Sinopsis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck – Buya Hamka

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka

Ringkasan Umum:

Novel ini bercerita tentang kisah cinta dua insan, tapi dipisahkan oleh tradisi adat.

Ada dua adat yang ada dalam novel ini yaitu Budaya Minangkabau (Padang) dan Budaya Bugis (Makassar).

Sang penulis Buya Hamka beranggapan bahwa beberapa tradisi adat tersebut tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.

Cinta yang dirasakan Zainuddin adalah cinta yang tidak sampai karena terhalang oleh adat yang sangat kuat.

Cinta ini bermulai ketika Zainuddin sudah tidak punya orang tua lagi atau yatim piatu.

Ayah Zainuddin adalah suku Minangkabau asli, dia diasingkan dan dibuang ke Makassar karena telah membunuh seseorang kerabat yang disebabkan masalah warisan.

Ayah Zainuddin meninggal di Makassar. Ibu Zainuddin adalah suku bugis (orang Makassar), yang meninggal sebelum wafatnya ayah Zainuddin.

Pada awalnya Zainuddin tinggal di Makassar dengan  teman ayahnya, Mak Base. Kemudian Zainuddin pindah ke Batipuh Kabupaten Tanah Datar di Sumatra Barat.

Karena Zainuddin adalah campuran orang Minangkabau dan Bugis, banyak perlakuan buruk yang ditujukan kepadanya, baik di Makassar maupun di Minangkabau, karena kuatnya adat istiadat masyarakat pada saat itu.

Salah satu diskriminasi yang dirasakan Zainuddin adalah ketika dia mencintai Hayati yang merupakan seorang anak dari bangsawan Minangkabau.

Tapi Zainuddin tidak boleh menikahi Hayati karena dihalangi oleh adat istiadat yang mengatakan bahwa Zainuddin bukan orang Minangkabau asli karena ibunya dari Makassar.

Karena kecewa,  Zainuddin kemudian  pindah ke Kota Padangpanjang yang berjarak sekitar 10 km dari Batipuh.

Zainuddin tetap melakukan surat-menyurat dengan Hayati.

Hayati lalu datang ke Padangpanjang, karena dia punya seorang kawan yang bernama Khadijah, lalu Hayati menginap di rumahnya.

Khadijah mempunyai kakak laki-laki yang bernama Aziz yang diam-diam naksir pada Hayati.

Karena bermukim pada satu kota (padangpanjang) akhirnya Azis dan Zainuddin bersaing dalam mendapatkan cinta Hayati.

Tapi sayang, keluarga Hayati lebih memilih Azis yang merupakan keturunan Minangkabau asli dan keluarganya juga berada.

Zainuddin dianggap tidak lebih baik daripada Azis karena Zainuddin adalah anak campuran Minangkabau dan Bugis.

Mendengar pernikahan antara Hayati dan Azis, membuat Zainudin jatuh sakit, akan tetapi berkat dorongan semangat dari Muluk sahabatnya yang paling setia, kondisi Zainudin berangsur-angsur membaik.

Kemudian Zainuddin dan Muluk pergi pulau ke Jawa, tinggal pertama kali di Batavia sebelum akhirnya pindah ke Surabaya.

Di perantauan, Zainuddin menjadi penulis yang terkenal.

Karena alasan pekerjaan, Azis juga pindah ke Surabaya bersama Hayati.

Seiring waktu berjalan, hubungan Azis dan Hayati tidak baik lagi. Setelah Aziz dipecat, mereka terpaksa menginap di rumah Zainuddin.

Seiring waktu, Aziz menyadari bahwa Zainuddin lebih pantas untuk Hayati.

