Sinopsis Novel Aki – Idrus

Sastra Angkatan 45, dengan bentuk novel pendek

Karya: Idrus (Abdullah Idrus adalah nama lengkap beliau)

Ringkasan umum:

Seorang laki-laki meramalkan dia akan mati pada tanggal tertentu. Tapi kenyataan tidak demikian.

Setelah itu dia sadar bahwa hanya tuhan yang menentukan umur seseorang.

Kemudian dia hidup dengan lebih semangat dan bermanfaat bagi orang lain.

Ada sebuah keluarga kecil. Suami bernama Aki dan didampingi oleh istrinya yang bernama Sulasmi.

Dari dulu Aki adalah seorang laki-laki yang berhati baik, suka menolong, membantu tanpa pamrih, dan mendermakan sebagian hartanya.

Tetangga dan teman-teman banyak yang senang padanya. Sangat jarang ditemukan orang yang sebaik Aki.

Tapi sayang, Aki tidak pernah sholat dan puasa. Mungkin karena dia melihat bahwa banyak orang yang sholat dan puasa, tapi mereka tetap menipu, korupsi, dan berbuat jahat. Ini yang jadi pertanyaan Aki yang belum terjawab.

Kebahagiaan suami istri ini terusik, karena Aki sudah lama menderita penyakit yang parah yaitu TBC.

Oleh karenanya, badan Aki kelihatan renta dan tidak sehat. Walaupun usianya baru 29 tahun, tapi kelihatan lebih tua seperti berusia 40 tahun.

Setelah sekian lama tak kunjung sembuh, Aki lalu meramalkan  bahwa dia akan meninggal tahun depan yaitu pada tanggal 16 Agustus.

Memang aneh, tapi dia menyebarkan kabar itu pada tetangga dan teman kantornya bahwa dia akan meninggal pada tanggal tersebut.

Yang lebih aneh lagi, ternyata istrinya Sulasmi mempercayai ucapan Aki.

Kemudian Aki dan istrinya membeli kain kafan untuk pembungkus mayat Aki kalau nanti mati.

Anehnya, sebagai kain untuk kafan, mereka membeli kain  pike yang mahal yang biasa digunakan sebagai bahan housecoat, jaket, baju Orang Eropa dan bebe.

Mungkin karena satu-satunya kain yang akan dibawa mati, mereka lalu membeli kain yang bagus dan mahal.

Akhirnya tanggal 16 sudah datang. Yaitu waktu yang telah ditentukan bahwa Aki akan meninggal, ia memakai baju-baju yang paling bagus untuk menanti kedatangan maut. Sekitar seperempat jam, ia naik ketempat tidur.

Lalu Sulasmi memanggil-manggil Aki, tetapi tidak dijawabnya karena dia sedang tidur.

Istrinya menduga bahwa Aki telah benar-benar mati, maka ia menangis dan memanggil tetangga serta kawan-kawannya yang menunggu diluar.

Karena suasana yang ribut itu Aki lalu terbangun, dia segera mengambil korek api dan menyulut rokok dan lisongnya.

Tetangga dan teman-teman tadi menjadi terkejut melihat Aki yang tidak jadi  mati. Setelah memastikan kenyataan,  mereka lalu pulang.

Tinggallah Aki dengan istrinya. Malah Aki gembira dan berkata bahwa ia tidak jadi mati.

Berdasar peristiwa itu, dia justru mengatakan ingin hidup sampai berumur 60 tahun.

Seiring berjalannya waktu, keadaan Aki menjadi sebaliknya. Tiap hari badannya bertambah sehat dan kelihatan seperti berumur 30 tahun, padahal sebenarnya berumur 40 tahun.

Aki merasa bahwa kematiannya akan berarti kerugian besar bagi dunia, maka selama hidup kesempatan harus dipergunakan sepenuhnya dalam arti yang baik.

Kemudian Aki masuk fakultas hukum, dia tidak mau menyerah mentah-mentah kepada maut seperti dahulu.

Malahan ia tidak mau lagi mati pada usia 60 tahun, tetapi ia hendak mencapai usia 100 tahun.

Sekarang Aki bisa menjawab pertanyaannya dulu. Bahwa sekarang ia percaya pada tuhan, dan hanya tuhan yang menentukan umur dan waktu meninggalnya seseorang.

Kini dia tahu bahwa berbuat baik saja tidak cukup, harus diikuti sholat, puasa, dan tauhid.

Kalau dulu ia sering melihat banyak orang yang sholat dan puasa, tapi mereka tetap menipu, korupsi, dan berbuat jahat.

Itu artinya ibadah mereka hanyalah topeng, tanpa diikuti oleh ketulusan hati dan iman. Mereka itu hanya tahu (bahasa arabnya fiqih), tapi tidak mengamalkan.

Dari novel pendek ini dapat kita tarik kesimpulan, bahwa kita tidak boleh menentang takdir.

Jadi memang benar, bahwa sholat dan ibadah yang benar akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Sebaik-baiknya manusia adalah rahmat bagi sekalian alam. Seperti ajaran tasawuf (sufisme) yang mengajarkan kebaikan hati dan amalan, bukan hanya sekedar tahu.

