Sinopsis Novel Dian yang Tak Kunjung Padam – Sutan Takdir Alisjahbana

Sastra angkatan Pujangga Baru

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ringkasan umum:

Sepasang kekasih yang saling mencintai, akhirnya terpisahkan karena status sosial.

Cinta mereka abadi walaupun tubuh dimiliki oleh orang lain, tapi jiwa dan ruh mereka hanya dipersembahkan untuk sang kekasih.

Cinta mereka selalu menyala, dan tak kunjung padam. Jiwa dan ruh mereka menyatu selamanya

Pada suatu pagi di sebuah sungai, Yasin sedang duduk di perahunya untuk menjual barang yang berasal dari ladangnya.

Yasin adalah seorang pemuda miskin dan ayahnya sudah meninggal.

Tiba-tiba dia melihat seorang perempuan yang hendak turun mandi ke tepian sungai.

Perempuan itu adalah seorang anak bangsawan Palembang, dia bernama Molek.

Pertemuan pertama ini membuat hati Yasin berdebar, demikian juga yang dirasakan oleh Molek.

Sejak saat itu Molek teringat kegagahan Yasin, dan secara tidak sadar sudah mulai suka berdandan.

Yasin pun mulai merasa gelisah, dan selalu terbayang wajah Molek yang cantik.

Pada suatu hari Yasin dan ibunya diundang ke pesta pernikahan kerabatnya.

Selama berada di pesta itu, Yasin selalu memikirkan Molek

Pulang dari pesta perkawinan, Yasin memberanikan diri mohon ijin pada ibunya untuk menemui Molek.

Lalu Yasin menulis surat cinta dan menyelipkan surat tersebut di tempat pemandian Molek.

Molek terkejut ketika mendapatkan surat dari Yasin. Tapi dari wajahnya terpancar rona kebahagiaan.

Lalu dia dengan kesungguhan hati membalas surat tersebut, dan menerima cinta Yasin

Tapi mereka sadar, mengingat status sosial yang sangat berbeda, Yasin dan Molek tidak bisa menolak kenyataan tersebut.

Oleh sebab itu, Selama bertahun-tahun sepasang sejoli itu hanya berkasih mesra lewat surat-surat yang diselipkan di tepian tempat Molek mandi.

Hingga suatu hari Yasin bertekad untuk menghubah hubungan cinta yang selama dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dia hendak melamar Molek secara terang-terangan.

Kemudian pemuda itu memberitahukan niatnya kepada ibunya dan seluruh kerabatnya.

Keluarga Yasin pun berembuk dan dengan segala kesederhanaannya, mereka melamar Molek.

Tapi sayang, maksud kedatangan mereka ditolak oleh keluarga Molek. Orang tua Molek yang bernama Raden Makhmud adalah seorang bangsawan dan mempunyai harta yang banyak.

Sementara Yasin  berasal dari keluarga dusun yang miskin. Keluarga Molek, baik itu Raden Mahmud dan ibu Molek bahkan menghina dan menyindir keluarga Yasin sehingga rombongan itu pulang dengan membawa segudang rasa malu dan kesal.

Tak lama kemudian keluarga Molek didatangi oleh Sayid yaitu seorang saudagar tua keturunan Arab yang kaya raya.

Lelaki tua itu bermaksud untuk melamar Molek. Orangtua Molek yang materialistis itu langsung memutuskan untuk menerima lamaran Sayid.

Sekalipun Molek menolak lamaran itu, perkawinan antara keduanya pun tetap berlangsung.

Kehidupan perkawinan mereka tidak membawa kebahagiaan bagi Molek karena ia tidak mencintai Sayid.

Molek juga tahu kalau tujuan Sayid menikahinya karena harta ayahnya saja. Selain itu, perlakuan Sayid terhadapnya pun sangat kasar.

Itulah sebabnya ia selalu menceritakan kegalauan, kesedihan, dan kerinduannya terhadap Yasin melalui surat-suratnya.

Ketika mengetahui pujaan hatinya hidup menderita dan juga karena kerinduannya yang semakin mendalam terhadap kekasihnya itu,

Yasin mencoba menemui Molek di Palembang dengan menyamar sebagai seorang pedagang nanas.

Walau akhirnya Molek bertemu jua dengan Yasin, namun ternyata ada sesuatu yang susah dipahami oleh Yasin dalam kata-kata yang disampaikan oleh Molek.

