakan karunia Tuhan kan dosa, lho!

Lupus jelas tak bisa menahan diri lagi ketika seorang cewek naik dan duduk tepat berhadap-hadapan dengannya.

Wajahnya benar-benar jet-set, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam panjang terurai, bibirnya dipolesi lipstik merah muda yang tipis.

Benar-benar mubazir untuk tidak dilihat. Dan… sempurnalah godaan itu.

Saat-saat pertama Lupus masih bisa menahan diri untuk tidak terus-terusan memandang.

Cewek itu terlalu keren untuk ditaksir. Nggak bakalan ditanggapi. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya ke luar jendela.

Tapi ternyata gadis itu mencuri-curi pandang ke arah Lupus. Lupus masih mencoba untuk tetap cuwek. Dia harus tabah, jangan tergoda.

Secara nggak sadar, dia tersenyum-senyum sendirian di metro mini. Di depan cewek cakep tadi.

Dan, oh God, cewek itu membalas senyum nyasar dari Lupus. Gimana nggak ge-er?

“Halo.” sapa Lupus berani. “Mau ke mana?”

Gadis itu tersenyum lagi. Senyum yang penuh godaan. “Ke Blok M, nih. Mau shopping. Anterin, yuk?”

Lupus agak kaget. Agresif banget cewek ini. Dan tanpa menunggu ajakan kedua, beberapa saat kemudian, Lupus telah berjalan keliling-keliling blok M berdua cewek tadi.

Dari situ dia tau, namanya Evan. Banyak sekali yang dibelinya. Seluruh pasar Blok M dikelilingi.

Dan Lupus jadi agak risi ketika Evan dengan seenaknya menggandeng tangan Lupus. Gimana kalau ceweknya tau?

Jam tiga siang, mereka berhenti di depan American Hamburger. Evan mengajak masuk.

Lupus jelas menolak, meski dia merasa sangat lapar dan haus.

“Ayo deh, saya yang traktir, kok…,” rayu Evan.

”Bukan masalah itu. Saya kan puasa!”

“Batal sehari kan nggak apa-apa. Ayo deh, kan capek lho udah keliling-keliling. Dikiiit aja. Yuk?”

“Kamu ajah deh, saya nggak.”

“Ya…, kok gitu. Nggak seru, ah. Tadi kita kan udah bareng. Ayo dong, Anak manis!”

Dan jebollah pertahanan Lupus. Akhirnya dengan langkah sedikit ragu, dibarengi celingak-celinguk kanan-kiri, takut kepergok orang rumah, Lupus masuk ke restoran.

Langsung dipesankan steak, strawberry milk-shake dan minuman dingin.

Waktu pun berlalu, saat itu mulai senja ketika Lupus melangkah masuk ke rumahnya.

Ketika itu ibunya masih sibuk kerja di dapur. Memasuk-masukkan makanan ke rantang.

Sepeninggal ayah Lupus, ibunya memang buka usaha katering. Lumayan, buat menyambung hidup, komentarnya.

Dan hasilnya memang luar biasa. lbu Lupus termasuk wanita yang ulet, yang tak menyerah kepada takdir.

Seperti sekarang ini, dia masih tetap bekerja meski puasa.

Berbeda dengan Lulu, adik Lupus. Kerjanya kalo puasa tidur melulu. “Itu lebih baik daripada nggosip!” belanya suatu ketika.

Lupus masuk ke ruang tengah dengan perlahan. Tapi ibunya melihat. ”Eh, Lupus. Baru pulang?

Itu lbu bikinkan kolak pisang kesukaan kamu buat buka puasa. Cepat mandi, sebentar lagi beduk, lho!”

Lupus tercekat. lbunya yang sibuk itu masih sempat membikinkan makanan kesukaannya.

Betapa ingin dia membahagiakan anak-anaknya. Sedang Lupus?

“Lho, kok malah bengong? Lapar, ya? Tahan aja sedikit. sebentar lagi buka. kok. Cepat mandi biar segar …. “

Tanpa berkata apa-apa. Lupus langsung ngeloyor ke kamar mandi. Dan sempat ketemu Lulu di depan kamar.

“Eh, Lupus, udah pulang. Itu ada oleh-oleh buat kamu.

Sekotak permen karen. Tadi ogut iseng beli waktu nganterin lbu ke pasar. Hayo, kamu masih puasa nggak?”

Lupus makin terpojok. Di kamar mandi, dia ingin teriak keras-keras. Meneriakkan ganjelan hatinya.

Dia memang ngaku masih puasa sampai kini. Dia tak ingin mengecewakan semuanya.

Tapi, siapa sangka kalau membohongi diri sendiri itu lebih menderita daripada ngebohongin orang lain

Beduk magrib berdentum di kejauhan. Diiringi oleh teriakan azan. Saat itu Lupus malah berlari ke telepon umum di depan rumahnya.

“Halo? Bisa bicara dengan Evan?”

“Ya, ini Evan …. “

“SEJUTA TOPAN BADAI BUAT KAMU!!!”

Sinopsis Cerpen: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak! (Serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Lupus adalah seorang siswa yang bersekolah di SMA Merah Putih. Dia memiliki gaya dan ciri yang khas,

yaitu: badan kurus dan sedikit tinggi, suka pakai baju lengan panjang, model rambutnya yaitu bagian depan yang panjang hampir menutupi mata,

bagian samping dipotong rapi ke arah belakang, dan bagian belakang terlihat panjang hampir menutupi kerah baju.

Ciri lupus yang lain yaitu dia gemar mengunyah permen karet, dan sering pula membuat balon besar dari permen karet tersebut.