Sinopsis Novel Atheis – Achdiat K. Mihardja

Sastra Angkatan tahun 1945

Karya: Achdiat K. Mihardja

Ringkasan Umum:

Seorang pemuda awalnya taat beragama, karena kecewa tidak jadi menikah dengan wanita pujaan, dia pindah ke Bandung.

Di Bandung dia terpengaruh oleh orang-orang yang tidak percaya tuhan tapi memiliki pengatahuan luas, terlebih lagi setelah menikah dengan wanita yang juga berpikiran bebas.

Akhirnya keimanan pemuda ini jadi hilang. Banyak masalah yang terjadi setelah itu, dan akhirnya pulang kampung ke rumah dan minta maaf pada orang tua, tapi ditolak dan diusir dari rumah.

Kemudian dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

Seorang pemuda bernama Hasan lahir  di Panyeredan berasal dari sebuah keluarga yang fanatik terhadap agama Islam.

Maka tak heran jika ia pun juga sangat taat dalam beribadah. Hasan adalah pemuda yang pandai, dan  menghormati orang tuanya.

Hasan melanjutkan sekolahnya ke Bandung. Di sana ia berkenalan dengan Rukmini dan menjalin hubungan dan ingin menikahinya.

Namun status sosial Rukmini berbeda dengan Hasan, lalu orang tua Rukmini memintanya untuk kembali ke Jakarta dan pada akhirnya dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang saudagar kaya.

Hati Hasan sangat sakit. Ia pun merasa kecewa dan patah hati karena baginya Rukmini adalah seseorang yang baik, soleha dan sangat cantik.

Namun, hal tersebut selalu manjadi beban pikirannya. Sejak saat itu Hasan menginginkan tingkatan ibadah yang lebih agar ia bisa lebih dekat dengan sang pencipta. Ia pun mengikuti jejak ayahnya yang menganut ilmu tarekat.

Kemudian Hasan pergi ke Bandung dan bertemu dengan Rusli yang merupakan kawan saat  masih kecil.

Di sana ia juga melihat seorang wanita cantik bernama Kartini yang mempesona Hasan pada pandangan pertama.

Sejak pertama bertemu tersebut Hasan mulai menaruh hati pada Kartini karena mirip dengan Rumkini.

Dia juga sering  berkunjung ke rumah Rusli  untuk sekedar bertanya tentang Kartini. Tapi setiap datang ke rumah Rusli, ia pun pasti melihat Kartini  di sana.

Mulanya ia  cemburu dan menduga pergaulan antara Rusli dan Kartini bukan hubungan antara kakak dan adik, melainkan lebih.

Akhirnya Hasan tahu bahwa Rusli merupakan seorang yang  tidak percaya adanya Tuhan.

Setiap berbincang dengan mereka Hasan sering tidak dapat mengendalikan diri saat argumen-argumen Rusli logis adanya.

Pernah juga dia emosi pada Rusli. Kesimpulannya ia menyimpulkan untuk membantu Rusli dan Kartini ke jalan yang benar.

Tapi upaya Hasan selalu gagal karena berargumen dengan orang-orang yang pengetahuannya luas.

Terlebih ketika Hasan juga berkenalan dengan teman Rusli yang lain, yakni Anwar yang seorang atheis, tidak percaya kepada Tuhan. Karena kepintaran Anwar mempengaruhi Hasan, Hasan mulai terpengaruh.

Kesalehan yang selama ini melekat dalam dirinya perlahan-lahan luntur. Ia mulai meragukan keberadaan Tuhan dan mulai tidak taat beribadah.

Keimanan Hasan jadi tambah hilang saat ia menjalin hubungan dengan Kartini. Ia semakin menjadi sosok pribadi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di mata Hasan, sosok Kartini sangat mirip dengan Rukmini,  kekasihnya yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya.

Hasan dan Kartini pun akhirnya menikah . kedua orang tua Hasan tidak menyetujui pernikahan tersebut. Namun tetap menikahi Kartini.

Rumah tangga Hasan dan Kartini tidak harmonis karena Kartini orangnya sangat bebas dan ada juga Anwar yang memperburuk keadaan.  Akhirnya mereka pun bercerai.

Dari masalah tersebut Hasan kembali membutuhkan Tuhan. Kemudian membuat Hasan merasa berdosa kepada orangtuanya dan juga kepada Allah.

Selanjutnya Hasan sakit tuberkulosis. Setelah beberapa minggu, kemudian Anwar pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan meminta maaf atas apa yang telah ia perbuat.

Ia  berniat bersujud di kaki ayahnya yang pada saat itu sakit parah.

Tapi Ayahnya masih marah dan tidak menerima permohonan maaf dari Hasan. Lalu Hasan disuruh pergi dari rumah.

Hasan akhirnya kembali ke Bandung karena sudah putus harapan. Hasan menemui seorang jurnalis dan menyerahkan suatu tulisan tentang riwayat hidupnya, saat itu

Hasan masih sakit-sakitan. Jurnalis tersebut mau menerbitkan karya Hasan jika terjadi sesuatu kepada Hasan.

Setelah itu, Hasan pergi dari rumah setelah jam malam dan tertembak oleh patroli pasukan Jepang.

Dia lalu meninggal setelah disiksa, dengan kata terakhirnya “Allahu Akbar”. Esok harinya, datanglah Rusli dan Kartini menjemput jenazahnya.