Akhirnya Aziz memutuskan untuk pergi ke Banyuwangi, dan dia meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan telah mengikhlaskan Hayati untuk Zainuddin. Kemudian Azis mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Rasa cinta Zainudin pada Hayati sebenarnya masih kuat, akan tetapi mengingat Hayati itu sudah menikah dan bersuami, cinta yang masih menggelora itu dia usahakan untuk dipadamkan, kemudian Hayati dibiayai untuk pulang ke kampung halaman di Batipuh, Sumatra Barat.

Esok harinya, Hayati berangkat dengan sebuah kapal yaitu Van der Wijck. Kapal ini kemudian tenggelam di pesisir utara pulau Jawa.

Setelah mengetahui kabar tersebut, Zainuddin dan Muluk pergi ke  untuk mencari Hayati, akhirnya ditemukan dia  berada di sebuah rumah sakit di Cirebon.

Setelah beberapa waktu, Hayati akhirnya meninggal di rumah sakit tersebut setelah melewati waktu bersama Zainuddin.

Di saat-saat akhir hayatnya, Hayati masih sempat mendengar dan melihat bahwa sebenarnya Zainudin masih sangat mencintainya, namun semua itu sudah terlambat.

Beberapa waktu kemudian, Zainuddin pun jatuh sakit, setelah badannya makin lemah, kemudian akhirnya dia wafat.

Mereka lalu dikebumikan secara berdampingan.

Sinopsis Novel Neraka Dunia – Nur Sutan Iskandar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ada sebuah toko yang menjual perkakas rumah dan mebel dengan nama “Usaha Kita”.

Toko ini banyak yang belanja dan cukup laris. Pemiliknya bernama Ahmad Salam Bin Haji Munir, dia meneruskan usaha toko Bapaknya yang dari dulu sudah dikenal masyarakat.

Tapi sayang, masa muda Ahmad Salam sangat gelap. Kebebasan yang diberikan orang tua membuatnya hidup tidak karuan, setiap malam ia pergi keluar untuk mencari kesenangan sesaat.

Hal itu sering ia lakukan, hingga ia bertemu dengan Siti Delima, seorang anak komidi bangsawan.

Siti Delima dan Ahmad Salam sering pergi keberbagai tempat secara bersama, bahkan sampai ke Surabaya.

Tapi disana ia ditinggalkan begitu saja oleh Siti Delima.

Kemudian dia bertemu dengan Sulastri, kejadian bersama Siti Delima kembali terulang, Sulastri menghilang tanpa jejak.

Ditengah rasa kewewa, Ahmad Salam berkenalan dengan Aladin, pemuda Bugis.

Aladin yang sudah banyak pengalaman tinggal di Surabaya mengajaknya menjelajahi pelosok kota sampai ke lorong-lorong sempit tempat kupu-kupu malam bersarang.

Ahmad Salam merasa cocok dengan Aladin. Mereka selalu menjalani hari-hari secara bersama. Tapi pergaulan mereka menyeret Ahmad Salam ke jurang nista.

Pernah suatu hari Ahmad Salam dinasehati oleh Tabrani, sahabatnya yang senantiasa tekun beribadah pada Tuhan.

Tapi sayang, nasehat Tabrani tidak digubris oleh Ahmad Salam.

Justru sebaliknya, semakin lama Ahmad Salam  terperosok jurang nista semakin dalam.

Setiap malam bersama Aladin dihabiskan waktu dan uangnya di tempat-tempat mesum, memburu kenikmatan bersama perempuan-perempuan jalang.

Ahmad Salam mendatangi hampir seluruh tempat mesum dan hotel-hotel yang menyediakan bunga sedap malam.

Sampai pada suatu hari dia merasakan ada perubahan pada tubuhnya.

Di seluruh badannya timbul bintik-bintik dan gatal. Badannya lemah, panas dingin dan sakit-sakitan. Ternyata dia kena penyakit sipilis.

Demikian juga Aladin menderita sipilis berat dan dirawat di CBZ. Karena otaknya sudah miring, ia terpaksa dikirimkan ke Lawang dan mati di sana.