Dia juga suka menulis artikel dan kadang juga cerpen di majalah remaja. Dari hasil menulis tersebut, dia tak pernah minta uang dari ibunya.

Seperti biasa, kalau pergi sekolah Lupus sering naik bis kota, tapi kali ini dia disuruh guru biologi membawa contoh-contoh tanaman dan baju praktek. 

Jadinya dia agak kerepotan naik bis.

Walau susah payah di dalam bus yang penuh sesak, Lupus berhasil berkenalan dengan seorang cewek cantik yang bernama Yanti.

Mereka lalu ngomong banyak mulai dari soal sekolah, cuaca, film, musik, dan makanan favorit. Mereka jadi akrab dan sangat dekat.

Sementara lalu lintas sedang macet. Kalau pagi memang banyak orang yang bertugas. api Lupus tidak menyesali macet ini. Malah bersyukur.

Sampai di Senayan, ada seseorang yang turun dan meninggalkan bangku kosong yang langsung diduduki Yanti.

Lupus pun segera menitipkan bawaannya yang banyak kepada Yanti. Contoh-contoh tanaman serta diktat yang besar-besar.

Tapi pembicaraan mereka terputus karena ada pula seorang cowok lain yang juga ngomong dengan Yanti.

Lupus jadi kesal. Sampai akhirnya buru-buru turun.   Tapi sayang, hal ini membuat dia lupa membawa turun barang bawaannya yang banyak.

Lupus jadi sangat kesal dan ingin berteriak. Lalu dia mengambil permen karet dan menggigitnya keras-keras.

Tiba-tiba terdengar suara seorang cewek yang memanggil Lupus. Ternyata dia adalah Yanti yang membawa barang bawaan Lupus yang tertinggal.

Harusnya Yanti turun di Mayestik, tapi dia bela-belain untuk mengembalikan barang bawaan lupus yang terlupa.

“Wah, makasih banget, Yan! Bawa sini dong!” sahut Lupus girang sambil menghampiri Yanti.

Tapi Yanti malah menjauh sambil tertawa-tawa. ”Ayo, tangkap dulu, dong. Hahahaha”

Dengan romantise dadakan, Lupus dengan mudah menangkap Yanti. Setelah itu Lupus pun dengan setia menemani Yanti menunggu bis yang akan lewat berikutnya.

Lupus sangat menikmati suasana ini. Tidak peduli bel sekolah yang berdentang di kejauhan. Dan dia malah bersyukur ketika bis yang ditunggu tak kunjung tiba.

Sinopsis Cerpen Razia Rambut (Serial Lupus) – Hilman Hariwijaya

Sastra Angkatan 1980 – 1990 an.

Dari serial novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Karya Hilman Hariwijaya, tahun penulisan: 1986

Ringkasan Umum:

Ini adalah salah satu cerpen tentang lupus yang pernah dimuat di majalah Hai, dan terdapat dalam novel Lupus 1: Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!

Hari ini Lupus kembali memasuki ruang kelasnya. Budi sang ketua kelas sudah menyambutnya, “Hei, Lupus! Hebat kamu.

Saya udah baca majalah kamu yang terbaru yang memuat tentang kegiatan di sekolah kita. Begitu, dong. kita harus bangga-banggain sekolah kita juga!”

Menjelang jam istirahat pertama, ada keributan di sekolah, karena akan diadakan razia rambut.

Razia rambut memang ditakuti karena guru akan mengguntingi rambut-rambut yang panjang melewati kerah dan menutupi telinga.

Padahal anak-anak sudah mengubah taktik dengan hanya memanjangkan rambut bagian depannya saja.

Seperti yang sekarang lagi mode itu. Tapi tetap saja kena razia.

Lupus yang rambutnya panjang baik di depan maupun di belakang, jelas jadi sibuk sendiri. Dia buru-buru mengemasi buku-bukunya.

”Mau ke mana kamu, Lupus?” tanya Heru yang duduk di sebelahnya.

“Kabur!” jawab Lupus seenaknya, sambil matanya tetap mengawasi guru gambar yang membelakangi murid-murid.

”Kabur? Maksud kamu lewat jendela?” tanya Heru curiga.

Tetapi begitu dia menclok di jendela, sang guru tiba-tiba membalikkan tubuh.

Matanya langsung tertuju pada figur Lupus yang bak maling lagi beroperasi. Kalau lagi terdesak, anak ini memang suka nekat.

Tak pelak lagi, Lupus langsung diseret ke depan kelas untuk diinterogasi. Setelah itu Lupus di bawa ke ruangan Kepala Sekolah untuk penghakiman lebih lanjut.

Lupus tak bisa berbuat apa-apa. Dia memang mengaku salah. Tapi situasi ini justru menyelamatkannya.

Pada saat yang bersamaan, dua orang guru menyerbu ke dalam kelas sambil membawa gunting.

Setelah itu Lupus berada di ruangan kepala sekolah. Dengan polos dia mengaku salah kepada kepala sekolah.

Untuk menutupi salahnya dia mengatakan bahwa tulisannya tentang kegiatan di sekolah sudah dimuat di Majalah Hai.

Pak Kepala Sekolah tiba-tiba menjadi ramah dan tidak marah lagi, dan mulai memuji karya-karya Lupus.

Pada kesempatan itu Lupus juga tidak lupa mencari alasan pembenaran pada rambutnya yang panjang.

Kalau semua murid gaya rambutnya sama, maka akan susah dikenali dan dibedakan oleh guru-guru.

Eh, ternyata logika tersebut diiyakan oleh Kepala Sekolah.

Lalu akhirnya Lupus melangkah ke luar kantor Kepala sekolah. Tiba-tiba dia teringat pada tasnya yang tadi dilempar ke luar jendela. Jangan-jangan masuk ke got?