Bagi Molek, cintanya hanya untuk Yasin, namun karena tubuhnya telah ternoda oleh manusia lain,

maka dia memutuskan untuk menyelamatkan Ruhnya yang mencintai Yasin dunia akhirat, seperti yang dituliskannya pada setiap penghujung suratnya kepada Yasin.

“satu kita di dunia, satu kita di akhirat, kita sebenarnya satu selama-lamanya!”
 
Wassalam adindamu,
Molek

Pada akhir pertemuan tersebut, Molek kembali mengatakan bahwa hanya tubuhnya yang bisa dimiliki oleh suaminya, tapi jiwa dan ruh Molek adalah untuk Yasin semata.

Tidak lama setelah pertemuan yang mengharukan antara sepasang kekasih yang saling mencintai itu, akhirnya Molek sakit-sakitan karena sudah lama menderita bersama suaminya yang sekarang, ditambah lagi luka hati yang tak kunjung berhenti karena selalu merindukan kekasihnya Yasin.

Karena penderitaan bersama suaminya yang sekarang dan kerinduan yang mendalam pada Yasin, juga karena setelah sekian waktu sakit-sakitan, akhirnya Molek pun wafat.

Hati Yasin menjadi sangat terpukul. Sebagai penghormatan pada almarhumah kekasihnya, Yasin bekerja keras banting tulang.

Setiap hari dia mengunjungi pusara Molek. Yasin selalu berdoa untuk arwah Molek dan selalu berkirim salam   kepada kekasih abadinya itu.

Pada akhirnya Yasin memilih hidup menyepi di lereng gunung Semenung dan ia pun meninggal di gunung itu, karena derita panjang tidak bisa bersatu dengan Molek kekasihnya.

Dua ruh kekasih yang saling mencintai akhirnya meninggalkan dunia fana ini. Menuju alam yang kekal dan abadi.

Sinopsis Novel Tak Putus Dirundung Malang – Sutan Takdir Alisjahbana

Sastra angkatan Pujangga Baru

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ringkasan umum:

Dua anak yatim piatu mengalami cobaan silih berganti. Banyak orang yang tidak peduli atau pun menolong.

Mereka hanya berjuang berdua. Sampai akhirnya sang adik perempuan meninggal, sang kakak jadi makin tertekan dan lemah, dan pada akhirnya juga meninggal dunia.

Sebuah keluarga tidak mempunyai seorang ibu, hanya ada seorang ayah dan dua orang anak yang sudah menjadi piatu.

Anak laki-laki bernama Mansur dan yang perempuan bernama Laminah.

Keluarga miskin ini berada di Dusun Ketahun di Bengkulu. Cobaan kembali datang pada Mansur dan Laminah ketika ayah mereka juga meninggal.

Sekarang kedua anak tersebut menjadi yatim piatu dan tidak mempunyai harta sama sekali.

Setelah itu mereka diasuh oleh bibi yang bernama Jepisah. Bibi mereka selalu bersikap baik terhadap mereka.

Pertama kali saat mereka tinggal bersama Jepisah, mereka diperlakukan seperti anak sendiri oleh Jepisah dan suaminya yang bernama Madang.

Tapi sayang, setelah beberapa hari kemudian mereka kembali harus merasakan pahitnya kehidupan.

Suami Jepisah mulai berbuat yang tidak baik terhadap mereka. Madang sering mengeluarkan kata-kata keras dan kasar kepada mereka, bahkan memukul atau menendang. Sementara bibi Jepisah sangat menyayangi mereka berdua.

Mansur dan Laminah tetap bersabar sampai akhirnya sebuah kesalahpahaman menjadikan mereka harus pergi meninggalkan bibi yang sangat mereka sayangi itu.

Mereka lalu menginap di tempat Datuk Halim dan istrinya yang bernama Seripah.

Keadaan mereka saat itu lebih baik. Mereka diperlakukan seperti seorang yatim piatu yang memang benar-benar harus disayangi dan dikasihi.

Namun karena merasa sudah sangat merepotkan, mereka berdua berencana untuk pergi merantau ke kota Bengkulu dan meninggalkan Dusun Ketahun.

Setalah tiba di kota Bengkulu, tepatnya di kampung Cina, mereka dipekerjakan oleh seorang toke yang memiliki sebuah toko Roti.