Akhirnya Ahmad Salam jadi sadar dirinya dijangkiti penyakit kotor itu, tetapi malu berterus terang pada orang lain termasuk kepada dokter.

Lalu secara diam-diam ia pergi berobat ke dukun. Menurut dukun, dia dijangkiti penyakit Surabayam, alias rajasinga.

Setelah sekian waktu berobat, sang dukun mengatakan bahwa dia Ahmad Salam sudah sembuh.

Akhirnya, karena  merasa dirinya sudah sembuh berkat dukun itu, Ahmad Salam segera pulang ke Jakarta untuk meneruskan usaha orang tuanya.

Karena kedua orangtuanya mau berangkat naik haji ke Mekah, toko “Usaha Kita” diserahkan sepenuhnya kepada Ahmad Salam.

Dengan keuletan dan kerajinan Ahmad Salam, perusahaan milik ayahnya menjadi maju.

Seiring berjalannya waktu, pada suatu hari, Ahmad Salam bertemu dengan sahabat lamanya, Rusli.

Lalu mereka  berkunjung ke rumah Aisyah, puteri R.Akh. Mansur, walaupun  saat itu Ahmad Salam sebenarnya mempunyai kekasih bernama Yeti, seorang primadona pada suatu grup sandiwara.

Perkenalan dan pertemuan dengan Aisyah membuat Ahmad Salam tergetar hatinya.

Ternyata dia jatuh cinta kepada gadis itu, dan ternyata mendapat sambutan baik dari Aisyah.

Pada suatu hari diadakan acara Pertemuan Pemuda. Dalam acara itu Ahmad Salam kembali berjumpa Aisyah.

Ahmad Salam tak lagi mempedulikan Yeti yang saat itu sedang berada di pentas memainkan sandiwara Sabai nan Aluih.

Akhirnya Ahmad Salam dan Aisyah minta restu kedua orangtua mereka.

Setelah mendapat persetujuan,  akhirnya mereka menikah dan tinggal di rumah sendiri yang terletak di Jalan Tangkuban Perahu.

Mereka kemudian hidup sebagai suami istri. Lalu Aisyah hamil. Pada usia kandungan Aisyah memasuki umur tujuh bulan.

Ia merasakan adanya kelainan-kelainan pada dirinya.

Badannya yang dulunya sehat dan tegar, sekarang menjadi kurus kering dan sering sakit-sakitan.

Rambutnya yang dulu lebat mulai rontok. Ia mengeluh pada suaminya, mengadukan penderitaannya.

Setelah mendengar keluh kesah istrinya yang memelas, Ahmad Salam hanya merenung diam.

Lalu dia sadar atas segala perbuatannya di masa lampau yang membuahkan penyakit kotor dalam dirinya.

Kenyataannya sekarang penyakit itu telah menular pada istri yang sangat dicintainya dan sedang mengandung anaknya.

Akhirnya Ahmad Salam menyesal tidak mau mendengarkan nasehat Tabrani, sahabatnya yang saleh ketika masih tinggal di Surabaya.

Tabrani adalah satu-satunya kawan yang mengetahui rahasia pribadinya, dan menasihati agar ia pergi berobat ke dokter dan berterus terang tentang penyakit yang dideritanya. Tapi dia malah pergi ke dukun.

Sekarang Ahmad salam harus menerima kenyataan bahwa istrinya yang tak berdosa itu harus pula menanggung penderitaan. B

ayi yang lahir dari rahim Aisyah sangat kecil dan tidak sehat.

Akhirnya bayi yang merana itu meninggal. Aisyah hilang kesadaran dan membuatnya hampir gila, Aisyah benci pada Ahmad Salam yang telah membohonginya dan membuat hidupnya sengsara.

Jadi Aisyah hampir gila bukan karena ayahnya yang mati terendam banjir. Tapi dia gila akibat penyakit yang dibawa oleh suaminya.

