Legenda: “Malin Kundang” (Cerita Rakyat Sumatera Barat)

Ini adalah salah satu cerita rakyat Provinsi Sumatra Barat yaitu legenda “Malin Kundang” yang dikisahkan secara turun temurun.

Sering pula dilantunkan sebagai sebuah dongeng untuk pengantar tidur anak-anak.

Alkisah, dahulu pada suatu masa, di daerah pesisir barat Sumatra Barat hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin.

Keluarga ini terdiri dari Ayah, Ibu, dan seorang anak laki-laki.

Karena kehidupan keluarga ini sangatlah miskin, maka kemudian sang Ayah memutuskan untuk pergi merantau ke daerah yang jauh. Sampai ke pulau Jawa.

Ibu dan anak laki-laki yang bernama Malin Kundang melepas dengan duku hati.

Tapi mereka rela, karena untuk masa depan bersama, sang ayah memutuskan untuk pergi merantau.

Hari berganti hari. Mereka sekarang hidup berdua dan hanya bisa menunggu sang ayah.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari.

Bulan pun berganti bulan, ternyata ayah malin tidak kunjung datang. Mereka berpikir bahwa sang ayah belum berhasil di tanah rantau.

Mungkin sang ayah sedang mengumpulkan uang untuk mengganti ongkos kepergian, dan mencari ongkos untuk kepulangan.

Sekian bulan lama. Akhirnya sang ibu dan Malin Kundang hanya bisa menunggu dengan kesedihan.

Hingga kemudian si Malin ada niat pula untuk pergi merantau.

Berat hati sang ibu untuk melepas Malin Kundang, apalagi setelah kepergian Ayahnya yang dulu juga sudah pergi merantau, dan meninggalkan mereka.

Malin pun berusaha meyakinkan ibunya bahwa ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya.

Setelah dibujuk sekian lama, akhirnya sang ibu mau untuk melepas Malin Kundang untuk pergi merantau. Walau di dalam hatinya sangat sedih.

Hingga Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama dalam perjalanan ketika berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Hari berganti hari. Kemudian banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut.

Sungguh malang, karena Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut tesebut.

Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut.

Sedangkan si Malin Kundang nasibnya sangat beruntung karena dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, dia bisa selamat dari pembajakan tersebut.

Ternyata pada saat perampokan terjadi, waktu itu Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu. Sehingga tidak terlihat oleh para bajak laut.

Tinggallah Malin Kundang sendirian di atas kapal. Lalu dia terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai.

Dia sempat kebingungan karena tidak tahu daerah dia terdampar. Lalu dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai.

Ketika sampai di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya.

Ternyata Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya.

Berkat usahanya, sekarang Malin Kundang sudah memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang.

Banyak harta yang sekarang dia miliki. Karena dia sudah cukup dewasa, lalu Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Malin sudah mempunyai keluarga sendiri. Beberapa bulan kemudian Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak.

Tanpa diduga ternyata kapal tersebut merapat di kampung halaman yang dulu dia tinggalkan. Pada awalnya Malin tidak akan menduga hal ini akan terjadi.

Sementara itu, Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan.

Sang ibu berharap bahwa kapal tersebut terdapat Malin Kundang di dalamnya.

Mungkin saja dia bekerja pada kapal tersebut, atau mungkin menumpang kapal itu untuk pulang kampung.

Sang ibu kemudian mendekat, dan beliau melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal.

Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Beberapa saat kemudian, lalu Malin Kundang pun turun dari kapal. Mereka pun melihat-lihat situasi dan keadaan daerah yang mereka kunjungi ini.

Tiba-tiba mereka berjalan mendekati si ibu yang tadi sudah memperhatikan dari jarah jauh.

Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang.

Lalu dengang segera sang ibu berseru, walau pun suaranya agak parau:

“Wahai Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”

Karena sudah lama menunggu dan merasa sangat rindu, tak lupa sang ibu memeluk tubuh sang anak yang sangat dicintainya.

Tapi apa yang terjadi, ada hal yang mengejutkan. Dengan segera Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

Dengan angkuhnya Malin pun berkata:

“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja engkau mengaku sebagai ibuku”

Ternyata Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.

Melihat situasi yang yang gaduh ini, kemudian dengan suara yang heran sang istri Malin Kundang lalu bertanya:

“Wahai suamiku, apakah wanita ini adalah ibumu?”

Kembali Malin Kundang menjawab dengan sombongnya:

“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku”

Sejenak sang ibu hanya terdiam, hatinya sangat luka. Lalu kemudian setelah mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah.

Dalam hati sang ibu tidak menyangka bahwa anaknya sudah menjadi anak durhaka.

Hati nya makin sedih apalagi mengingat dia sudah lama hidup sendiri. Lama-lama si ibu pun menjadi marah.

Perasaannya tidak terbendung lagi, karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata:

“Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Beberapa saat kemudian mulailah terjadi hal-hal yang aneh. Terdengar angin bergemuruh kencang.

Setelah itu datang pula badai dahsyat yang makin mendekat dan kemudian menghancurkan kapal Malin Kundang.

Setelah seluruh kapal luluh lantak. Serta semua harta Malin Kundang sudah hancur. Semua yang ada di sana sudah porak poranda.

Sekarang suasana tiba-tiba menjadi hening dan sunyi. Hampir tidak ada suara.

Tiba-tiba ada yang aneh terjadi pada Malin Kundang. Tubuhnya perlahan-lahan menjadi kaku.

Setelah itu tubuh Malin tidak bisa bergerak, kemudian mengeras sampai akhirnya menjadi batu sebuah batu. Seperti batu karang laut.