Dalam beberapa tahun mereka hidup dengan tenang disana.

Tapi ketenangan mereka kembali terganggu setelah datangnya seorang pegawai baru di toko itu yang bernama Sarmin.

Sikap Sarmin sangat menakutkan. Bandannya kekar berotot. Laminah merasa sangat terganggu akan keberadaan Sarmin.

Seringkali Laminah harus menangis tersedu karena rasa takutnya terhadap Sarmin.

Oleh karena itu, Mansur bertekad memberi peringatan terhadap Sarmin. Perkelahian pun tidak dapat dihindari lagi.

Lalu Mansur beserta adiknya memutuskan untuk mencari pekerjaan ditempat lain.

Tanpa disangka mereka pun kembali merasakan kejamnya kehidupan.

Mansur harus di bawa ke kantor polisi dan terpaksa mendekam di dalam sel setelah dituduh mencuri uang.

Laminah terpaksa menerima kenyataan pahit itu, dan harus rela hidup sendirian tanpa saudaranya.

Apalagi ia kembali terusik oleh Darwis, temannya dulu ketika masih bekerja di toko Roti.

Laminah hampir diperkosa oleh Darwis laki-laki yang tidak punya perasaan tersebut.

Ia tidak tahan lagi akan kehidupan pahit yang sering dialaminya.

Pada akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari tebing curam ke lautan luas.

Sementara Mansur akhirnya keluar dari penjara, setelah beberapa lama mendekam disana.

Mansur akhirnya bisa merasakan kembali udara segar kota Bengkulu. Tak lama sesuda hitu, kabar mengenai kematian adiknya pun terdengar olehnya.

Sekarang Mansur hanya hidup sendiri setelah ditinggal mati ibu, ayah dan adiknya.

Ia berusaha tetap tabah mengahadapi kenyataan tersebut. Sampai akhirnya malapetaka pun datang.

Pikiran dan perasaan Mansur makin tertekan karena terlalu banyak memikirkan kehidupan yang baginya semakin kejam dan menyiksa.

Badannya menjadi lemah tidak bertenaga, sampai akhirnya ketika sedang berlayar ia jatuh pingsan dan tenggelam ke lautan.

Jenazahnya tidak diketemukan dan menghilang.

Sinopsis Novel Layar Terkembang – Sutan Takdir Alisjahbana

Sastra Angkatan Pujangga Baru

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ringkasan Umum:

Seorang wanita memiliki berpendirian teguh dan merasa nyaman dengan kepintaran dan prestasi yang sudah diraih.

Akhirnya wanita tersebut sadar bahwa hidup bisa bahagia secara sederhana, tanpa harus terlibat urusan yang formal dan sibuk.

Wanita tersebut juga menemukan kebahagiaan seperti layar terkembang, setelah menemukan pasangan  hidup.

Di Jakarta ada sebuah keluarga yaitu keluarga Raden Wiraadmaja yang merupakan pensiunan Wedana di daerah Banten.

Pak Raden Wiraadmaja mempunyai dua orang anak perempuan. Tapi kedua anak tersebut mempunyai sifat yang sangat berbeda, seperti siang dan malam.

Anak pertama bernama Tuti yang merupakan seorang gadis yang serius, fokus, dan cenderung pendiam.

Anak yang kedua bernama Maria yang merupakan gadis yang riang, lincah, dan suka ngomong blak-blakan, sifat Maria yang easy going membuat dia mempunyai banyak teman.

Tuti memiliki badan yang tegak dan agak gemuk. Ia telah berusia dua puluh lima tahun dan menjadi guru di Sekolah H.I.S Arjuna di Petojo.

Maria memiliki badan yang ramping, berusia dua puluh tahun, dan sekolah di H.B.S Carpentier Alting Stichting kelas penghabisan.

Ketika libur hari minggu, kedua bersaudara itu pergi melihat akuarium di pasar ikan.

Ketika sampai di tempat tujuan, Maria kagum melihat ikan-ikan yang indah permai.

Maria adalah seseorang yang mudah kagum, yang mudah memuji. Ia cepat mengungkapkan perasaannya, baik perasaan senang maupun sedih.

Sifat ini berbeda dengan kakanya Tuti yang memang bukan seorang yang mudah kagum dan heran melihat sesuatu.