Kemudian atas saran orangtuanya, Aisyah pergi berobat ke dokter. Dengan penuh kesabaran dan usaha yang tidak kenal lelah, akhirnya Aisyah bisa disembuhkan.

Sanak keluarga juga banyak yang membantu pengobatan  Asiyah.

Demikian juga dengan penyakit Ahmad Salam, juga bisa disembuhkan, sama seperti kesembuhan Aisyah, dia sembuh berkat dukungan sanak kerabat, kesabaran, dan usaha yang tidak kenal lelah.

Pada akhirnya, Ahmad Salam dan Aisyah memulai lagi kehidupan rumah tangga mereka dan dan dapat hidup bahagia bersama.

Sinopsis Novel Azab Dan Sengsara – Merari Siregar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Merari Siregar

Ringkasan Umum:

Sifat buruk Ayah seperti berjudi, suka marah, main pukul, dan berbicara kasar, menimbulkan kesengsaraan pada istri dan anaknya.

Disamping jatuh miskin juga tidak dihargai orang lain. Akibatnya adalah anak perempuan yang baik ketika jatuh cinta secara alami dengan seorang pria yang sangat dikenal dengan baik, tapi cinta mereka tidak direstui karena keluarga wanita tersebut miskin.

Penderitaan wanita tersebut tidak putus-putusnya karena dijodohkan dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya dan ternyata sangat kejam.

Aminudin dan Mariamin selalu bersama sejak kecil. Karena pergaulan mereka yang dekat dan juga mereka adalah saudara sepupu, maka antara Mariamin dan Aminuddin timbul rasa cinta.

Karena Aminuddin adalah seorang anak yang baik budinya, maka Ibu Mariamin merestui hubungan itu.

Apalagi ibunya mengharapkan agar anak perempuannya  dapat hidup berbahagia tidak menderita miskin seperti keadaan mereka saat ini.

Keluarga Aminuddin adalah keluarga kaya dan terpandang. Ayah Aminuddin yaitu Baginda Diatas adalah seorang kepala kampong, bangsawan kaya dan disegani oleh bawahannya karena sifat-sifatnya yang mulia serta kerajinan kerjanya. Sifat Baginda Diatas ditiru oleh anaknya.

Keluarga Mariamin adalah keluarga miskin. Ayah Mariamin yaitu Tohir dengan gelar Sutan Baringin.

Berbeda dengan keluarga Aminuddin, keluarga Mariamin adalah keluarga miskin disebabkan oleh tingkah laku ayahnya (almarhum) yang suka berjudi, pemarah, mau menang sendiri, serta suka berbicara kasar.

Ayah Mariamin sering membuat masalah dengan orang lain, lama-lama keluarga Mariamin jatuh miskin.

Hingga akhir masa hidupnya, Tohir (Sultan Baringin) menjalani hidup sengsara bersama istrinya yang bernama Nuria.

Kisah cinta Aminuddin dan Mariamin semakin bersemi ketika suatu hari Mariamin tergelincir dari sebuah jembatan bambu.

Tanpa pikir panjang Aminuddin terjun ke sungai menyelamatkan jiwa Mariamin.

Mariamin dapat diselamatkan, dan merasa amat berhutang budi pada sepupunya itu.

Tapi sayang hubungan cinta mereka tidak disetujui oleh Baginda Diatas karena keluarga Mariamin adalah keluarga miskin dan tidak berasal dari kalangan terpandang.

Oleh sebab itu Aminuddin berangkat meninggalkan Sipirok menuju ke Deli (Medan) untuk bekerja.

Aminuddin berjanji pada Mariamin untuk menikahinya pada saat dia mampu menghidupi calon istrinya.

Setelah Aminuddin pergi, Mariamin sering berkirim surat dengan Aminuddin.

Ia selalu menolak lamaran pemuda lain untuk meminangnya karena kesetiaannya pada Aminuddin semata.

