Legenda: “Asal Usul Tari Guel” (Cerita Rakyat Aceh)

Diposting pada

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Aceh yaitu legenda “Asal Usul Tari Guel” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anakanak.

Alkisah, dahulu pada suatu masa, ada 2 orang putra Sultan Johor, Malaysia. Mereka adalah Muria dan Sengede.

Sebagai dua orang bersaudara mereka sering bermain bersama.

Mereka juga rajin yaitu memelihara dan menggembalakan itik. Itik tersebut mereka bawa sampai ke tepi laut.

Sambil menggembala, mereka juga bermain layang-layang.

Tanpa diduga, tiba-tiba datang badai dah­­­­­­­­syat se­­­­hin­gga benang layang-layang me­reka pun putus.

Lalu layang-layang mereka diterbangkan oleh angin yang kencang.

Kemudian mereka berlari kencang mengejar layangan yang putus. Kedua bersaudara ini mengerahkan seluruh tenaga mereka, bahkan sampai ke tempat yang jauh.

Karena terus mengejar layang-layang, tanpa disadari mere­ka lupa bahwa pada saat itu me­reka sedang menggembala itik, hingga itiknya pun pergi entah ke mana.

Tapi usaha mereka sia-sia, kedua bersaudara ini gagal menemukan layang-layang mereka.

Setelah itu, barulah mereka teringat akan itik-itik mereka. Mereka pun mencari hewan piaraan tersebut.

Tapi apa hendak dikata, ternyata itik-itik itu tak terlihat lagi. Mereka pun pulang dengan ketakutan akan mendapat marah dari orangtua mereka.

Sesampainya di rumah, ketakutan mereka menjadi kenyataan. Dua bersaudara ini lalu dimarahi ayah mereka.

Mereka juga disuruh mencari itik-itik itu, dan tak diizinkan kembali sebelum itik-itik yang hilang itu ditemukan kembali.

Setelah itu pergilah kedua bersaudara ini. Mereka dengan sungguh-sungguh mencari itik yang hilang. Mereka lalu berangkat mencari mulai dari tepi laut tadi.

Mereka terus mencari, tapi belum ketemu juga. Hingga akhirnya mereka sudah berusaha selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan.

Mereka terus berjalan mencari itik yang hilang, tapi tak membawa hasil juga. Hingga akhirnya mere­ka tiba di Kampung Serule.

Mereka merasa kelelahan dan dengan tubuh yang lunglai mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar dan tertidur lelap.

Lalu pada esok harinya, pagi-pagi sekali mereka ditemukan oleh orang kam­pung dan dibawa menghadap ke istana Raja Serule.

Mereka lalu diantar menuju istana. Kemudian dua bersaudara ini menceritakan apa yang sudah mereka alami dan kerjakan.

Sang raja mendengar dengan seksama. Setelah itu sang raja bertitah bahwa dia akan menjadikan dua bersaudara tersebut sebagai anak angkat.

Waktu terus berjalan. Dua bersaudara sekarang tinggal di istana. Semenjak saat itu rakyat Seru­le hidup makmur, aman, dan sentosa.

Hal ini di­karenakan oleh kesaktian kedua anak tersebut.

Hingga akhirnya kabar kemakmuran rakyat Serule ini sampai juga ke telinga Raja Linge. Raja ini merasa iri dan dengki.

Raja Linge kemudian merencanakan niat jahat untuk membunuh kedua anak tersebut.

Raja tersebut lalu menyuruh berangkat pasukannya untuk membunuh dua bersaudara tadi.

Akhirnya, salah satu anak yang bernama Muria berhasil dibunuh. Kemudian jenazahnya di­makamkan di tepi Sungai Samarkilang, yang terletak di Aceh Tenggara.

Lalu pada suatu hari, raja-raja kecil ber­kumpul di istana Sultan Aceh di Kutaraja.

Raja-raja kecil itu mempersembahkan cap usur, semacam upeti kepada Sultan Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, Cik Serule datang bersama Sangede. Saat itu, Raja Linge juga hadir.

Saat Raja Serule masuk ke istana, Sangede menung­gu di halaman istana.

Ketika sedang menunggu ayah angkatnya, Sa­­ngede menggambar seekor gajah yang ber­warna putih.

Dia terus menggambar hingga akhirnya punya hasil yang bagus.