Keinsafannya akan harga dirinya amat besar. Ia merasa pandai dan cakap dalam mengerjakan sesuatu yang ingin dicapainya.

Segala sesuatu diukurnya dengan kecakapannya sendiri, oleh karena itu ia jarang memuji.

Setelah sekian waktu asyik melihat-lihat ikan lalu mereka keluar. Ketika daun pintu yang besar dibuka oleh mereka, terlihat laki-laki muda mengangkat kepalanya melihat kearah mereka.

Beberapa lama gadis itu berjalan-jalan di beranda akuarium mengamati ikan-ikan yang aneh yang tersimpan dalam kaca dan botol.

Akhirnya mereka berjalan menuju tempat parkir sepeda. Ketika itu, keluarlah pemuda dari dalam dan menghampiri kedua gadis itu sebab sepedanya terletak dekat dengan sepeda Tuti dan Maria.

Akhirnya mereka berkenalan dengan pemuda tersebut yang ternyata bernama Yusuf.

Yusuf adalah Putra Demang Munaf di Mertapura di Kalimantan Selatan. Yusuf adalah seorang mahasiswa kedokteran, yang pada masa lalu dikenal dengan sebutan Sekolah Tabib Tinggi.

Ia tinggal bersama saudaranya yang tinggal di Sawah Besar di Daerah Jawa.

Sejak perkenalan itu, Yusuf tidak berhenti-hentinya memikirkan Tuti dan Maria.

Namun yang lebih ia pikirkan adalah Maria yang telah menarik hatinya. Muka Maria lebih berseri-seri, matanya menyinarkan kegirangan hidup dan bibirnya senantiasa tersenyum.

Tidak disangka, waktu  mempertemukan lagi Yusuf dengan Maria dan kakaknya di depan hotel Des Indes.

Dengan senang hati, Yusuf mengantar kedua kakak beradik itu berjalan-jalan.

Setelah pertemuan tersebut, Yusuf jadi sering berkunjung ke rumah mereka.

Beberapa waktu kemudian Yusuf dan Maria sepakat menjalin hubungan cinta kasih.

Di lain pihak, Tuti yang melihat hubungan cinta kasih adiknya, sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih.

Di samping gelora semangatnya yang menyala-nyala, Tuti kini sering melamun memikirkan dirinya yang sudah dewasa dan kini usianya sudah dua puluh tujuh tahun.

Tuti mempunyai keinginan yang kuat untuk membina rumah tangga. Perubahan sikap Tuti ini diketahui pula oleh Maria dan ayahnya.

Kegelisahan Tuti semakin meningkat, apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo.

Tapi karena pemuda itu tidak memenuhi kriteria Tuti dan bukanlah idamannya, maka cinta Supomo ditolak.

Sejak itu, Tuti menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.

Setelah Maria tamat Sekolah HBS, dia mengajar di HIS Muhammadiyah Keramat.

Sementara itu perkumpulan Pemuda Baru mengadakan sebuah kongres di Jakarta pada siang hari.

Acara malam harinya dipertunjukkan sandiwara yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit karya Sanusi Pane.

Pertunjukkan itu menampilkan Yusuf yang berperan sebagai Damar Wulan sedangkan Maria berperan sebagai Anjarasmara.

Pada suatu hari keluarga Raden Wiraatmadja dikejutkan oleh hasil diagnosis dokter yang menyatakan bahwa Maria mengidap penyakit TBC.

Semakin hari kesehatan gadis itu semakin melemah sekalipun ia telah menjalani perawatan intensif.

Kemudian Maria yang sakit dirawat di Rumah Sakit Pacet. Maria menderita TBC atau sakit paru-paru yang semakin lama semakin parah dan menyiksa dirinya.

Sering juga Yusuf dan Tuti menjenguk Maria disana.

Untuk menjenguk Maria di kota pegunungan itu Tuti sendiri sering pula menginap di rumah Ratna, teman seperjuangannya yang dulu aktif dalam organisasi Putri Sedar. Sekarang Ratna sudah berkeluarga.

Keluarga Ratna sangat bahagia meski hanya bercocok tanam. Sambil mereka menjadi suami istri yang berbahagia, mereka membimbing rakyatnya ke arah kesempurnaan pendidikan.

Melihat temannya itu Tuti jadi mengerti bahwa kehidupan yang mulia dan bahagia tidak perlu diarahkan semata-mata hanya dengan aktif dalam organisasi resmi.