Setelah bekerja dengan mantap di Medan, Aminuddin memberi kabar kepada Mariamin melalui surat untuk segera menyusulnya ke Medan, dan akan menjadi isterinya. Kabar itu juga disampaikan kepada keluarga Aminuddin sendiri.

Ibu Aminuddin senang dengan rencana anaknya, akan tetapi suaminya Baginda Diatas tidak menyetujui hubungan Aminuddin dan Mariamin.

Supaya tidak menyakitkan hati isterinya diam-diam pergi ke dukun menanyakan siapakah jodoh Aminuddin sebenarnya.

Lalu dia menyampaikan pada isterinya bahwa menurut dukun, jodoh Aminuddin bukanlah Mariamin, tapi seorang puteri kepala kampong lain yang cantik dan kaya.

Tanpa memberi tahu Aminuddin, Baginda Diatas membawa calon menantunya yang akan dijodohkan dengan Aminuddin di Medan.

Alangkah sedih hati Aminuddin mendapat jodoh bukan pilihan hatinya, tapi dia tidak kuasa menolak keinginan ayahnya serta adat istiadat yang kuat dianut masyarakat.

Setelah itu Aminuddin memberi tahu Mariamin melalui surat mengenai pernikahannya yang tidak tidak dia inginkan, hanya terpaksa, dan tidak berdasarkan cinta.

Kepada Mariamin, Aminuddin mohon agar dimaafkan dan meminta Mariamin berlaku sabar menerima cobaan.

Akhirnya Mariamin jatuh sakit karena cintanya yang kandas. Lalu Baginda Diatas datang ke rumah Mariamin untuk meminta maaf dan menyesali segala perbuatannya setelah melihat sifat-sifat Mariamin yang baik.

Tidak sampai satu tahun sesudahnya Mariamin dikawinkan dengan Kasibun, lelaki yang tiada jelas asal usulnya.

Kasibun mengaku bekerja sebagai kerani di Medan. Ibunya berharap, pernikahan anaknya dengan Kasibun akan mengurangi beban penderitaan mereka.

Ternyata kemudian diketahui, suaminya baru saja menceraikan isterinya di Medan untuk mengawini Mariamin. Bersama Kasibun, Mariamin tinggal di Medan.

Di Medan kehidupan Mariamin makin menderita dan tambah sengsara. Kasibun memiliki penyakit kelamin.

Oleh karenanya Mariamin sering menghindar ketika diajaknya behubungan intim. Pertengkaran demi pertengkaran tak dapat lagi dihindarkan.

Kasibun tak sering berlaku kasar kepada istrinya dan sering memukul

Suatu hari Aminuddin mengunjungi Mariamin di rumahnya. Pertemuan kekasih lama yang tanpa diduga itu memang membuat terkejut Mariamin.

Kasibun merasa cemburu dan kemudian menyiksa Mariamin tanpa belas kasihan. Akibat siksaan itu Mariamin merasa tidak tahan hidup bersama suaminya.

Mariamin kemudian datang ke kantor polisi dan melapor. Lalu mengadukan perkaranya.

Kasibun kalah perkara. Dengan membayar denda sebesar duapuluh lima rupiah, Kasibun harus mengaku bersalah dan merelakan Mariamin bercerai darinya.

Mariamin yang sudah jadi janda pulang ke kampung halamannya di Sipirok. Badannya jadi kurus dan selalu sakit-sakitan. Hingga akhirnya dia meninggal karena banyak azab dan hidup yang sangat sengsara.

Sinopsis Novel Katak Hendak Jadi Lembu – Nur Sutan Iskandar

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ringkasan umum:

Seorang laki-laki yang berasal dari keluarga kaya menjadi sangat sombong dan suka foya-foya. Sifatnya masih sama walau sudah menikah.

Setelah orang tuanya meninggal, sifatnya juga tidak berubah. Ketika harta warisan orang tuanya habis, dia menjalani hidup yang melebihi kemampuannya.