Ternyata lukisan Sangede ini menarik perhatian Putri Sultan yang ke­mu­di­an meminta Sultan mencarikan se­ekor ga­jah putih seperti yang digambar oleh Sangede.

Setelah ditanya oleh Sultan, lalu Sangede menceritakan bah­wa gajah putih itu berada di daerah Gayo, pa­dahal dia sebenarnya belum per­nah me­­­­lihatnya.

Berdasarkan informasi Sangede, saat itu juga Sultan me­me­rintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut gu­na dipersembahkan kepada Sultan.

Mendengar perintah Sultan, tiba-tiba Raja Se­ru­le dan Raja Linge menjadi benar-benar kebi­ngu­ng­­an.

Mereka saling bertanya bagaimana mungkin mencari se­suatu yang belum pernah dilihatnya.

Walau hanya menggambar sebuah lukisan, ternyata berakibat fatal. Kemudian Sangede menyesal karena bercerita bahwa gajah putih itu ada di Gayo hingga ayah angkatnya mendapat tugas mencari­nya.

Sangede terus menjadi gelisah. Dalam fikirannya hanyalah gajah putih. Hingga pada malam hari Sangede bermimpi bertemu dengan Muria yang memberitahu bahwa gajah putih itu berada di Samarkilang,

dan sebenarnya ga­jah putih itu adalah dirinya yang menjel­ma saat dibunuh oleh Raja Linge.

Sangede lalu menceritakan mimpi tersebut kepada ayah angkatnya. Setelah mendapat informasi dari Sangede,

dengan segera Sangede dan Raja Seru­le yang bergelar Muyang Kaya pergi ke Sa­mar­kilang seperti perintah dalam mimpi Sangede.

Sesampainya di tujuan, mereka mulai mencari gajah putih. Setelah mencari kesana kemari akhirnya mereka berdua menemukan ga­­jah putih itu sedang berkubang di ping­gir­­an sungai.

Kemudian dengan hati-hati Sangede dan Raja Serule mengena­kan tali di tubuh gajah yang nampak pe­nurut itu.

Namun pada saat akan ditarik, gajah pu­tih itu lari sekuat tenaga. Raja Serule dan Sa­­ngede tak mampu menahannya.

Mereka ha­nya bisa mengejarnya hingga suatu saat ga­j­ah itu berhenti di dekat kuburan Muria di Samarkilang.

Kemudian akhirnya gajah putih itu berhenti se­perti sebongkah batu. Memang terlihat aneh.

Gajah itu tak bergerak sedikit pun walau Sangede dan Raja Serule men­coba menghelanya.

Melihat itu, Sangede dan Raja mencoba berbagai cara supaya gajah putih itu mau beranjak dan menuruti perintahnya untuk diajak pergi ke istana Kutaraja.

Mereka berdua terus mencoba dan mencoba lagi. Tapi setelah sekian lama, ternyata usaha mereka tidak membuahkan hasil sama sekali.

Akhirnya Sangede pun duduk karena lelah. Dia merasa usaha mereka sia-siang.

Kemudian dia bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian gajah putih. Sambil bernyanyi, Sangede meliuk-liukkan tubuhnya.

Ternyata Raja Serule juga ikut menari bersama Sangede di depan gajah putih agar mau bangkit dan menuruti perintahnya.

Mereka berdua menari untuk beberapa waktu.

Tanpa disangka, ternyata akhirnya gajah putih itu ter­tarik juga oleh gerakan-gerakan Sa­nge­­de, dan kemudian binatang besar itu pun bangkit.

Melihat itu, lalu Sangede te­rus menari sambil berjalan agar gajah itu meng­ikuti langkahnya.

Hingga akhirnya, gajah itu pun meng­ikuti Sangede yang terus menari hingga ke istana.

Berdasarkan peristiwa ini, akhirnya Sangede menarik kesimpulan bahwa sesuatu ajakan kepada seseorang atau kepada binatang tidaklah harus dengan cara yang kasar.

Ternyata melalui cara yang halus dan indah bisa berhasil. Dengan sebuah tarian pun akhirnya gajah putih itu menuruti ajakannya.

Oleh karenanya, mulai saat itu Sangede dan Raja menamakan tarian mereka dengan sebutan Tari Guel.

Nama tari Guel tetaplah sama sampai sekarang dan banyak dikenal oleh orang Aceh.