Akan tetapi ada juga orang desa itu yang mengabdikan diri kepada bangsa dan negara melalui pekerjaan nonformal tersebut.

Karena sakit paru-parunya Maria semakin parah, ketika hampir menemukan ajalnya, dia mengungkapkan sesuatu kepada Yusuf dan Tuti.

Sebagai permintaan yang terakhir, ia meminta Yusuf untuk menerima kakaknya sebagai penggantinya.

Sebelum meninggal, Maria sempat juga bernasehat kepada mereka bahwa ia tidak akan rela jikalau Yusuf dan Tuti sepeninggalannya akan bercerai.

Dengan perkataan yang penghabisan itulah membuat hati Yusuf dan Tuti menjadi tersentak seolah jantung mereka akan berhenti berdetak.

Setelah Maria meninggal, Tuti dan Yusuf mulai menjalin hubungan kasih.

Tuti sekarang sudah mulai berubah, apalagi setelah melihat keluarga temannya Ratna yang bahagia dengan hidup yang sederhana, tanpa harus terlibat urusan yang formal dan serius dalam kesibukan yang rumit.

Akhirnya Yusuf dan Tuti semakin dekat dan saling cocok, kemudian mereka melangsungkan pernikahan.

Mereka  menyempatkan diri ke makam Maria di Pacet sebelum acara pernikahannya dilangsungkan.

Setelah menikah, Yusuf dan Tuti memulai lembaran hidup baru dalam bahtera rumah tangga. Mereka sangat bahagia. Bahtera baru yang diarungi berjalan harmonis dan penuh cinta.

Sinopsis Novel Anak Perawan di Sarang Penyamun – Sutan Takdir Alisjahbana

Sastra Angkatan Pujangga Baru

Karya: Sutan Takdir Alisjahbana

Ringkasan Umum:

Keluarga kaya raya dirampok oleh kelompok penyamun. Bapak dan ibu dibunuh, tapi anak perempuan tidak.

Anak perawan tadi lalu dibawa ke sarang penyamun. Disana dia tahu bahwa pimpinan penyamun bukanlah berniat jadi perampok.

Lama-lama pimpinan penyamun tadi sadar. Perempuan ini  akhirnya bersimpati juga.

Mereka pindah ke Pagar Alam, lalu membina rumah tangga bersama. Keluarga mereka menjadi sukses, dermawan, dan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Di Pagar Alam ada saudagar kaya bernama Haji Sahak yang mempunyai keluarga bahagia.

Istrinya bernama Nyai Hajjah Andun. Mereka memiliki seorang anak gadis yang bernama Sayu.

Suatu hari mereka bertiga pergi berdagang ke Kota Palembang. Mereka membawa berpuluh-puluh kerbau dan beberapa macam barang dagangan lainnya.

Tanpa diduga, di dalam perjalanan rombongan keluarga Haji Sahak dicegat oleh gerombolan perampok yang di pimpin Medasing yang dikenal sangat kejam.

Haji Sahak, istrinya yang bernama Nyai Hajjah Andun, serta rombongan penyerta Haji Sahak lainnya dibunuh oleh perampok itu.

Untunglah anak perawan Haji Sahak yaitu Sayu tidak mereka bunuh. Lalu Sayu ikut dibawa ke sarang penyamun pimpinan Medasing itu.

Di sarang penyamun tersebut, datanglah anak buah Medasing bernama Samad yang tugasnya sebagai pengintai.

Dia datang untuk minta bagian hasil perampokan pada Medasing. Tapi selama Samad berada di sarang penyamun itu, rupanya dia tertarik pada Sayu yang memang sangat cantik.

Tanpa sepengetahuan kawan-kawan perampoknya, Samad ingin membawa Sayu lari dari Sarang penyamun itu.

Dia membisikkan kepada Sayu secara diam-diam. Samad berjanji pada Sayu bahwa dia akan mengembalikan Sayu kepada orang tuanya.

Pada mulanya Sayu terbujuk oleh janji-janji Samad itu, dan mau dibawa lari oleh Samad.

Tapi kemudian dia mulai tahu dan menangkap gelagat tidak baik dari Samad. Sayu mulai ragu dan tidak percaya dengan Samad dan janji-janjinya.

Pada hari ketika Samad mengajak melarikan diri, Sayu dengan tegas menolak ajakan Samad.