Seperti kata pepatah “besar pasak daripada tiang”. Sampai ketika anaknya menikah sikap beruknya tetap ada.

Hasilnya adalah istri, anak, dan menantunya jadi menderita. Pada akhirnya istrinya meninggal dunia karena sudah terlalu banyak beban dan malu yang ditanggung akibat perbuatan laki-laki tersebut.

Haji Hasbullah dan Haji Zakaria adalah sahabat dekat. Mereka sudah lama bergaul.

Haji Zakaria mempunyai anak laki-laki bernama Suria dan Haji Hasbullah mempunyai anak perempuan bernama Zubaedah.

Karena merasa dekat, Haji Zakaria datang melamar ke keluarga Haji Hasbullah dengan maksud menikahkan Suria dengan Zubaedah.

Awalnya Haji Hasbullah merasa keberatan karena dia sudah mempunyai calon bagi Puterinya yaitu seorang mantri polisi yang bernama Raden Prawira.

Alasan lain yang membuat Haji Hasbullah tidak setuju menerima lamaran itu karena dia mengetahui sifaf Suria yang angkuh, kasar, pongah, serta suka berfoya-foya.

Mengingat Haji Zakaria adalah sahabat dekat sejak lama, Akhirnya dengan berat hati, Haji Hasbullah menerima lamaran Haji Zakaria yang akan menikahkan anak lelakinya Suria dengan anak Haji Hasbullah yang bernama Zubaedah.

Apa yang diduga Haji Hasbullah selama ini benar-benar terjadi. Dia melihat sendiri bagaimana sifat dan tingkah laku Suria tidak berubah, walau pun sudah menikah.

Apalagi setelah ayahnya wafat, Suria hanya berfoya-foya menghabiskan harta warisan ayahnya.

Zubaedah istrinya tidak pernah diperhatikan. Terlebih lagi, selama tiga tahun, dia pergi meninggalkan istrinya yang sedang hamil.

Bahkan Suria tidak mengetahui ketika istrinya melahirkan anak pertamanya yang bernama Abdullah. Suria pulang ke rumahnya setelah harta warisan ayahnya habis.

Setelah tiba di rumah, Suria menyembah istrinya, memohon maaf atas perbuatannya selama ini, dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan yang tidak baik.

Akhirnya permohonan itu dikabulkan Zubaedah, dengan harapan agar suaminya benar-benar telah menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi.

Tingkah laku Suria memang berubah, tapi untuk sementara waktu saja. Dia bekerja sebagai juru tulis residen di kabupaten, tapi gajinya kecil, yang tidak dapat mencukupi biaya hidup sehari-hari keluarganya.

Tapi seiring waktu, sifat dan karakter buruknya muncul kembali. Perasaan bangga bahwa dirinya berasal dari keturunan bangsawan yang kaya-raya muncul lagi.

Suria tidak mau kalah dengan mertuanya yang telah menyekolahkan Abdulhalim ke HBS.

Dengan terlalu memaksakan diri, walaupun dengan gaji pas-pasan, Suria mengirim Saleh dan Aminah, kedua adik Abdulhalim bersekolah di HIS Bandung.

Karena keputusan Suria yang dipaksakan dan tanpa perhitungan itu, akhirnya membuat istrinya Zubaedah bingung dan pusing.

Mereka tidak mempunyai biaya yang cukup. Jangankan membiayai sekolah kedua anaknya di HIS, untuk makan sehari-hari mereka mengalami kesulitan.

Tapi Suria tenang-tenang saja yang tidak mau dianggap miskin. Dengan menyekolahkan anak-anaknya di kota, dia merasa bahwa masyarakat akan menganggapnya sebagai seorang bangsawan yang dihormati dan disegani.

Setelah sekian waktu, Zubaedah mengeluh kepada ayahnya Haji Hasbullah tentang tingkah laku Suria. Secara rahasia, dia meminta kiriman uang dari ayahnya.

