Legenda: “Banta Berensyah” (Cerita Rakyat Aceh)

Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.

“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.

Ternyata memang luar biasa, kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah.

Tubuhnya yang tadi lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat.

Banta pun tahu bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar.

Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras.

Tapi tentu saja ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami sifat yang kasar dan perlakukan saudaranya yang kikir itu.

Ibu lalu berkata: “Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan.

Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja.

“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu.

Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.

Berulang kali si ibu berusaha untuk mencegahnya, tapi Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya.

Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin.

Dengan bergesar pergilah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.

Dia menghardik: “Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!”.

Bantah berkata: “Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!”

“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!”

saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.

Hati Banta sangat sakit dan kecewa. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian.

Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.

Ketika berjalan kaki ke rumah, Banta Berensyah mendengar berita dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara.

Sang Raja tersebut memiliki seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin.

Sang Putri memiliki kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang.

Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya.

Oleh karenanya dia dikasih nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya.

Banyak pangeran yang sudah datang meminangnya, tapi belum satu pun pinangan yang diterima.

Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.

Setelah mengetahui berita tersebut, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung.

Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya.

Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya.

Waktu sampai di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, B

anta Berensyah memberi tahu tentang hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya.

Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.

“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa.

Sekarang Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu.

Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.

Ibunya menatap penuh kasih, dia tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu.

Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.

Dia pun berujar: “Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua.

→ "Bersambung:" Awal | ← Sebelum | ... | 2 | 3 | ... | Lanjutannya → | Akhir