Dengan berat hati Sayu memilih untuk sementara akan tetap tinggal di sarang penyamun itu.

Seiring berjalannya waktu, Sayu jadi tahu bahwa meskipun kelompok Medasing sering sukses merampok, ternyata dalam perampokan-perampokan selanjutnya sering mengalami kegagalan.

Kegagalan perampokan yang mereka lakukan sebenarnya karena rahasia perampokan mereka selalu dibocorkan oleh Samad.

Dia sering membocorkan rahasia Medasing kepada Saudagar dan pedagang kaya yang hendak mereka rampok.

Akibatnya, tiap kali mereka menyerang para pedagang atau saudagar yang lewat, mereka pasti mendapat perlawanan yang sengit.

Lama-lama anak buah Medasing banyak yang meninggal ataupun terluka parah.

Hingga pada suatu hari anak buah Medasing tinggal seorang saja, yaitu Sanip. Medasing merasa sangat sedih menerima kenyataan pahit ini.

Kesedihan Medasing makin memuncak, karena ketika perampokan yang terakhir, Sanip orang yang paling dia sayangi itu terbunuh.

Medasing sendiri terluka parah. Namun bisa menyelamatkan diri.

Sekarang di sarang penyamun itu tinggal Sayu dan Medasing saja, setelah Sanip meninggal.

Ketika Medasing terluka parah, Sayu bingung sekali. Dengan penuh rasa khawatir rasa takut, Sayu melihat luka Medasing dari dekat.

Sayu tidak tega melihat Medasing dalam keadaan parah. Hati nuraninya tergerak hendak mencoba merawat luka-luka yang diderita oleh Medasing.

Mulanya Sayu begitu takut sama Medasing. Antara perasaan hendak menolong dengan perasaan takut berkecamuk dalam hati Sayu.

Dia takut pada Medasing, sebab bagaimanapun Medasing adalah seorang pemimpin perampok yang kejam.

Medasing sudah beberapa kali membunuh orang, termasuk mambunuh kedua orangtua Sayu.

Seluruh anak buah Medasing yang jumlahnya puluhan itu tak seorangpun berani melawannya.

Akhirnya Sayu memberanikan diri melihat luka Medasing. Dengan takut-takut dan gemetaran dia mengobati Medasing.

Walaupun di dalam hatinya ada perasaan takut dan benci, tapi akhirnya kalah juga oleh perasaannya yang hendak menolong.

Awalnya mereka tidak banyak bicara. Sayu jarang berbicara sebab dia takut pada Medasing.

Sementara Medasing sendiri memang mempunyai karakter yang tidak suka berbicara.

Medasing hanya bicara pada hal-hal yang penting saja. Tapi perlahan-lahan antara Sayu dan Medasing ini menjadi akrab juga.

Medasing lalu mulai berbicara pengalaman hidupnya.

Ternyata sebelum menjadi seorang penyamun yang sangat ditakuti sekarang ini, Medasing bukanlah keturunan seorang penyamun.

Medasing keturunan orang baik-baik. Keluarga Medasing adalah keluarga kaya, ayahnya adalah saudagar kaya.

Pada suatu hari keluarganya dirampok secara ganas oleh segerombolan penjahat.

Orang tua Medasing dibunuh oleh perampok tadi. Karena waktu itu masih kecil sekali, mak Medasing tidak dibunuh oleh gerombolan tersebut, lalu dibawa ke sarang gerombolan.

Bos penyamun itu tidak punya anak, oleh karena itu Medasing sangat disayanginya. Lalu dia diangkat oleh kepala penyamun sebagai anaknya.

Setelah ayah angkatnya meninggal dunia, pucuk pimpinan gerombolan penyamun langsung dipegang Medasing.

Ternyata gerombolan perampok yang dia pimpin sekarang ini adalah gerombolan penyamun warisan dari ayah angkatnya.

Medasing sendiri tak pernah bercita-cita hendak menjadi penyamun, apalagi menjadi pimpinan perampok.

Karena sejak kecil hidupnya selalu berada di dalam lingkungan, sehingga Medasing tidak tahu pekerjaan lain selain merampok.

Hati Sayu menjadi luluh juga mendengar penuturan Medasing tentang sejarah hidupnya.