Kiriman dari ayahnya itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya sekolah anak-anaknya, juga dipakai membayar utang-utangnya.

Hampir tiap hari, penagih utang mendatangi rumah mereka. Anehnya, Suria tetap tenang.

Zubaedah yang paling kelabakan karena dialah yang selalu menghadapi para penagih utang yang datang tiap hari, sedangkan Suria hanya bersembunyi saja.

Ternyata Suria menyusun rencana untuk tidak mempedulikan semua itu. Dia yakin akan diangkat menjadi juru tulis.

Suria telah melamar untuk jabatan tersebut dan tinggal menunggu waktu saja.

Karena yakin lamaran kerjanya diterima, Suria berani membeli barang lelangan di kantornya.

Tidak semua barang dibelinya dengan uang kontan, tetapi banyak yang dibeli dengan cara berutang. Hasilnya, utang Suria semakin banyak.

Secara sembunyi-sembunyi Suria juga telah menggelapkan uang kas kantornya.

Tindakan tersebut kemudian diketahui oleh atasannya. Tapi sebelum ditegur oleh atasannya, dia telah mengajukan berhenti bekerja.

Seperti itulah rencana Suria. Setelah berhenti, dia pergi ke rumah anaknya, Abdulhalim.

Seperti yang ia rencanakan, Suria langsung pindah ke rumah Abdulhalim bersama istrinya.

Tingkah laku Suria selama di rumah anaknya tetap buruk, dia bertingkah seolah-olah dialah kepala rumah tangga tersebut.

Abdulhalim beserta istrinya menjadi pusing tujuh keliling dan kebingungan. Kalau menegur ayahnya, mereka tidak berani karena takut durhaka.

Tapi, bila dibiarkan begitu saja, dia merasa kasihan kepada istrinya.

Tapi ada yang merasa sangat malu terhadap tingkah laku Suria adalah istrinya Zubaedah.

Rumah tangga anaknya berantakan akibat ulah suaminya. Karena tidak tahan menahan tekanan batin, Zubaedah jatuh sakit.

Tidak ama kemudian, Zubaedah meninggal dunia dengan membawa hati yang penuh dengan duka nestapa.

Setelah istrinya meninggal, Suria baru sadar dan merasa menyesal atas segala kelakuan yang telah melampaui batas selama ini.

Dia menyesal telah merusak kedamaian kehidupan rumah tangga anaknya.

Suria baru tahu bahwa dialah penyebab kematian istrinya. Oleh karena perasaan malu dan perasaan berdosa yang sangat mendalam,

Akhirnya Suria memutuskan meninggalkan keluarga anaknya, lalu pergi tidak tahu kemana rimbanya.

Sinopsis Novel Hulubalang Raja

Sastra Angkatan Balai Pustaka

Novel Hulubalang Raja: kejadian di pesisir Minangkabau tahun 1662-1667

Karya: Nur Sutan Iskandar

Ringkasan Umum:

Pada zaman ketika masih banyak kerajaan, sering terjadi perjodohan dan pernikahan antar kerajaan.

Tak jarang juga sering terjadi peperangan di antara mereka yang diakibatkan oleh pernikahan tersebut.

Tapi ada juga kerajaan yang berperang justru menjadi damai karena adanya pernikahan

Seorang Putri Raji Dihulu bernama Ambun Suri.  Dia adalah seorang wanita yang cantik, sopan tutur bahasa, dan akhlaknya mulia.

Setelah Ambun Suri dewasa, sang Raja mengadakan sebuah kontest, dan mengundang para bangsawan di sekitar Kampung Hulu Inderapura untuk diseleksi dan dipilih sebagai menantu dan suami bagi putrinya.

Proses seleksi hampir selesai, tapi tidak ada yang lolos dan memenuhi kriteria Raja Dihulu.