Rasa benci dan dendam pada Medasing lama kelamaan menjadi luntur. Kemudian dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang yang tulus, Sayu merawatnya sampai sembuh.

Akhirnya persediaan makanan dalam hutan sudah habis. Sayu sangat khawatir akan keadaan itu.

Itulah sebabnya dia mencoba mengajak Medasing agar bersedia keluar dari persembunyiannya.

Medasing akhirnya setuju dengan ajakan Sayu, karena dia sadar akan kenyataan. Kemudian mereka keluar dari hutan menuju kota Pagar Alam.

Ketika sampai di kota Pagar Alam, keduanya langsung menuju ke rumah Sayu.

Namun sampai di rumahnya, Sayu sangat terkejut, sebab rumah itu sekarang bukan milik mereka lagi, tapi sudah menjadi milik orang lain.

Berdasarkan informasi dari penghuni baru itu diketahui bahwa ibunya sekarang tinggal di pinggiran kampong.

Mendengar itu, kedua orang ini langsung pergi ke tempat Nyai Haji Andun.

Ternyata Nyai Haji Andun tidak meninggal sewaktu diserang Medasing dan kawan perampoknya. Dia hanya terluka parah dan berhasil sembuh kembali.

Kini dia tinggal sendirian di ujung kampong dengan keadaan sakit keras. Dia sering menggigau anaknya yang dibawa perampok.

Untunglah pada saat ibunya sedang kritis, Medasing dan Sayu muncul dihadapannya. Nyai Haji Andun sangat senang bertemu dengan anak perawan yang sangat dirindukannya itu.

Tapi  sayang, ternyata pertemuan ini adalah pertemuan terakhir bagi mereka. Ibu Sayu akhirnya meninggal dunia.

Setelah itu hati Sayu menjadi sedih. Begitu pula Medasing lebih hancur lagi hatinya.

Kenyataan telah menyadarkan dirinya betapa kejamnya dia selama ini. Medasing jadi sangat menyesal.

Dia sangat malu dan berdosa pada Sayu dan keluarganya. Bahkan dia ada niat untuk menjauh dari Sayu.

Mulai saat itu hidup Medasing jadi berubah total. Dia menjadi seorang pengusaha sukses yang sangat penyayang pada siapa saja.

Medasing dan Sayu pun sudah menikah. Mereka membina rumah tangga bersama.

Lima belas tahun kemudian Medasing dan Sayu menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Ketika kembali dari Mekah, ramai orang-orang kampong menyambut kedatangan mereka.

Medasing kemudian merubah namanya menjadi Haji Karim. Bersama dengan Sayu, Haji Karim membina keluarga yang bahagia dan dermawan pada penduduk sekitar. Keluarga mereka menjadi terkenal karena kebaikannya.

Sinopsis Novel Belenggu – Armijin Pane

Sastra Angkatan Pujangga Baru

Karya: Armijin Pane

Ringkasan umum:

Ada sepasang suami istri yang menikah tanpa didasari cinta. Baik suami atau istri tidak melaksanakan tugasnya sebagai suami atau istri.

Ada juga hubungan sepasang kekasih yang juga tanpa cinta, sehingga seorang wanita ternodai dan menjadi masa lalu yang kelam.

Ada lagi kebohongan cinta, yaitu suami yang mencintai wanita lain karena tidak mendapat kasih sayang  dalam rumah tangganya.

Akhirnya, semua kisah cinta mereka menjadi sia-sia,  tidak ada cinta yang berujung bahagia, semua tokoh jadi sedih dan sepi.

Ada sebuah keluarga, suami bernama Dokter Sukartono dan sang istri bernama Sumartini atau panggilannya Tini.

Tapi sayang, sang suami tidak mencintai istrinya. Demikian pula sebaliknya, Sang istri juga tidak mencintai suaminya.

Pernikahan mereka tidak didasari oleh cinta. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karena kecantikan, kecerdasan, serta mendampinginya sebagai seorang dokter.

Sementara Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena dia pikir dengan menikahi seorang dokter, maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam.

Sukartono dan Sumartini tidak saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Itulah sebabnya keluarga mereka tampak hambar dan tidak harmonis.

Mereka sering salah paham dan suka bertengakar.

Keadaan rumah tangga ini makin memburuk, karena Sukartono terlalu sibuk merawat pasien sehingga dia tidak punya waktu untuk bersama Tini.

Akibatnya, Tini pun menjadi lebih aktif dengan kegiatan sosial, sehingga dia tidak mengurus rumah tangga.

Hal ini membuat Tono semakin menjauh, sebab dia ingin Tini menjadi istri tradisional yang bersedia menyiapkan makan dan menunggu dia di rumah.

Tapi mereka punya argumen masing-masing. Menurut Tono dia melakukan tugas dokter dengan tulus, menolong banyak orang, bekerja siang malam, dan bahkan bersedia tidak dibayar.

Tapi menurut Tini suaminya tidak mampu memenuhi hak sebagai seorang istri.

Hasilnya, mereka sering bertengkar. Masing-masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.

Ada seorang pasien wanita bernama Nyonya Eni yang mengaku sakit keras memanggil Dokter Sukartono.

Wanita itu meminta Dokter Sukartono datang ke hotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel tersebut.

Setibanya di hotel, Sukartono  merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil.

Yah adalah teman sekelasnya sewaktu masih bersekolah di Sekolah Rakyat.

Mereka lalu bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing. Yah mengatakan dia sudah menjadi janda.

Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan hidup di Palembang bersama suami pilihan orang tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun kedunia nista dan menjadi wanita panggilan.

Sukartono juga bercerita bahwa setelah tamat sekolah rakyat di Bandung, dia berpindah ke Surabaya dan belajar di sekolah kedokteran di sana.

Dia menikah dengan Tini karena kecantikannya.

Juga terungkap bahwa Rohayah secara diam-diam sudah sejak kecil mencintai Dokter Sukartono.

Dia sering menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono.

Setelah menemukannya, dia menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit.

Karena sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya.

Dia sangat mahir dalam hal merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang dilakukannya selama di Jakarta.

Akhirnya Sukartono dan Rohayah  mulai bertemu secara diam-diam dan sering pergi ke pelabuhan Tanjung Priok.
Ketika Tini pergi ke Surakarta untuk menghadiri kongres wanita, Tono mengambil langkah untuk hidup bersama Yah selama satu minggu.

Dokter Sukartono pun mulai tergoda akan rayuannya, karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, dan Sukartono pun sering mengunjungi Yah.

Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua.

Yah mampu memberikan banyak kasih sayang dan ketentraman yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya.

Waktu terus berjalan. Pada suatu hari Sukartnono yang merupakan penggemar musik keroncong, diminta menjadi juri suatu lomba keroncong di Pasar Gambir.

Di sana, dia bertemu dengan Hartono, seorang aktivis politik dan anggota Partindo, yang bertanya tentang istri dokter itu.

Beberapa hari kemudian, Hartono mengunjungi rumah Sukartono dan bertemu dengan Tini.

Ternyata Tini pernah menjalin hubungan dengan Hartono saat kuliah, sehingga mereka berhubungan seks.

Tapi Hartono kemudian memutuskan Tini dan meninggalkannya. Ternyata inilah masa lalu kelam Sumartini.

Di lain pihak, lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini.

Betapa panas hatinya ketika mengetahui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah.

Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi ke hotel tempat Yah menginap.

Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan dan menggangu suaminya.

Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah, perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba lenyap.

Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan seorang wanita yang lembut dan ramah.

Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya.

Dia tidak dapat berlaku seperti Yah yang sangat didambakan oleh suaminya.

Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya.

Dia merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya.

Selama ini dia selalu kasar pada suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk berpisah dengan Suaminya.

Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono. Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian.

Dokter Sukartono meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya.

Namun, keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya.

Akhirnya mereka bercerai. Tini lalu berpindah ke Surabaya dan mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu.

Hati Sukartnoto bertambah sedih karena juga akan ditinggal oleh Rohayah. Yah merasa bahwa mempunyai hubungan dengan Tono akan membuat citra baik Tono hancur, sebab latar belakangnya yang pelacur itu.

Rohayah akhirnya pindah ke Kaledonia Baru, dengan meninggalkan sepucuk surat dan sebuah piring hitam yang membuktikan bahwa Yah sebenarnya penyanyi favorit Tono yaitu, Siti Hajati.

Sekarang Tono ditinggal sendiri di Jakarta dan mulai bekerja sangat keras, dalam usaha untuk mengisi kesepiannya.

Dia juga mengisi harinya dengan membaca buku terutama buku kebatinan.