Namun ada seorang bangsawan yang berasal dari Kota Hilir Inderapura, namanya Sultan Muhammad Syah

Karena Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang lebih berkuasa daripada Raja Di Hulu, dengan berat hati Ambun Suri mau menerima calon suami tersebut dan dia ingin berbakti kepada orang tuanya, walau dia tidak tertarik sedikit pun pada Sultan tersebut.

Peristiwa ini menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Mereka tahu Sultan Muhammad Syah adalah sultan yang tamak yang menurut mereka tidak patut menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut.

Istri pertama Sultan Muhammad Syah yaitu Putri Kemala Sari juga merasa iri dan tidak merelakan suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu menjadi teman sepermainannya.

Putri Kemala Sari juga ingin menggagalkan perkawinan tersebut. Dia mengajak Ambun Suri mandi di sungai.

Di tempat itu dia mencelakakannya sehingga Ambun Suri yang baik hati tersebut hanyut tenggelam.

Masyarakat dan petugas kerajaan dikerahkan untuk menjadi Putri Ambun Suri. Namun semua usaha pencarian mayatnya gagal.

Kakak Ambun Suri yang bernama Sutan Ali Akbar dengan gelar Raja Adil, menjadi marah ketika dia mengetahui kematian adiknya adalah perbuatan istri pertama Sultan Muhammad Syah.

Akhirnya dia menyerukan perang. Dua kerajaan tersebut memulai pertikaian dan konfrontasi langsung.

Dengan kelicikannya, Sultan Muhammad Syah lalu meminta bantuan kompeni, yang menambah rasa marah Raja Adil.

Tapi akhirnya Raja Adil kalah, dan daerahnya dibumihanguskan. Penduduknya dibinasakan, beserta kedua orang tua Raja Adil.

Dia sendiri mundur beserta pasukannya untuk menyusun kekuatan kembali.

Di lain waktu dan tempat, tersebutlah seorang pemuda bernama Sutan Malakewi.

Dia merantau mengadu peruntungan. Dia meninggalkan kampungnya karena kegemarannya menyabung ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang kemudian tidak mau lagi memberinya uang.

Pemuda ini lalu bertemu dan bergabung dengan sekelompok saudagar. Mereka kemudian diserang penyamun.

Sutan Malakewi berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah yang memiliki putri cantik yang bernama Sarawaya.

Kemudian Sutan Malakewi diantar menghadap Orang Kaya Kecil, dia punya sering bekerja sama dengan kompeni Belanda.

Orang Kaya Kecil menganggap Sutan Malakewi sebagai anaknya sendiri. Terlebih karena setelah dia tahu bahwa Sutan Malakewi sering menumpas orang-orang Pauh yang sering melakukan penyerangan terhadap Padang, yaitu pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau.

Sutan Malakewi meneruskan kerjasama yang makin erat dengan kompeni.

Pada saat itu kompeni tidak hanya bermusuhan dengan raja-raja setempat, tetapi juga dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau.

Gelar “Hulubalang Raja” kemudian diberikan pada Sutan Malakewi, di selalu mau untuk menumpas musuh-musuh kompeni.

Dia berhasil menghancurkan musuh-musuhnya, kecuali Raja Adil yang gigih bertahan.

Hulubalang Raja kemudian mencari adiknya yang dikabarkan diculik oleh Raja Adil.

Dia meninggalkan Orang Kaya Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat mencintainya. Hulubalang Raja masuk ke daerah Raja Adil dengan menyamar.

Tapi penyamarannya terbongkar. Dia kemudian di bawa ke hadapan Raja Adil.

Hulubalang Raja kemudian terkejut karena ternyata adiknya Adnan Dewi telah menjadi istri Raja Adil.

Raji yang menjadi musuhnya selama ini ternyata iparnya sendiri.

Raja Adil dan Hulubalang Raja kemudian melupakan permusuhan mereka dan berdamai.